Home / Featured / Karlina Leksono Supelli: Pemikiran Tuhan, dan Manusia yang Bertanya

Karlina Leksono Supelli: Pemikiran Tuhan, dan Manusia yang Bertanya

Pengantar: Akhir-akhir ini istilah kosmologi baru ramai diperbincangkan. Terutama dalam kaitannya dengan religiositas baru dan kemungkinan kelahiran model “agama baru”. Di rak-rak berbagai took buku pengunjung dengan mudah menjumpai berbagai buku yang memasang kata “kosmologi” sebagai judul. Tapi makhluk seperti apa kosmologi itu? Menurut Karlina Leksono-Supelli, astronom yang belakangan lebih kental menggeluti kosmologi, kosmologi sebenarnya adalah cabang dari sains yang mensyaratkan penguasaan fisika dan matematika untuk pendalamannya. Namun dalam pengertian yang luas dan popular, kosmologi juga dipahami sebagai gabungan berbagai bidang sains, agama, seni dan juga filsafat. Mengutip Karl Popper, peserta program Doktor pada program Pascasarjana UI ini mengatakan bahwa kosmologi senantiasa membangkitkan masalah filosofis yang menarik, karena pertanyaan yang diajukan terkait dengan keberadaan manusia dan peran kesadaran dalam alam Semesta. Berikut kutipan perbincangan dengan istri Dr Ninok Leksono Darmawan, MA dan ibu dari dua anak –Fitri Armalivia dan Angga Indraswara—di tengah kesibukannya mempersiapkan ldui Fitri.

Mungkin Anda bisa menceritakan awal ketertarikan Anda dengan kosmologi yang bagi kebanyakan orang tidak populer?

Saya lulus dari ITB jurusan Astronomi, FMIPA. Ketika menulis skripsi, kami dibagi dalam bidang-bidang. Ketika itu saya memilih kosmologi. Waktu itu saya mempelajari tentang black-hole (Iubang hitam), dan saya sempat belajar ke Inggris untuk memperdalam pengetahuan tentang itu.

Di Inggris saya mengambil space science, tapi yang masuk dalam wilayah kosmologi. Yang saya pelajari adalah wilayah ekstragalaksi yang jauh-jauh, data itu berkaitan dengan struktur alam semesta ini.

Buat saya kosmologi menarik karena kita tidak hanya bekerja dengan benda astronomis, dengan galaksi, dan sebagmnya. Bukannya itu tidak menarik. Tapi dengan mempelajari struktur alam semesta itu saya menjadi bertanya mengapa strukturnya seperti ini, dan mengapa manusia hadir di alam ini. Kalau kita bicara soal alam semesta kita memang bicara dalam skala besar.

Jadi itulah, orang mengenal saya sebagai astronom. Padahal saya tidak membuat pengamatan dalam bidang itu. Minat saya adalah pada kosmologi. Kadang-kadang saya jadi bingung sendiri sebetulnya saya ini apa? Tapi saya sendiri nggak berani menyebut diri saya kosmolog. Menurut saya kosmolog itu ya seperti Stephen Hawking atau de Witt.

Kosmologi memang bukan ilmu yang popular. Sering disebut sebagai “ilmunya orang-orang tua.” Dan kalau pun sekarang ini banyak orang bicara soal kosmologi, maka pengertian kosmologl di situ sangat populer.

Sebetulnya apa sih yang disebut kosmologi itu?

Kosmos artinya keteraturan. Jadi kosmologi adalah segala sesuatu yang terkait dengan keteraturan.

Kalau menurut definisi teknisnya, kosmologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur alam semesta. Jadi struktur dalam skala besar, menyangkut soal ruang dan waktu. Kosmogoni –yakni ilmu tentang asal-usul alam semesta– termasuk dalam wilayah kosmologi.

Sedangkan dalam definisi popular kosmologi adalah segala sesuatu yang menyangkut keberadaan manusia dalam alam semesta. Jadi merupakan gabungan dari ilmu pengetahuan, agama, seni, dan filsafat. Yang penting di sini adalah pandangan tentang alam semesta.

Apakah itu artinya yang sekarang populer disebut pandangan dunia itu termasuk kosmologi?

World-view atau pandangan dunia bisa disebut sebagai bagian kosmologi. Seorang seniman bisa memiliki pandangan dunia sendiri tentang alam semesta, yakni tentang keindahan dan harmoni. Seorang rohaniwan memiliki pandangan dunia yang lain, yang membuatnya memandang dunia ini tak bisa dilepaskan dari kehidupan setelah mati. Seorang ilmuwan juga mempunyai definisinya sendiri, bahwa alam itu bisa dipelajari, ada hukum-hukumnya, ada keteraturan, dan seterusnya.

Lalu kosmologi yang Anda sendiri pelajari seperti apa?

Kosmologi yang saya pelajari menyangkut struktur ruang dan waktu. Awalnya dari fisika tapi sekarang bercampur dengan filsafat. Filsafat itu sendiri adalah ilmu yang sangat mendasar. Di sini diperlukan pemikiran-pemikiran logis seperti epistemologi.

Jadi di mana perbedaan antara kosmologi fisika dengan kosmologi filsafat?

Di dalam filsafat kita mengenal apa yang disebut argumen kosmologis. Membuktikan adanya Tuhan misalnya, bisa dilakukan dengan memakai argumen kosmologis. Tapi sekarang ini orang tahu bahwa kosmologi itu sebenarnya adalah cabang dari sains.

Kalau begitu beberapa buku yang memakai judul “kosmologi” sebenarnya adalah buku filsafat, karena tidak menyentuh sama sekali soal-soal kosmologi modern.

karlina.Benar, karena memang ada terma yang sama yang digunakan untuk menunjukkan hal yang berbeda.

Pernah ada yang mangatakan pada saya bahwa kosmologi itu cabang ilmu yang “kuno” sekali. Sekarang orang sudah tidak bicara itu lagi dari segi filsafat, katanya. Mungkin yang dipikirkan adalah argumentasi kosmologis.

Tapi kalau kita mengacu pada Popper, misalnya dalam bukunya Postcript to the logic of Scientific Discovery, ia menyebut bahwa ada satu masalah yang selalu menarik perhatian orang, yaitu kosmologi. Dan kosmologi itu dari segi sains juga menyangkut persoalan keberadaan kita di alam ini. Termasuk pengetahuan dan cara perolehannya. Jadi kosmologi adalah keseluruhan keberadaan kita dan pengetahuan kita. Itu yang dikatakan Popper.

Jadi saya kira kalau sekarang orang membicarakan soal kosmologi, maka itu artinya kosmologi sebagai bagian dari sains.

Apa sebenarnya yang menarik dari kosmologi sehinga sekarang banyak buku-buku yang menggunakan judul kosmologi?

Sebenarnya di Barat sudah dari dulu orang bicara soal kosmologi. Hanya mungkin sekarang, ketika buku-buku itu masuk ke Indonesia, dan ada Stephen Hawkinng dan dengan bukunya A Brief History of Time yang setiap orang merasa perlu memilikinya, kosmologi tiba-tiba jadi populer. Padahal sejak tahun 20-an dan 30-an di Barat orang sudah mulai bicara soal hubungan filsafat dengan fisika.

Di sini kosmologi popular lewat buku-buku seperti The Mind of God dan God and the New Physics dari Paul Davies. Dari situ orang melihat bahwa ternyata sains ada hubunganya dengan agama. Kemudian berkembang lewat tulisan-tulisan yang lebih popular di koran-koran.

Apa yang ramai di koran tahun ‘95 kemarin sebetulnya sudah pernah saya tulis 10-13 tahun lalu di majalah Aku Tahu. Tapi waktu itu tak banyak orang yang memberikan perhatian seperti sekarang ini. Saya nggak tahu apakah ini bisa dikaitkan dengan fenomena kebangkitan agama yang berkembang di mana-mana di kalangan kelas menengah.

Anda sendiri bagaimana menghubungkan antara perkembangan kosmologi baru ini dengan kesadaran keberagamaaan?

Saya melihat yang begin ini sebagai sesuatu yang sangat personal, sangat pribadi. karena dalam soal religiositas, sains juga bisa berakibat pada hal yang sebaliknya. Artinya bisa juga karena sains orang menjadi sekular. Tuhan bisa menjadi tidak ada karena semua hal bisa dijelaskan melalui teori kuantum.

Sekarang ini yang sebenarnya terjadi adalah munculnya pendekatan baru dalam sains. Tidak hanya dalam fisika, tapi juga dalam biologi. Pendekatan baru tersebut memunculkan kembali manusia, dan ini memicu tumbuhnya optimisme. Yang mungkin dinilai menarik adalah bahwa pendekatan yang seperti itu justru muncul dari Barat yang selama ini dikenal sekular.

Mungkin ini suatu pertanda bahwa pemikiran dalam ilmu pengetahuan bisa menjelaskan sesuatu yang tadinya simbolik, yaitu wahyu. Ambil contoh begini: dalam Al Qur’an ada surah al Dukhan, yang diartikan sebagai kabut. Semula kita tidak mengerti kabut apa itu. Tapi belakangan, melalui ilmu astronomi, kita tahu bahwa yang dimaksud kabut di situ adalah nebula antar bintang.

Demikian juga dengan firman Allah yang mengatakan bahwa langit dan bumi semula bersatu kemudian dipisahkan. Semula kita tidak paham maksudnya.Tapi belakangan, dengan pemahaman yang semakin berkembang mengenai proses pembentukan bintang dan alam dan alam semesta, kita jadi tahu bahwa materi yang membentuk matahari, bumi, dan bintang-bintang di langit pada awalnya adalah satu, yaitu kabut antar bintang.

Jadi sekarang yang simbolik dari kitab suci dan semula tidak diketahui arti fisisnya, dengan bantuan ilmu pengetahuan bisa dijelaskan.

Saya selalu menganggap ada dua jalan di depan kita. Saya nggak bisa bilang bahwa dengan sains kita dibantu dan dibimbing, karena itu tergantung orangnya juga. Jadi sangat personal.

Dua jalan itu ada dimana pun, Dalam hal kosmologi, kedua jalan ini adalah sains dan agama. Keduanya memakai pendekatan yang berbeda. Dalam sains harus ada metode dan dan pembuktian, sementara dalam agama ada iman yang mewajibkan kita untuk pertama-tama menerima ajaran agama. Sains tidak bisa didekati dengan iman. Misalnya kita yakin dulu bahwa satu teori itu benar. Tidak bisa begitu, karena sains akan berantakan. Dalam sains kita justru harus memulai dengan keraguan.

Kalau sekarang kita melihat sains dan agama itu sejalan maka itu hanya karena penemuan-penemuan dalam sains bisa dipakai untuk menjelaskan agama.

Bukannya saya skeptik. Tapi memang tergantung pada orang yang bersangkutan. Stephen Hawking, misalnya, ikut mengembangkan prinsip antropik –yaitu prinsip dalam kosmlogi yang menyatakan bahwa alam semesta demikian teramati karena manusia hadir di dalamnya dan mengamati tapi dia termasuk orang yang skeptis terhadap apa yang disebut sebagai kosmologi baru.

Jadi maksud saya kita tak usah terkesima dulu dengan apa yang disebut kosmologi baru. Karena, seperti yang dikhawatirkan oleh kalangan filsuf ketuhanan, nanti malah tercipta agama baru dalam mana kalangan ilmuwan mengklaim bahwa mereka berhasil menemukan Tuhan melalui sains. ini khan nggak benar.

Tapi selama ini klaimnya kan begitu?

Maunya memang begitu. Itu yang membuat kalangan filsuf mengtakan agar para ilmuwan ini tidak menutup terhadap filsafat. Jangan-jangan nanti malah yang terjadi ada sekelompok ilmuwan yang bersusah payah mendaki gunung terjal, ternyata ketika mereka sampai ke puncaknya para filsuf dan teolog sudah lebih dulu duduk di situ dan mendapatkan apa yang dicari-cari oleh kalangan ilmuwan.

Tapi kita tidak boleh juga menutup diri terhadap usaha yang dilakukan kalangan ilmuwan dalam menemukan apa yang mereka sebut Intelligent Being atau Consciousness (Kesadaran) dalam alam semesta. Mereka tidak mau menyebut itu Tuhan, karena mereka memang tidak berhak untuk menyebut itu Tuhan. Sejauh ini kalangan ilmuwan hanya berani mengklaim bahwa apa yang mereka lihat dalam alam semesta –keteraturan dan kebetulan-kebetulan– itu ternyata sesuai dengan pandangan bahwa alam semesta tidak lahir begitu saja dalam suatu kebetulan dan seakan-akan tidak ada kesadaran.

Hanya itu yang mereka berani klaim. Mereka nggak bisa, dan memang nggak mau membuktikan adanya Tuhan lewat sains.

Hawking juga hanya sebatas mengatakan bahwa kalau Theory of Everything itu berhasil ditemukan mungkin kita bisa tahu pemikiran Tuhan ketika alam semesta itu diciptakan. Yang dimaksud oleh Hawking adalah hokum-hukum alam yang ditetapkan ketika alam semesta diciptakan. Tapi kemudian orang-orang awam geger dan menganggap Hawking ingin tahu pikiran Tuhan.

Kami yang bekerja di bidang kosmologi tahu bahwa yang sebenarnya dimaksud Hawking sebenarnya adalah bagaimana hukum alam itu terbentuk. Karena hukum alam itu sekali ia terbentuk, selamanya tidak akan berubah. Kalau hukum alam berubah semuanya bisa kacau-balau. Bisa-bisa kita hari ini tenang-tenang, tapi besoknya tabrakan.

Huknm alam bisa dipelajari, intelligible, dan diamati justru karena keteraturannya. Keteraturan itu ditentukan ketika penciptaan, atau yang kita kenal sebagai big bang. Dengan demikian yang dimaksud oleh Hawking adalah kalau pembentukan hukum alam itu ketemu manusia bisa melacak pemikiran Tuhan ketika penciptaan.

Kemudian muncul pertanyaan berikutnya seperti apakah Tuhan punya pilihan dalam proses penciptaan. Dalam bahasa ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah apakah ada kemungkinan kombinasi berbagai parameter yang akan melahirkan alam semesta yang berbeda tapi tetap dengan kehidupan.

Kombinasi yang sekarang terjadilah yang melahirkan manusia. Kalau satu saja mata dari rantai yang panjang dan rumit yang berusia 12 milyar tahun itu putus, niscaya manusia tidak akan hadir di dunia ini. Mungkin ada dalam bentuk Iain, tapi kita dalam bentuk yang sekarang ini tidak ada. Bahkan bumi pun mungkin tidak ada.

Jadi itu yang dimaksud dengan “pilihan Tuhan.” Sehingga sama sekali tidak bermaksud kurang ajar dengan mempertanyakan apakah Tuhan itu punya pilihan atau tidak.

Di situlah menariknya kosmologi bagi saya. Ada beragam kombinasi, tapi kenapa kombinasi ini yang melahirkan manusia. Dan kenapa manusia mesti hadir. Anda bisa bayangkan kalau bumi ini isinyamelulu cacing dan gajah, atau ikan. Alam semesta toh tidak sadar.

Nah, dengam hadirnya manusia seluruh alam menjadi sadar. Saya nggak mengklaim bahwa manusia adalah satu-satunya kehidupan dengan di alama semesta ini. Kita tidak tahu itu. Tapi sejauh ini kita tahu bahwa manusia itulah yang sadar. Ketika kesadaran ini hadir dalam salah satu planet di alam semesta tiba-tiba seluruh alam semesta ikut sadar dan bertanya dengan dirinya sendiri. Jadi ketika manusia bertanya tentang dirinya, para kosmolog menganggap bahwa alam semesta juga bertanya tentang dirinya.

Apakah itu artinya pemikiran seperti yang dikembangkan oleh Capra atau Zukav bahwa perkembangan baru dalam fisika ini akan mengarah pada mistisisme bisa dibenarkan?

Saya tidak bermaksud membenarkan dalam arti bahwa dalam sains itu ada metode. Orang seperti Zukav mungkin melihat keserupaan antara gerakan-gerakan partikel itu dengan gerakan mistis Wu ‘Li, sehingga dia memberi judul bukunya The Dancing of Wu ‘Li Master.

Para ilmuwan dididik dengan bahasa sains abad 20 yang dimulai dengan positivisme, di mana ada Subyek, Aku, yang mempelajari Dunia, Obyek. Sejak masa Descartes, Subyek sudah terputus sama sekali dari Obyek. Yang ada hanya Obyek, dan sains itu harus obyektif. Fakta itu hanya sejauh yang berkaitan dengan inderawi, karena kita hanya bekerja dalam ruang dan waktu.

Pendeknya bahasa sains abad 20 adalah bahasa Positivistik. Subyek sama sekali tidak berperan dalam perolehan pengetahuan, Apa yang ada dalam kepala Subyek ketika ia mendapat pengetahuan sama sekali tidak diperhitungkan. Epistemologi berubah menjadi filsafat ilmu, yakni cara-cara memperoleh ilmu pengetahuan dan ciri-ciri ilmu pengetahuan. Jadi berubah menjadi metodologi saja.

Tapi tiba-tiba berkembang pemikiran bahwa ternyata Subyek itu terlibat dalam menciptakan realitas. Realitas mikroskopik. ltu tidak ada tanpa adanya pengamatan Subyek. Ini dalam bahasa Positivistik dianggap nonsense, karena bisa menghasilkan dua interpretasi.

Saat ini ada pendekatan-pendekatan baru dalam fisika yang tidak lagi positivistik. Ini yang kemudian dikembangkan dalam pemikiran Gany Zukav dan Fritjof Capra. Tapi dari segi metodologis saya nggak bisa bilang bahwa itu mengarah kepada mistisisme. Karenamenurut saya itu tetap dua wilayah yang berbeda. Hanya saja dalam fisika modern pendekatan yang terlalu Positivistik seperti itu memang sudah mulai ditinggalkan.

Apakah Anda setuju kalau dikatakan para filsuf sebenamya tidak mengerti kosmologi karena mereka tidak mengerti matematika?

Ya, ini memang satu problem. Dulu belum ada pembagian cabang ilmu seperti sekarang. Sehingga seorang ilmuwan adalah juga seorang filsuf. Newton dulu ahli fisika dan kosmolog yang punya model alam semesta, sekaligus seorang filsuf yang mendalami pamikiran-pemikiran filsafat. Sekarang nggak begitu.

Menurut saya seorang kosmolog memang harus punya modal di bidang fisika dan matematika, Untuk bisa bicara soal ruang dan waktu, pengetahuan di kedua bidang itu menjadi sangat penting.

Tentang Theory of Everything yang Hawking optimis kita belum menemukannya dalam 20 tahun apakah Anda setuju bahwa dengan ditemukanhya teori itu, segala sesuatu akan bisa dijelaskan dan fisika akan berakhir?

Pekerjaan para fisikawan itu memang mengarah ke situ. Ini lompatan yang sangat jauh dibanding pada masa Einstein. Tapi apakah bisa menjelaskan semuanya, ini yang kita masih ragu.

Kalau dalam arti teori itu bisa menjelaskan proses terjadinya alam semesta, ya mungkin saja. Tapi itu tak berarti semua soal akan terjawab dan sains akan berhenti.

Dulu teori gravitasi Newton juga dianggap bisa menjelaskan semua hal dan nyatanya memang bertahan sampai 300 tahun. Tapi tahu-tahu muncul anomali: di planet Merkurius teori gravitasi Newton itu tidak berlaku. Baru dengan teori relativitas anomali tersebut bisa dijelaskan.

Bukan saya skeptik dengan apa yang dikatakan Hawking. Tapi itu tadi, sains tidak akan pernah berhenti, karena manusia juga tidak berhenti bertanya. Pengetahuan itu asimtotik, karena kita hanya punya alam semesta yang tidak bisa kita bandingkan di laboratorium. Bagaimana kita mau tahu bahwa teori kita bisa menjelaskan segala-galanya? Suatu ketika nanti akan muncul fenomena baru yang menuntut penjelasan lagi.

Menurut Anda, apakah penemuan-penemuan baru dalam fisika ini punya implikasi teologis?

Memang banyak orang mengatakan bahwa fisika dan teologi semakin dekat dewasa ini, dalam arti teologi bicara soal penciptaan dan begitu juga fisika. Meski seperti yang dikatakan oleh Romo Leahy, tak bisa hanya berhenti di soal penciptaan untuk membuktikan adanya Tuhan.

Tapi saya, yang bekerja di bidang sains, memegang prinsip-pinsip metodologis secara ketat. Sebagai ilmuwan saya tidak akan masuk ke bidang agama, karena itu bukan wilayah saya. Ilmu pengetahuan buat saya bukan untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Itu nggak boleh.

Kalau sekarang ilmu pengetahuan bisa dipakai untuk membantu menjelaskan soal agama yang semula tidak kita pahami, itu karena adanya pendekatan yang non-positivistik, di mana subyek dan obyek semakin terlibat. Sehingga ketika dipakai untuk memahami simbol-simbol yang ada dalam agama tidak lagi terlihat penentangan tajam antara agama dan sains.(abror)

Sumber: Republika, Ahad, 25 Februari 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: