Pengembangan Riset; Sumsel Alokasikan 100 Ha untuk Kebun Raya Rawa

- Editor

Jumat, 4 April 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengalokasikan 100 hektar lahan rawa untuk kebun raya lahan basah yang pertama di Indonesia. Selain untuk pelestarian, kebun raya itu dimaksudkan sebagai pusat penelitian tanaman herbal pada ekosistem rawa.

Lahan disiapkan di kawasan Patra Tani, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), sekitar 90 kilometer dari Kota Palembang. Sebanyak 200 spesies tumbuhan lahan basah telah disiapkan untuk koleksi kebun raya itu, di antaranya jenis yang mulai langka, seperti bunga bangkai, yang ditemukan di Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muaraenim.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan, pembangunan kebun raya itu didasari keprihatinan kerusakan lahan yang mengancam plasma nutfah khas rawa. Lahan basah kaya tanaman dan satwa khas, di antaranya kerbau air, burung belibis, dan berbagai tanaman rawa.

”Kebun raya ini diharap melestarikan berbagai plasma nutfah sebelum hilang,” kata dia, di Palembang, Kamis (3/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konsep kebun raya tepat dalam bentuk konservasi. Berdasarkan undang-undang, kawasan yang telah ditetapkan sebagai kebun raya tak bisa dialih fungsi ke bentuk lain. Kini, Pemerintah Provinsi Sumsel telah menggandeng sejumlah lembaga penelitian tanaman dan kehutanan untuk merancang.

Kebun raya itu diharap membuat Sumsel jadi pusat penelitian lahan basah di Indonesia. Kebun raya yang akan dibangun 2015 dan selesai 2017 itu juga akan difungsikan sebagai sarana pendidikan dan obyek wisata.
80 persen terdegradasi

Peneliti Rawa pada Universitas Sriwijaya Momon Sodik Imanuddin memperkirakan, saat ini 80 persen rawa di Sumsel terdegradasi. Itu karena penimbunan rawa seiring pesatnya pembangunan perumahan, pusat perbelanjaan, dan perkebunan.

Oleh karena itu, langkah pelestarian mendesak. ”Pembangunan kebun raya lahan basah di perkotaan seperti ini patut diapresiasi dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” kata dia.

Namun, kata Momon, selain membangun kebun raya, pelestarian hutan rawa tersisa pun harus tetap dilakukan. Itu untuk menjaga keseimbangan ekosistem Sumsel secara keseluruhan.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Daerah Sumsel Ekowati Retnaningsih menjelaskan, 200 spesies tanaman yang telah terkumpul saat ini diperoleh dari ekspedisi tanaman lahan basah di 17 kabupaten/kota di Sumsel.

Menurut Retno, izin untuk membangun kebun raya itu sudah diperoleh dari Kementerian Kehutanan. Lahan itu awalnya kawasan hutan produksi dapat dikonversi (HPKV). Dari 100 hektar yang disiapkan, hanya 30 persen yang akan digunakan sebagai bangunan.

Saat ini, kebun raya itu memasuki tahap detail engineering design. Pembangunan dimulai tahun depan. Biaya pembangunan Rp 394 miliar diperoleh dari tiga sumber: APBN, APBD Sumsel, dan pihak ketiga, seperti kalangan pengusaha. (IRE)

Sumber: Kompas, 4 April 2014

Informasi terkait

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Berita ini 75 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB

Artikel

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:13 WIB

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB