Home / Berita / Kebun Raya Berbenah

Kebun Raya Berbenah

Kebun raya memiliki fungsi strategis untuk menunjang keseimbangan ekosistem di masa depan. Selain sebagai tempat konservasi, kebun raya juga berfungsi sebagai tempat penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. Sayangnya, kelima fungsi itu belum sepenuhnya terwujud. Untuk itu, kebun raya pun diminta untuk berbenah.

Peneliti utama dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Joko Ridho Winoto mengatakan, fungsi kebun raya di Indonesia saat ini masih sangat minim. Pemanfaatkan kebun raya masih sekadar sebagai tempat penelitian dan tempat wisata.

“Padahal, kebun raya punya urgensi yang lebih luas, yaitu menjadi penunjang keberlanjutan pembangunan,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XVII di Purbalingga, Jawa Tengah, Rabu (11/7/2018).

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Didik Widyatmoko (kanan) memberikan penjelasan terkait tumbuhan yang ada di Kebun Raya Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah kepada Pelaksana Tugas Sekretaris Utama LIPI Nur Tri Aries Suestiningtyas (tengah) dan Kepala LIPI Laksana Tri Handoko pada Senin (9/7/2018).

Indonesia memiliki 37 kebun raya. Dari jumlah tersebut, 30 kebun raya dikelola oleh pemerintah daerah, lima kebun raya dikelola LIPI, dan dua lainnya dikelola oleh universitas. Kebun raya yang dikelola LIPI adalah Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi Jawa Timur, Kebun Raya Bali, dan Kebun Raya Cibicong.

Menurut Joko, fungsi kebun raya memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Fungsi wisata misalnya, berkaitan dengan pendidikan dan penelitian. Wisatawan yang datang ke kebun raya seharusnya juga bisa sekaligus mendapatkan pendidikan yang disuguhkan melalui informasi tanaman-tanaman yang ada di kebun raya tersebut.

“Namun kenyataannya, fungsi pendidikan bagi wisatawan masih belum terlihat. Belum semua tumbuhan memiliki papan informasi yang lengkap. Jadi, pemberian papan ini menjadi salah satu penunjang yang harus ada di kebun raya,” katanya.

Tidak cukup itu saja, Joko mengatakan, penggunaan teknologi juga terus didorong untuk diterapkan di setiap kebun raya. Sebagai kebun raya percontohan, Kebun Raya Bogor sudah menerapkan aplikasi Jawara (jelajah, belajar, dan wisata di Kebun Raya Indonesia). Aplikasi ini ditujukan untuk membantu wisatawan mengetahui latar belakang dan informasi lengkap seputar tanaman yang ada di Kebun Raya Bogor. Harapannya, aplikasi ini bisa diterapkan dan diintegrasikan dengan seluruh kebun raya di seluruh Indonesia.

Penggunaan teknologi juga terus didorong untuk diterapkan di setiap kebun raya. Sebagai kebun raya percontohan, Kebun Raya Bogor kini sudah menerapkan aplikasi Jawara.

Sebelumnya, Ketua LIPI Laksana Tri Handoko dalam kunjungannya di Kebun Raya Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah pada Senin (9/7/2018) menegaskan, LIPI akan mendorong setiap daerah untuk memiliki kebun raya. Tujuannya, kebun raya juga bisa menjadi hutan ex-situ atau hutan buatan yang dibangun di luar habitatnya. “Jadi bisa menjadi tempat koleksi berbagai tanaman endemis yang bisa mewakili kondisi daerahnya,” katanya.

Karakter khas
Berdasarkan peta ekoregion atau geografis ekosistem, Indonesia terbagi menjadi 47 wilayah ekoregion. Setiap ekoregion ini memiliki karakter yang khas terkait tumbuhan yang akan dikonservasi. Idealnya, setiap wilayah ekoregion memiliki kebun raya tersendiri.

Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Baturraden Safrudin mengatakan, saat ini pembenahan terus dilakukan di kebun raya yang dikelolanya. Kebun raya yang masuk di ekoregion flora pegunungan Jawa ini dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Purwokerto namun masih di bawah bimbingan LIPI.

Setidaknya terdapat 730 spesies dan 3.200 spesimen tumbuhan yang ada di kebun raya ini. Salah satu tumbuhan endemik yang dikonservasi adalah Malaxis slametensis atau yang disebut anggrek tanah. Tumbuhan langka ini berbentuk seperti kantung semar. Di Kebun Raya Baturraden hanya ada dua tumbuhan koleksi tersebut.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Malaxis slametensis

“Dukungan pemerintah daerah sangat dirasakan dalam pengembangan kebun raya daerah. Pemerintah harus punya komitmen yang kuat. Kebun raya itu aset daerah yang sangat bernilai. Jangan hanya menjadikan kebun raya sebagai proyek yang satu kali selesai, tetapi menjadi sebuah program yang berkelanjutan,” katanya.–DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 12 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: