Home / Berita / Kemitraan yang Mengubah Wajah SMK

Kemitraan yang Mengubah Wajah SMK

Hujan deras saat kapal tugboat yang dikemudikan Niken, siswa kelas XII bidang keahlian nautika, Sabtu (24/2) siang, hendak menuju pelabuhan di Sidney, Australia. Guncangan keras pun dirasakan para penumpang, salah satunya mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro.

Kapal tersebut bukanlah kapan sungguhan, melainkan ruang simulasi kapal atau full mission bridge simulator di SMK Wisudha Karya di Kudus, Jawa Tengah. Namun, guncangan tersebut terasa nyata. Semua “penumpang kapal” yang berada di belakang juru mudi merasakan terombang-ambing cukup keras.

Dari layar yang cukup lebar, semua orang juga dapat melihat situasi di sekitar pelabuhan Sidney yang sibuk dengan lalu-lalang beragam kapal. Dengan kerja sama M Adji Bakti sebagai kapten dan Alvin Taufiqi yang berperan sebagai mualim dua, pelayaran berlangsung mulus.

Meskipun di Kudus tak ada laut, dengan sarana dan prasarana yang cukup mutakhir dengan industri pelayaran berstandar International Maritime Organisation (IMO), siswa SMK nautika dan teknik kapal niaga mampu menguasai kompetensi keahlian yang dibutuhkan dalam pelayaran niaga. Mitra industri pelayaran di Jawa Timur pun siap menampung lulusan SMK ini, dengan gaji yang terbilang tinggi karena lulusan bersertifikat IMO.

Siswa bidang nautika SMK Wishuda Karya Kudus sedang mendemonstarikan simulasi kapal. Fasilitas ini simulator kapal yang memenuhi standar industri dan International Maritime Organisation (IMO) membuat sekolah ini mampu membekali siswa siap memasuki praktik pelayaran yang sesungguhnya.–Kompas/Ester Lince Napitupulu (ELN)–24-02-2018

Meskipun di Kudus tak ada laut, dengan sarana dan prasarana yang cukup mutakhir dengan industri pelayaran berstandar International Maritime Organisation, siswa SMK nautika dan teknik kapal niaga mampu menguasai kompetensi keahlian yang dibutuhkan dalam pelayaran niaga.

Sementara itu, di SMK NU Banat, Kudus, sejumlah perempuan berhijab dengan ragam pakaian muslim masa kini tampil percaya diri melenggak-lenggok di atas catwalk yang ada di sekolah ini, layaknya dalam sebuah pergelaran busana profesional. Tata panggung semakin ciamik dengan sorot lampu beraneka warna.

Para siswa yang tampil dalam peragaan busana memamerkan fashion muslim kelas butik yang memang dirancang oleh para siswa. Kompetensi siswa yang tadinya dikenal sebagai tukang jahit, dialihkan menjadi fashion design.

Tak sekadar piawai menjahit, siswa mampu mendesain busana untuk memenuhi industri butik maupun fashion modern. Alhasil, busana hasil jahitan siswa yang dulunya dihargai dalam hitungan seratus ribu rupiah kini bisa mencapai hingga dua juta rupiah.

Tak sekadar piawai menjahit, siswa mampu mendesain busana untuk memenuhi industri butik maupun fashion modern.

Dengan peralatan praktik mesin jahit hingga desain dan bordir digital yang sama dengan dunia industri, siswa tidak lagi canggung untuk masuk dalam industri fashion. Mereka pun mendapatkan ilmu langsung dari desainer ternama di Indonesia dan ikut dalam merancang busana untuk pagelaran fashion bergensgi di Tanah Air.

Masih di Kudus, di sekolah animasi di SMK Raden Umar Said (RUS), gedung sekolah dibangun menyerupai sebuah perusahaan animasi modern. Siswa dibawa dalam atmosfir perusahaan animasi yang kompetitif di tingkat internasional.

Di sekolah tersebut tersedia fasilitas pendukung untuk menghasilkan animasi, hingga mampu menghasilkan karya animasi tiga dimensi sekelas produksi Hollywood. Ruang belajar dan praktik pun didesain dengan kreativitas tinggi.

Fasilitas belajar di sekolah animasi SMK RUS di Kudus didesain secara kreatif. Sekolah ini menjadi unggulan dalam menyediakan tenaga kerja animasi 3D yang kini banyak dibutuhkan.
Kompas/Ester Lince Napitupulu (ELN)–23-02-2018

Jangan heran jika kita bisa melihat siswa terbenam asyik dengan laptopnya mengerjakan desian animasi berada dalam sebuah mobil yang unik, atau dalam pesawat dengan kursi kelas bisnis, hingga ruang duduk vespa beraneka warna.

“Siswa jadi betah di sekolah. Kalau tidak diusir, siswa tidak pulang-pulang. Sekolah didesain jadi tempat menyenagkan dan memacu lahirnya kreativitas,” kata Kepala SMK RUS Fariduddin.

Sekolah didesain jadi tempat menyenagkan dan memacu lahirnya kreativitas.

Bukan hanya mampu menghasilkan film animasi tiga dimensi buah karya para siswa angkatan pertama yang minim keterampilan, sekolah ini pun menerima pekerjaan animasi dari produksi di dalam dan luar negeri. Siswa pun jadi rebutan sejumlah perusahaan animasi. Pencapaian ini juga karena para guru dan siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari animator berkelas dunia.

Buah kemitraan
Kehadiran SMK-SMK yang mendekati suasana dunia industri sesungguhnya tersebut merupakan buah kemitraan dengan dunia usaha yang difasilitasi Djarum Foundation.

Direktur Program Bakti pendidikan Djarum Foundation Primadi H Serad mengatakan, peningatan kualitas pendidikan SMK harus dilakukan agar anak-anak daerah, terutama dari keluarga miskin, mempunyai akses pada pendidikan berkualitas sehingga siap kerja.

“Untuk membuat lulusan SMK kompetitif, kami mengkaji bidang keahlian yang permintaan di industri tinggi. Seperti SMK RUS, awalnya fokus di grafika. Namun, dalam perkembangan jaman, perminataan tenaga ini menurun. Namun, ada potensi besar dalam bidang animasi. Karena itu, tiap SMK harus berani menyesuaikan dengan apa yang menjadi kebutuhan dan trend industri,” kata Primadi.

Untuk membuat lulusan SMK kompetitif, kami mengkaji bidang keahlian yang permintaan di industri tinggi.

Sejak 2011 sudah 15 SMK di Kudus, baik negeri maupun swasta, yang memiliki program keahlian yang prospektif diserap dunia usaha dan industri. “Dalam menggandeng SMK, kami liat juga komitmen kepala sekolah, untuk yang swasta ditambah yayasan. Kami mengajak juga beberapa perusahaan atau industri yang sesuai di SMK untuk dapat menyelaraskan apa yang jadi kebutuhan mereka dan apa yang bisa disiapkan sekolah,” kata Primadi.

Peminat SMK di Kudus terus meningkat. Pada tahun 2014 sebanyak 4.002 siswa, di 2018 sebanyak 5.875. Jumlah proprosi siswa SMK juga lebih banyak dari SMA.

Keberhasilan Djarum Foundation Bakti Pendidikan mengubah wajah SMK di Kudus, ujar Primadi, dimulai dengan pengembangan kurikulum untuk bidang keahlian yang dipilih. Hal ini untuk memastikan kurikulum sesuai dengan harapan industri. Proses ini melibatkan profesional dari industri dan institut akademik yang serupa. Lalu, pelatihan guru difasilitasi pada keahlian yang dibutuhkan industri. Guru dilatih dan disertifikasi industri.

Untuk proses pembelajaran yang berkualitas, tentunya membutuhkan lingkungan belajar fisik yang berkualitas pula. Akses pada peralatan yang memenuhi standar industri dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan antara yang diajarkan di sekolah dngan yang dialami di dunia kerja.

Dengan kontribusi dari para donor, ada juga beasiswa khusus yang secara rutin diberikan ke siswa yang mencapai prestasi yang baik. “Dan yang terakhir Teaching Factory untuk praktik siswa dan juga jadi sumber pendapatan untuk sekolah sehingga bisa lebih mengembangkan sekolah,” kata Primadi.

Dengan kontribusi dari para donor, ada juga beasiswa khusus yang secara rutin diberikan ke siswa yang mencapai prestasi yang baik.

Primadi mengatakan dalam proses meningkatkan mutu SMK tidak semua sekolah punya semangat yang sama. Ada sekolah yang melesat maju, ada yang jalan di tempat. Kondisi ini terutama bergantung pada kepemimpinan kepala sekolah dan semnagat guru.

“Untuk yang sekolah swata lebih fleksibel sehingga lebih cepat berkembang. Terus-ternag untuk SMK yang negeri masih bnayak hambatan birokrasi yang menghalangi. Banyak kepala sekolah dan guru yang tidak kreatif melakukan terobosan,” kata Primadi.

Link and Match
Wardiman mengatakan prinsip link and match yang seharusnya ada dalam pendidikan harus dipahami bahwa sekolah dan guru harus memikirkan yang terbaik untuk siswa. Khusus untuk SMK, link and match melalui kemitraan yang baik antara sekolah dan industri. Pendidikan di SMK diarahkan pada kebutuhan industri sehingga siswa mudah terserap dengan penyiapan yang sesuai standar.

Wardiman mengatakan standar sekolah dan industri berbeda. Namun, sejak awal karena tujuannya untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja, sekolah harus memenuhi apa yang jadi standar dalam dunia kerja.

Standar sekolah dan industri berbeda. Namun, sejak awal karena tujuannya untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja, sekolah harus memenuhi apa yang jadi standar dalam dunia kerja.

“Soal disiplin dalam masuk kerja, ya harus on time. Standar untuk hasil kerja juga harus sesuai, kalau tidak sesuai ya dianggap gagal. Kalau guru kan kadang tidak tegaan untuk mengatakan hasil kerja siswa jelek. Karena itu, yang namanya kemitraan industri dan sekolah harus terjalin agar selaras. Dengan demikian SMK memang menghasilkan lulusan yang siap kerja,” jelas Wardiman.

Secara terpisah, Pengamat Pendidikan Jimmy Phaat mengatakan pendidikan di SMK belum mampu menghadirkan budaya industri dan budaya produktivitas. Pendidikan SMK masih dianggap sama seperti SMA. Tidak heran, jika fokus SMK yang lebih pada akses, justru menciptakan pengangguran dari lulusan SMK.–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 1 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: