Home / Artikel / Kilau dari Supernova dan Bintang Mati

Kilau dari Supernova dan Bintang Mati

Sejak zaman tembaga atau era chalcolithic sekitar 4.000 tahun sebelum Masehi hingga era digital saat ini, kilau emas tak pernah pudar. Tak hanya penambah kecantikan dan perlambang kekayaan, emas juga menjadi simbol kejayaan dan kedigdayaan.

Menjelang Lebaran, toko emas ramai dikunjungi pembeli. Selain untuk mempercantik penampilan, perhiasan emas juga banyak digunakan orang selama silaturahim untuk menunjukkan kekayaan dan keberhasilan walau ketika Lebaran usai perhiasan itu digadaikan atau dijual kembali.

Membeli emas tak melulu untuk dipakai. Sebagian orang membeli emas untuk investasi, seperti yang dilakukan saat harga emas turun pada akhir April hingga awal Juli lalu. Emas kini juga digunakan untuk keperluan medis, industri, pangan, hingga komponen elektronik.

Dibandingkan logam lain, harga emas jauh lebih mahal. Harga emas batangan PT Aneka Tambang per Selasa (30/7) mencapai Rp 503.000 per gram untuk pecahan 1 gram dan Rp 463.600 per gram untuk pecahan 500 gram. Sementara harga perak pada saat sama hanya Rp 12.700 per gram untuk ukuran 250 gram dan Rp 11.900 per gram untuk ukuran 500 gram.

”Harga emas mahal karena jumlahnya sangat sedikit di alam,” kata ahli genesis mineral yang juga Ketua Program Studi Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung, Syafrizal, Selasa (30/7).

Data Goldsheet Mining Directory (goldsheetlinks.com) menyebutkan, produksi emas dunia sejak tahun 1835-2011 hampir mencapai 170.000 metrik ton. Dari jumlah itu, 80 persen ditambang sejak tahun 1910 hingga sekarang.

Untuk tahun 2009 saja produksi emas dunia mencapai 2.572 metrik ton dan menempatkan Indonesia sebagai produsen emas ketujuh dunia dengan produksi 90 metrik ton.

Selain jumlahnya terbatas, demikian Syafrizal, ongkos penambangan dan pengolahan emas dari bentuk asal menjadi logam emas murni tidak murah. Persepsi manusia sejak dulu yang menganggap emas sebagai logam mulia turut membuat mahal harga emas.
Pembentukan

Emas termasuk unsur berat karena memiliki massa atom yang besar. Karena itu, emas di Bumi terletak di dekat inti Bumi. Sejumlah proses geologi membuat emas yang ada di magma Bumi naik ke kerak hingga permukaan Bumi.

Emas tidak ditemukan sebagai logam tunggal di alam. Ia biasanya berasosiasi dengan logam lain, seperti tembaga, seng, timbal, aluminium, atau molibdenum.

Menurut Syafrizal, emas terbentuk melalui proses mineralisasi atau terbentuknya mineral yang mengandung unsur-unsur logam tertentu. Mineralisasi berasal dari proses lebur kembalinya sebagian kerak Bumi menjadi magma (partial melting) akibat tumbukan kerak (lempeng) benua dan kerak samudra yang menghasilkan panas tinggi.

Magma yang cair itu akan bergerak ke permukaan Bumi melalui zona-zona lemah. Zona ini salah satunya terbentuk dari pecahnya batuan akibat tumbukan antarlempeng.

”Mineralisasi juga bisa terjadi akibat terbentuknya zona permeabel (dapat dilewati cairan) yang memungkinkan magma menuju permukaan,” katanya.

Sebaliknya, zona permeabel memungkinkan air di permukaan Bumi merembes ke dalam Bumi. Air itu akan bereaksi dengan magma Bumi hingga magma mengalami pendinginan dan membeku membentuk padatan yang mengandung mineral tertentu, termasuk emas.

Emas memang ada di dalam perut Bumi. Namun, dari mana Bumi mendapatkan emas?

Mantan peneliti di Institut Astronomi Max-Planck (MPIA) Heidelberg, Jerman, Dading Nugroho, mengatakan, beberapa detik hingga tiga menit setelah Dentuman Besar (Big Bang), alam semesta membentuk hidrogen, helium, dan litium sebagai unsur-unsur ringan.

Hidrogen menjadi bahan bakar pembentukan bintang di awal semesta. Selanjutnya, reaksi fusi dalam bintang akan mengubah hidrogen menjadi berbagai unsur lain, seperti helium, karbon, neon, dan oksigen. Unsur paling berat yang dibentuk dalam bintang adalah besi.

Unsur yang lebih berat dari besi, termasuk emas, dapat dibentuk melalui proses penangkapan neutron. Penangkapan neutron itu membuat inti atom suatu unsur menjadi tidak stabil hingga terjadi peluruhan dan menghasilkan unsur yang lebih berat dari besi.

”Peristiwa astronomi yang menyediakan fluks (aliran) neutron antara lain jet astrofisika dari bintang atau obyek masif, ledakan supernova, dan tabrakan dua bintang neutron,” katanya.

Selama ini, astronom meyakini supernova yang membentuk emas di semesta. Namun, pengamatan Edo Berger, peneliti dari Pusat Astrofisika (CfA) Harvard-Smithsonian, Cambridge, Amerika Serikat, terhadap semburan sinar gamma GRB 130603B yang berjarak 3,9 miliar tahun cahaya dari Bumi dan diumumkan pada Rabu (17/7) membuktikan, emas juga dibentuk dari tabrakan dua bintang neutron.

Tabrakan dua bintang neutron itu menghasilkan semburan sinar gamma yang menandakan obyek penghasilnya memiliki energi tinggi. Bintang neutron adalah bintang ultrapadat, sisa dari bintang raksasa yang mengakhiri hidupnya dengan ledakan. Jika satu sendok teh materi dari Bumi bermassa 5 gram, maka satu sendok teh materi bintang neutron memiliki massa 5 miliar ton.

Materi hasil tabrakan bintang neutron maupun supernova kemudian bertebaran di semesta. Jika ada satu pemicu, materi-materi itu bisa membentuk bintang baru beserta planet-planetnya. Proses ini yang membuat emas bisa sampai
di Bumi.

”Dari kandungan emas yang ada di Tata Surya, astronom memperkirakan, Bumi setidaknya tercipta lebih dari satu kali supernova,” kata Dading.

Namun, jika hanya mengandalkan emas dari supernova atau tabrakan bintang neutron saja, jumlah emas di kerak Bumi tidak akan sebanyak sekarang. Penelitian batuan dari Greenland berumur 3,8 miliar tahun oleh Matthias Willbold dan Tim Elliott dari Universitas Bristol, Inggris, pada 2011 menyimpulkan, jumlah emas di Bumi diperkaya oleh bombardir meteor pada lebih dari 200 juta tahun sejak Bumi terbentuk.

Bombardir meteor itu membawa 20 miliar ton bahan asteroid yang kaya aneka logam, termasuk emas. Namun, karena saat itu inti Bumi sudah terbentuk, emas tambahan tidak sampai jatuh ke inti Bumi.

”Pembentukan emas di Bumi bukan berasal dari proses tunggal, melainkan proses yang kompleks dan panjang,” ujarnya.

(SPACE/SCIENCEDAILY/WASHINGTONPOST/NATIONALGEOGRAPHIC)

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 2 Agustus 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: