Home / Berita / Kebakaran Lahan; Terperangkap dalam Kabut Asap

Kebakaran Lahan; Terperangkap dalam Kabut Asap

Siluet Jembatan Ampera yang hanya samar-samar terlihat dalam balutan kabut asap menyampaikan kegelisahan warga Kota Palembang. Setidaknya dalam dua pekan ini, ikon ibu kota Sumatera Selatan itu kerap sulit terlihat karena terhalang asap pekat. Setiap tahun bencana kabut asap terjadi, tetapi tahun ini dirasakan warga Palembang lebih berat daripada tahun-tahun sebelumnya.

”Terperangkap asap,” ujar Ida Idrus Syahrul (50), warga Palembang, menggambarkan perasaannya dua pekan ini. Saat asap pekat datang, yang biasanya terjadi pada pagi dan sore, ibu dua anak itu tak punya tempat tersisa untuk menghindar.

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan juga telah memasuki rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman. ”Sekarang sudah sangat tak nyaman. Di mana pun dikejar asap. Bangun tidur, langsung saya melihat asap di dalam kamar. Mau tidur, aroma asap menyengat tercium sampai panas tenggorokan rasanya,” kata Ida, Selasa (14/10).

Setiap pagi, sebagian warga Palembang mendapati lapisan abu tebal di perabot dan lantai rumah yang terbawa dalam kabut asap. Masker pun menjadi kostum wajib warga sambil berharap lapisan abu tak menembusnya.

Sebagian besar warga Palembang tak punya tempat sembunyi karena rumah dan pekerjaan mereka ada di kota itu. Mereka hanya bisa mengurangi kegiatan di luar ruangan. Namun, kenyamanan tinggal di dalam rumah pun terenggut oleh asap.

Gangguan kesehatan banyak dikeluhkan, seperti yang paling ringan adalah mata pedih, napas terasa berat dan sesak, serta stamina tubuh menurun. Belasan ribu warga Sumsel berobat ke rumah sakit atau puskesmas karena mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah pekatnya kabut asap. Kesehatan anak-anak, warga lanjut usia, dan penderita gangguan saluran pernapasan paling rentan terganggu asap.

Erin Trisnadika (22), karyawan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) II Cabang Palembang, sampai terpaksa dirawat di rumah sakit selama sehari karena asmanya kambuh saat kabut asap pekat melanda Palembang. Ia nyaris tak bisa bernapas dan merasa kesakitan. Ia juga tak masuk kerja selama dua hari.

Berdasarkan pengukuran Badan Lingkungan Hidup Sumsel, udara Palembang telah beberapa kali masuk dalam status berbahaya untuk makhluk hidup, dengan indeks standar pencemaran udara (ISPU) di atas 300 untuk particulate matter (ukuran partikel) di atas 10 mikron atau debu. Kualitas udara Palembang mencapai angka terburuk pada Minggu (12/10) dengan ISPU di atas 800.

Bukan hanya di Palembang. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya, Septiani Dyta Utari (23), yang menetap di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, merasakan penderitaan yang sama. ”Melakukan apa saja jadi tak nyaman. Belajar pun sulit untuk konsentrasi,” katanya.

Selama setidaknya sebulan ini, lahan gambut kawasan Indralaya dan lahan di sekitar kampus Universitas Sriwijaya tak henti-hentinya terbakar.

Kondisi serupa dialami warga Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Lebih dari sebulan, kabut asap menyelimuti kota itu. Anak sekolah diliburkan, penderita ISPA meningkat, dan penerbangan pun terganggu.

Maryati (32), warga Mendawai, Palangkaraya, menginformasikan, ”Anak saya seminggu ini sesak napas, batuk-batuk, dan lemas. Sudah diberi obat batuk, tetapi tetap belum sembuh. Pagi hari saat jendela belum dibuka, asap sudah masuk rumah.” Maryati menuturkan itu ketika memeriksakan anaknya, Keyla (3), di Puskesmas Pahandut, Selasa.

Keyla tampak lesu dan murung. Berulang kali kepalanya bersandar di bahu Maryati dan terkadang minta dipeluk Ikamsyah (32), ayahnya. Keyla tidak rewel, tetapi matanya berair seakan menahan pedihnya polusi kabut asap. ”Bibirnya pecah-pecah dan minumnya hanya sedikit-sedikit,” ujar Maryati.

Ikamsyah yang bekerja sebagai pekerja bangunan mengeluhkan hal yang sama. ”Saya juga sudah lama pilek dan flu, tidak sembuh-sembuh. Seharusnya pemerintah bisa mencegah kebakaran lahan dan kabut asap ini,” katanya.

Puskesmas Pahandut setiap hari rata-rata menerima lebih dari 20 orang yang memeriksakan diri terkait ISPA. Jumlah penderita ISPA di Palangkaraya pada 6-11 Oktober 2014 mencapai 960 orang. Jumlah itu naik dari minggu sebelumnya, 824 orang.

Gerakan warga
Buruknya kondisi akibat kebakaran lahan dan hutan yang tak kunjung henti ini membuat warga tak berdiam diri. Septiani Dyta Utari menyusun petisi menolak kabut asap yang ditujukan kepada Gubernur Sumsel Alex Noerdin. Petisi diunggah di internet melalui www.change.org atas nama Dee Hwang, yang merupakan nama pena Septiani sebagai penulis dan pelukis.

”Sudah lima tahun saya tinggal di Indralaya, tetapi belum ada perubahan signifikan untuk lahan telantar di sisi jalan lintas timur Palembang-Indralaya. Ujung-ujungnya, setiap tahun lahan itu terbakar dan masyarakat jadi korban,” kata mahasiswi asal Lahat, Sumsel, itu.

Hadi Jatmiko, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, juga menyusun petisi menolak kabut asap serta mencegah pembakaran hutan dan lahan. Anak Hadi yang baru berusia 1,5 tahun juga menderita batuk, demam, dan sesak napas di tengah pekatnya kabut asap.

Petisi bertajuk ”Kami Bukan Iwak Salai, Cabut Izin dan Pidanakan Perusahaan Pembakar Hutan Lahan” (iwak salai berarti ikan asap) itu juga diunggah melalui situs yang sama.

Petisi ini juga ditujukan kepada Gubernur Sumsel, selaku pihak yang berwenang membuat kebijakan, untuk bertindak tegas terhadap kebakaran lahan dan hutan di Sumsel.

Ada pula petisi lain, seperti Sumatera Selatan harus bebas asap, yang diunggah 97,5 Play FM Palembang.

Petisi-petisi itu mempunyai satu harapan, yaitu ketegasan pemerintah untuk menindak pembakar lahan dan hutan sehingga kejadian ini bisa dicegah pada masa mendatang. Selama ini lemahnya penindakan dan pemberian sanksi dinilai menjadi akar yang membuat bencana ini terus terulang setiap tahun. (Irene Sarwindaningrum/ Megandika Wicaksono)

Sumber: Kompas, 15 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: