Home / Sosok / Jean-Pascal Tricoire, Anak Desa yang Menjadi Bos

Jean-Pascal Tricoire, Anak Desa yang Menjadi Bos

Jean-Pascal Tricoire, lahir 11 Mei 1963 di Desa Beaupreau, Perancis. Bukan ningrat tapi dari keluarga petani, bukan pula lulusan sekolah ternama. Dia insinyur elektro dari universitas biasa di Angers. Penunjukannya sebagai Ketua dan Pimpinan Umum Schneider Electric (SE) sempat mengernyitkan dahi. Namun kemudian Tricoire membuat SE melipatgandakan keuntungan.

Tricoire, tipe yang dibutuhkan perusahaan global Perancis, yang harus merambah bisnis ke seantero dunia karena ekonomi Eropa memudar. Tricoire membuat SE yang bermarkas di Rueil-Malmaison membayar pajak ke Pemerintah Perancis dari hasil bisnis di seberang.

Intuisi dan keputusan Henri Lachman tepat ketika meminta Tricoire siap-siap menggantikannya sebagai pimpinan umum SE pada 2013. Tricoire mengelola SE dengan sudut pandang yang unik. Dia layak jadi ikon bahwa bisnis tidak melulu soal uang, efisien, dan efektivitas. Bisnis juga soal kepedulian sejati.

Bapak tiga anak ini menggugah, mampu meraih empati. Itu terlihat dari penampilan 38 menit pada acara akbar SE di Hongkong, Senin (25/9), yang dihadiri Kompas. Ia tampil bersahaja. Dari pakaian dan penampilannya tak mudah membuat orang mengira dia pemimpin bergaji minimal Rp 42 miliar per tahun. Dia pemimpin SE, anggota indeks CAC di bursa saham Paris, kumpulan perusahaan-perusahaan blue-chips.

Nada kalimatnya lembut dan menatap lawan bicara layaknya sahabat. Ia tampil lepas dan akrab dengan para rekan eksekutif Schneider. Mereka bukan eksekutif dengan wajah depresi akibat beban kerja. Hampir sepanjang kariernya yang dimulai pada usia 23 tahun, ia ada di Schneider. Namun, dia tidak lupa akar. ”Aku tetap suka suasana perdesaan… senang bertemu orang-orang,” katanya.

Menyenangkan baginya bekerja di lapangan, jauh dari markas korporasi. Ketika Henri Lachman mengincarnya menjadi pemimpin, Tricoire sempat meminta mundur. Lebih baik mundur ketimbang masuk jajaran puncak korporasi dan sibuk hanya di meja. ”Aku orang lapangan,” katanya.

Lachman mencari cara agar Tricoire luluh. Lachman mendengar kisah Tricoire dan kinerjanya selama berkiprah di unit-unit Schneider di Asia, Afrika, dan Amerika Serikat. Dalam perjalanan ke China, Lachman bertemu istri Tricoire, kelahiran Belanda. Sang istri duduk satu meja dengan para istri eksekutif Schneider. Tricoire memilih meja lain karena lebih suka bertemu teman lama di China.

”Aku belajar bahasa dan kebiasaan warga China,” kata istri Tricoire, yang tampil tidak elitis. Ini membuat Lachman makin penasaran, siapa itu Tricoire dan istrinya. Pria langsing dengan akses Perancis kental seorang petualang dan bahagia bertemu warga dunia (situs EduBourse, 12 November 2016).

”Sebab, aku yakin sukses bisnis harus dengan mengenali situasi lapangan dan memahami konsumen,” kata Tricoire (The Financial Times, 20 Januari 2015). Dia suka kehidupan keluarga dan liburan bersama di mana dia akan memilih arung jeram dan kayak. Ini terbawa suasana desa sejak kecil.

Melihat dunia
Dia baru menaiki kereta api di usia 14 tahun karena ada di perdesaan. Namun, pikirannya melanglang buana, ingin melihat dunia dan memiliki cakrawala pandang luas. Ketika bepergian ke seantero dunia, ”Saya hanya melihat bandara, hotel, dan pertemuan.”

Maka, dia menyempatkan cuti dengan meninggalkan kesibukan. Dia akan naik becak, menyetir sendiri. ”… Dengan demikian, kita tahu bagaimana itu Indonesia, India, China dari dalamnya,” kata Tricoire, yang tidak terlalu tertarik pada sekolah bisnis walau dia mengambilnya juga.

Mengamati negara-negara tempat dia pernah bertugas, Tricoire melihat kebutuhan rakyat terkait jasa dan produk Schneider. Teknik kelistrikan akan selalu berkembang dan dia mencari cara bagaimana Schneider berkontribusi. Dia cintai negara-negara berkembang yang mengalami pemadaman dan kekurangan energi listrik.

Efisiensi penggunaan energi listrik, keamanan, dan stabilitas aliran listrik menjadi perhatian Tricoire. Perusahaan juga memberi jasa soal otomatisasi di pabrik-pabrik dan hemat listrik. ”Kita bisa menghemat konsumsi listrik sembari meningkatkan produktivitas pelanggan,” katanya.

Hal terbaru bagaimana pengelolaan dan penggunaan kelistrikan, otomatisasi bisa tersambung ke jaringan internet. Ini membuat, misalnya, seorang pemilik rumah sakit yang sedang tidak di tempat tahu pasokan listrik ke rumah sakit terganggu. Konsumen bisa tahu karena aplikasi di telepon genggam. Konsumen bisa mematikan listrik dari telepon genggam jika lupa mematikan aliran listrik saat berangkat kerja.

Menggerakkan sinergi
Tricoire mengubah budaya bisnis Schneider yang sempat tidak terkoordinasi. Dia meminta semua unit bahu-membahu. Pernah ada 10 eksekutif menolak dicampuri. Kini semua orang itu tidak lagi di Schneider. Sebanyak 14 orang eksekutif puncak Schneider adalah pilihan Tricoire. Dia tidak melihat masa depan bisnis dengan orang-orang tak kolaboratif dan dia menjiwai kolaborasi dengan kasih.

Hasilnya, penjualan dan reputasi Schneider melejit. Dia merangkul para eksekutif walau memilih bermarkas di Hongkong. ”Sebab, saya harus ada dekat dengan pelanggan,” kata Tricoire yang melihat China dan Asia masa depan bisnis yang dahsyat.

Maka, hari-harinya rutin tersambung dengan para pemimpin unit Schneider semisal lewat Skype. ”Teknologi informasi telah mengubah cara kerja dan hidup saya”. (The Business Times, 21 November 2011)

Tricoire bukan tipe diktator. Dia memahami. Karyawan diwajibkan cuti tahunan, cuti jika keluarga berduka, dan cuti melahirkan. Dia merombak dominasi orang-orang Perancis di dalam manajemen. ”Perusahaan global wajib paham dengan keadaan global dan itu hanya bisa dilakukan orang-orang dari seluruh dunia,” katanya.

Schneider, yang didirikan tahun 1836 oleh Adolphe Schneider dan Joseph-Eugene Schneider, kini berada di peringkat ke-9 perusahaan global berkesinambungan dengan total karyawan 170.866 orang. Total nilai penjualan perusahaan sebesar 27,32 miliar dollar AS menurut Forbes, Mei 2017. Jumlah itu melejit di bawah kepemimpinan Tricoire.

Dia yakin pada elemen-elemen penting bisnis, seperti kepemimpinan, kerja tim, inteligensia emosional. Berdasarkan pengalaman bertahun- tahun, menurut Tricoire, praktik lapangan memberi pendidikan lebih ampuh ketimbang dari ruang kelas. Tricoire kini sering tampil dalam forum internasional, seperti World Economic Forum.

SIMON SARAGIH

Sumber: Kompas, 25 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: