Home / Berita / Kendaraan Listrik Jadi Tren

Kendaraan Listrik Jadi Tren

Sektor Transportasi Paling Boros Konsumsi Energi
Penggunaan listrik untuk mendukung aktivitas kehidupan, termasuk pada kendaraan, menjadi tren dunia. Itu seiring menurunnya biaya produksi listrik dari panel surya. Karena itu, target pemanfaatan listrik bagi kendaraan ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional.

“Kini, kendaraan listrik memakai energi yang dibangkitkan dengan bahan bakar fosil sehingga ada emisi gas buang di prosesnya,” ucap anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Rinaldy Dalimi, dalam diskusi bertema “Potensi Kendaraan Listrik sebagai Solusi Alternatif Mobilitas” yang diprakarsai MarkPlus Center for Transportation and Logistics, Sabtu (5/3), di Depok, Jawa Barat.

Kondisi itu berarti tidak ada bedanya dengan kendaraan saat ini yang langsung menggunakan bahan bakar minyak tanpa dikonversi ke energi listrik dulu.

Namun, sekarang tren dunia mengarah pada penggunaan energi listrik yang dibangkitkan secara bebas emisi untuk berbagai alat penunjang hidup, termasuk alat transportasi. Panel surya, misalnya, menjamin proses produksi listrik bebas emisi. Sementara itu, pemanfaatan bahan bakar minyak, termasuk bahan bakar hayati, belum bebas emisi karena ada proses pembakaran.

Listrik yang bersumber dari energi terbarukan akan kian murah. Dengan demikian, mesin kendaraan yang memakai proses pembakaran akan berganti ke mesin yang menggunakan energi dari baterai sebagai penyimpan daya listrik.

Harga listrik turun
Rinaldy memaparkan, pada 2010, harga 1 watt peak energi listrik dari panel surya secara global sekitar 30 dollar AS, tetapi sekarang sudah turun menjadi hanya 1 dollar AS per watt peak. Dunia pun menargetkan harga bisa terus turun hingga di bawah 1 dollar AS per watt peak.

Maka dari itu, sesuai permintaan DEN, pemerintah akan menyusun peraturan percepatan pemanfaatan energi listrik sebagai penggerak kendaraan bermotor. Kini, rancangan Rencana Umum Energi Nasional hingga 2050 tersedia dan mencakup target percepatan pemanfaatan listrik pada kendaraan. Angka itu masih didiskusikan. “Presiden akan memimpin rapat pleno. April kemungkinan final,” ujarnya.

Berdasarkan rancangan aturan terkini, Kementerian Perindustrian akan meminta industri mobil memproduksi mobil bertenaga hibrida listrik dan gas sebagai transisi menuju mobil yang sepenuhnya bertenaga listrik. Pemerintah juga secara bertahap mendorong produksi 2.200 mobil listrik dan 8 juta sepeda motor listrik pada 2025.

Selain itu, DEN juga meminta agar pemerintah menyusun kebijakan insentif untuk menggairahkan produksi mobil dan motor listrik dalam negeri. Pemerintah juga diminta secara bertahap meningkatkan jumlah angkutan umum bertenaga listrik menjadi 10 persen dari total angkutan umum pada 2025.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Dampak Transportasi Perkotaan Direktorat Bina Sistem Transportasi Perkotaan Kementerian Perhubungan Yusuf Nugroho mengatakan, pengembangan kendaraan listrik untuk transportasi darat penting. Oleh karena itu, dari semua moda transportasi, sekitar 88 persen penggunaan BBM ada pada transportasi darat, sedangkan sisanya pada angkutan penyeberangan, laut, dan udara.

Sektor transportasi
Berdasarkan Outlook Energi Indonesia 2014 dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, pangsa pengguna energi dengan kenaikan tertinggi pada 2000-2012 adalah sektor transportasi, yakni tumbuh 6,92 persen, diikuti sektor komersial (4,58 persen) dan industri (2,51 persen). Itu karena pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor selama 2000-2012, yakni sekitar 14,3 persen per tahun.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2010 terhadap DKI Jakarta, dari populasi 9.607.787 jiwa, 57,8 persen terkena penyakit akibat polusi udara. Sektor transportasi menyumbang sekitar 70 persen pencemaran di kota.

Terkait hal itu, menurut Direktur Pengelolaan Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dasrul Chaniago, hal yang harus dikejar lebih dulu saat ini adalah membuat para pengguna kendaraan pribadi mau beralih ke angkutan umum untuk mengurai kemacetan di perkotaan. Sebab, lalu lintas yang lancar akan memicu penghematan konsumsi bahan bakar sehingga menurunkan emisi gas buang kendaraan.(JOG/C07)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Maret 2016, di halaman 12 dengan judul “Kendaraan Listrik Jadi Tren”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: