Home / Berita / Ketika Para Guru Belajar Jurnalistik: Awalnya Ragu, Selanjutnya Baru Asyik

Ketika Para Guru Belajar Jurnalistik: Awalnya Ragu, Selanjutnya Baru Asyik

Ketika harus memulai mengerjakan sesuatu yang baru, sebagian orang merasa gamang sekaligus tertantang. Perasaan serupa juga dialami sebagian guru SMA Negeri 2 Bogor, Jawa Barat, yang mengikuti pelatihan jurnalistik, Sabtu (25/7).

Pelatihan menulis yang diadakan di aula SMAN 2 Bogor itu diikuti sekitar 50 guru. Pada pelatihan sekaligus berbagi pengalaman dengan pembicara dari harian Kompas ini, para guru membahas berbagai hal seperti kesulitan menulis sampai bagaimana menggunakan harian Kompas sebagai bahan belajar-mengajar karakter para siswa.

Kepala SMAN 2 Bogor Surya Setiamulyana bercerita, ide atau tema tulisan sudah muncul di kepala, tetapi untuk memulai menuliskannya ada saja kendalanya. “Kami tahu setelah mencoba (menulis) dan menjadikannya kegiatan sehari-hari, menulis itu bisa asyik juga. Akan tetapi, untuk memulainya itu, ada rasa malu, khawatir tidak aktual,” kata Surya.

Hal serupa terjadi saat awal dia memulai tugas sebagai guru. Dua tahun pertama mengajar, Surya mengaku belum percaya diri. “Bisakah saya menjadi guru yang baik? Bagaimana kalau siswa tidak tertarik dengan cara saya mengajar?” cetusnya. Namun, setelah dia jalani, ternyata menjadi guru itu mengasyikkan.

Oleh karena itulah, Surya berharap para guru SMAN 2 Bogor tidak khawatir untuk mulai menulis dan menularkan kebiasaan menulisnya kepada para siswa. Dia juga mengingatkan, kebiasaan menulis dan membaca itu tak bisa dipisahkan. Orang yang suka menulis biasanya juga rajin membaca sehingga pengetahuan mereka terus bertambah.

Koran masuk kelas
Pada sesi pembahasan buku “Karakter dan Informasi” yang mengaitkan tulisan-tulisan di media massa sebagai sumber bahan ajar sekaligus penanaman karakter baik bagi para siswa, sebagian peserta berbagi pengalaman.

Salah seorang guru SMAN 2 Bogor, Euis Emma Hermayani, mengatakan, untuk menanamkan kedisiplinan kepada para siswa, dirinya menggunakan sistem pengurangan nilai. “Kalau siswa tidak mengerjakan tugasnya, saya kurangi nilainya satu. Kalau siswa itu tetap saja tidak mengerjakan (tambahan tugas sebagai sanksi), saya berbicara langsung dengan siswa tersebut,” kata Emma.

Tugas selanjutnya bagi siswa sekaligus merupakan sanksi berikutnya merupakan kesepakatan antara guru dan siswa. “Lewat pendekatan seperti itu, biasanya siswa menyadari kesalahannya dan mengerjakan tugas yang menjadi kesepakatan kita bersama,” kata Emma menambahkan.

2de34c9957b44bd58e3b0ba7f3a48aebARSIP KOMPAS MUDA–Suasana pelatihan jurnalistik yang digelar Kompas MuDa di SMA Negeri 2 Bogor beberapa waktu lalu yang diikuti para guru. Para guru mengakui, awalnya menulis itu canggung, lama-lama menjadi asyik.

Sementara untuk menumbuhkan kebiasaan membaca para siswa, Tusiana, guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Bogor, antara lain meminta siswa untuk mencari berita yang sedang aktual kemudian meresensi atau memberikan komentar tentang isi berita tersebut.

Latar belakang
Susiawati, guru Bimbingan Konseling SMAN 2 Bogor, menyadari pentingnya hubungan yang baik antara guru di sekolah dan orangtua siswa. Karena itulah, disiplin diterapkan dengan memperhatikan pula latar belakang keluarga siswa.

“Kalau ada siswa yang berkali-kali tidak mengerjakan tugasnya, kami mencari latar belakang permasalahannya. Bisa jadi siswa memiliki masalah pribadi atau dalam lingkungan sosial maupun pergaulannya. Ada kemungkinan pula siswa punya masalah dengan orangtuanya,” katanya.

Iwan Siswandi, guru Bimbingan Konseling SMAN 2 Bogor, menambahkan, pada tahun ajaran baru seperti sekarang ini, pihaknya lebih memperhatikan kemungkinan adanya perundungan (bullying) di sekolah. Sejauh ini, bullying di antara siswa umumnya saling mengejek.

“Di sini guru berusaha memberikan pengertian kepada siswa bahwa bullying tidak boleh dilakukan, apa pun bentuknya. Kami menekankan, tidak boleh ada kekerasan fisik ataupun verbal di sekolah,” ujar Iwan.

Dalam pelatihan ini, para guru berlatih menulis dengan tema tanggung jawab atau toleransi. Ada guru yang menulis tentang tanggung jawab siswa dalam mewujudkan SMAN 2 Bogor yang bersih dan berwawasan lingkungan.

Adapun Dyah Ayu Saptarini, guru Seni dan Budaya SMAN 2 Bogor, bercerita tentang toleransi yang dikembangkan lewat kegiatan kesenian. Agar siswa menghargai temannya, guru menekankan pada orisinalitas karya masing-masing.

“Saya katakan kepada anak-anak buatlah karya yang sederhana saja, tetapi orisinal, tidak terpengaruh orang lain. Lewat karya seni, siswa belajar bertoleransi, memahami karakter masing-masing teman dan menghargai karyanya,” katanya.

SUSIE BERINDRA DAN CHRIS PUDJIASTUTI

Sumber: Kompas Siang | 4 Agustus 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: