Home / Sosok / Kisah AKBP Hastry, Polwan Berkelas Dunia yang Setia Berkutat dengan Mayat

Kisah AKBP Hastry, Polwan Berkelas Dunia yang Setia Berkutat dengan Mayat

Bermula dari ajakan seorang atasan melihat Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan tahun 2000 lalu, AKBP Sumy Hastry Purwanti tertarik dengan ilmu forensik. Kini namanya cukup dikenal di dalam dan luar negeri karena ahli di bidang forensik.

Ditemui di kantornya, Selasa (7/4/2015), Kasubbid Dokpol Biddokes Polda Jawa Tengah itu menceritakan pengalamannya menjalankan tugas di bidang Disaster Victim Identification (DVI). Sejumlah kasus besar ia tangani mulai bom Bali 1 tahun 2002 lalu hingga Malaysia Airlines MH-17 di Ukraina, dan baru-baru ini adalah AirAsia QZ8501.

Awalnya, wanita kelahiran 23 Agustus 1970 ini mulai tertarik mendalami ilmu forensik sejak tahun 2000 setelah diajak Kasat Reskrim Poltabes Semarang kala itu, AKP Purwoe Lelono. Ia mendapatkan saran agar mendalami ilmu forensik karena masih sedikit Polwan yang berminat.

“Waktu itu saya dokter poliklinik Poltabes Semarang. Diajak Kasat Reskrim ke TKP pembunuhan di Manyaran (Semarang). Pak Purwoe bilang untuk bantu tugas kepolisian, ambil bidang forensik saja. Sejak saat itu saya ternyata suka,” kata Hastry kepada detikcom.

Tahun 2005, Hastry lulus setelah mempelajari Spesialis Ilmu Kedokteran Forensik. Selama mengemban pendidikan, Hastry sudah terjun ke lapangan sejak bom bali 1 tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. Bahkan saat itu ia datang dengan inisiatif sendiri untuk mendalami ilmu.

“Bom Bali 1 itu waktu saya masih sekolah Forensik di Undip. Datang ke sana inisiatif sendiri, cari ilmu. Di sana langsung bantu-bantu. Banyak tim forensik dari luar negeri dan jadi kenal dengan senior-senior dari Indonesia,” kenangnya.

Sejak saat itu peristiwa pengeboman lainnya seolah mengekor yaitu bom Hotel JW Marriot tahun 2003, bom di depan Kedubes Australia tahun 2004, bom bali 2 tahun 2005, bom Hotel JW Marriot Kuningan Jakarta tahun 2009. Hastry sudah diperbantukan dalam tim DVI sejak sebelum lulus Spesialis Ilmu Kedokteran Forensik termasuk dalam bencana tsunami Aceh dan jatuhnya pesawat Mandala Airlines di Medan tahun 2005.

“Lulus forensik itu tahun 2005, langsung ada bom Bali 2, kemudian JW Marriot. Tahun 2006 ada kapal Senopati tenggelam, sudah banyak sekali penugasannya. Dulu masih sedikit sekali ahli forensik dari kepolisian,” tandas ibu dua anak itu.

100443_akbphastryJam terbang yang tinggi di bidang forensik, membuatnya sering diikutkan dalam penugasan tim DVI Indonesia ketika ada peristiwa besar di Indonesia dan luar negeri. Ia pun akrab berkutat dengan jenazah korban bom, bencana alam, kecelakaan, atau pembunuhan.

Tugas yang dilaukan Hastry yaitu mengidentifikasi jenazah untuk mengungkap identitas dan penyebab kematian. Tidak hanya jenazah utuh, Hastry dan timnya ahli mengungkap identitas korban yang sudah berupa bodypart atau kerangka.

“Kesulitannya itu jika sudah dalam pembusukan lanjut, tanda awal biasanya sudah hilang tersamar pada pembusukan kulit dan jaringan lunak. Maka harus hati-hati pada jenazah yang membusuk ketika ingin mengetahui penyebab kematian,” terangnya.

Menurut Hastry, penugasan di dalam negeri yang paling menantang adalah ketika menangani korban tragedi Sukhoi Super Jet di Gunung Salak, Jabar tahun 2012. Kondisi jenazah kala itu sudah berupa bodypart yang harus disusun sebelum teridentifikasi.

“Yang susah itu waktu Sukhoi. Korban terpecah menjadi body part kecil-kecil, sama seperti MH-17. Sedangkan korban AirAsia kemarin hancur karena air laut,” terangnya.

Bersama anggota tim DVI lainnya yang mayoritas laki-laki, Hastry menjalankan tugasnya dengan percaya diri. Bahkan kadang ia menjadi contoh anggota tim lainnya agar tidak mengeluh ketika tugas menumpuk dan terus menerus karena sebagai wanita dirinya pun tidak pernah mengeluh.

Rasa jijik dan takut tidak pernah dirasakan Hastry saat menghadapi jenazah dengan berbagai kondisi. Malahan ia seperti ketagihan saking cintanya dengan pekerjaan. Istri dari dokter kandungan, Dr. Hary Tjahjant, SP. OG itu bahkan menyimpan beberapa tengkorak dari temuan jenazah yang tidak teridentifikasi.

“Istilahnya kalau seminggu tidak autopsi itu meriang, hehe,” kata Hastry yang kini juga disibukkan sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta ini.

Angling Adhitya Purbaya – detikNews
Sumber: detik.com, Rabu, 08/04/2015

———-

AKBP Hastry dan Timnya Bikin Takjub Ahli Forensik Dunia dalam Tragedi MH17

AKBP Summy Hastry Purwanti (45) setia berkutat dengan mayat korban aksi kriminalitas atau kecelakaan. Segudang pengalaman telah ia dapatkan, baik di dalam maupun luar negeri. Polwan yang bertugas di Polda Jateng itu sempat ditugaskan dalam tragedi MH17 di Belanda. Aksi forensik Indonesia bikin takjub tim lain. Bagaimana ceritanya?

Malaysia Airlines MH17 jatuh di Ukraina pada Juli 2014 lalu. Hastry berangkat ke Belanda bersama 5 anggota tim DVI lainnya untuk melakukan autopsi di rumah sakit militer di Kota Hilversum, Amsterdam.

“Tim DVI Indonesia yang dikirim ada enam orang, saya perempuan sendiri. Lima lainnya laki-laki dari Mabes (Polri),” kata Hastry kepada detikcom di kantornya, Selasa (7/4/2015).

Ketika itu, ternyata tim DVI Indonesia mendapatkan bagian mengidentifikasi jenazah korban yang sudah berupa serpihan body part. Mereka pun dengan teliti membersihkan bagian-bagian tubuh tersebut kemudian mengambil sampel DNA dan mencocokkan dengan bagian lainnya lalu dijahit. Keahlian tim Indonesia tersebut cukup membuat takjub tim lainnya dari Jerman, Belanda, Inggris, Australia, Malaysia, Belgia, dan Perancis.

“Ya pada gumun (heran). Kita kebagian yang kecil-kecil dimasukkan dalam karung. Kita bersihkan terus ambil sampel DNA-nya. Disusun dan ternyata bisa, tidak ada kendala,” kata Hastry yang juga pernah menempuh pendidikan diploma forensik di University Groningen itu.

Tantangan lainnya saat menjalankan tugas di Belanda itu adalah bertepatan dengan bulan puasa. Ia menjalankan ibadah puasa tersebut sembari melakukan tugas di antara potongan jenazah. Bahkan waktu puasa di negeri kincir angin itu lebih lama yaitu 18 jam.

“Di sana itu bukanya baru jam 21.00, kira-kira puasanya 18 jam. Kita juga terpaksa Lebaran tidak dengan keluarga karena masih di sana,” ujarnya.

Hastry cukup bersyukur karena keluarga sangat mendukung tugas-tugasnya. Bahkan jika ada peristiwa besar yang terjadi, suami dan dua anaknya sudah tahu kalau kemungkinan besar Hastry akan ditugaskan.

“Waktu dengar ada kejadian MH-17 itu keluarga bilang bisa-bisa saya dikirim ke Belanda, eh, ternyata benar. Keluarga sudah tahu tugas dinas saya,” akunya.

“Bangga kalau ada kasus yang terungkap dari hasil identifikasi, kemudian jika jenazah dikenali dan dikembalikan kepada keluarga, atau ketika bisa mengungkap kebenaran apakah jenazah dibunuh, bunuh diri, atau kecelakaan,” imbuh ibu beranak dua ini.

Saat ini, Hastry menjabat sebagai Kasubbid Dokpol Biddokes Polda Jawa Tengah. Ia terlibat dalam identifikasi korban bom Bali 1 tahun 2002, bom Hotel JW Marriot tahun 2003, bom di depan Kedubes Australia tahun 2004, bom bali 2 tahun 2005, bom Hotel JW Marriot Kuningan Jakarta tahun 2009, Malaysia Airlines MH-17, dan AirAsia QZ8501.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: