Jangan Jadikan Hasil Tes Tujuan Belajar

- Editor

Rabu, 10 Juli 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menghasilkan manusia yang berpikir kritis, ilmiah, sekaligus memiliki nilai kebaikan universal merupakan tujuan pendidikan untuk sekarang dan masa depan. Tes untuk siswa tidak untuk melihat pengetahuan mengenai materi pelajaran di sekolah, melainkan kemampuan menerapkan penerapan tersebut sebagai warga dunia.

“Tujuan pengadaan Program Asesmen Siswa Internasional (PISA) bukan agar negara saling membandingkan perolehan nilai skor, tetapi untuk mengetahui kebijakan dan metode pendidikan yang digunakan sehingga bisa mencapai skor tersebut,” kata Direktur Pendidikan OECD (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) Andreas Schleicher ketika memberi paparan pada seminar “PISA: Menelaah Keterampilan Hidup Abad ke-21” di Jakarta, Senin (8/7/2019).

20190708-dne-oecd-andreas-schleicher_1562587632-720x405KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Direktur Pendidikan Organisasi Kerja Sama untuk Ekonomi dan Pembangunan (OECD) Andreas Schleicher menjelaskan bahwa Program Asesmen Siswa Internasional (PISA) bukan untuk mengejar skor, tetapi melihat perkembangan kebijakan dan praktik pendidikan di dunia. Ia berbicara pada seminar “PISA: Menelaah Keterampilan Hidup di Abad ke-21” di Jakarta, Senin (8/7/2019).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tes PISA dilakukan per tiga tahun kepada siswa berusia 15 tahun di seluruh dunia dengan soal terstandar. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Di Indonesia, sampel siswa ada 5.000 orang dari berbagai sekolah. Tes ini melihat kemampuan membaca, matematika, dan sains. Sejak pertama mengikuti PISA di tahun 2000 Indonesia selalu bermasalah di literasi siswa yang menunjukkan ketidakmampuan membaca teks, menganalisa persoalan, dan berpikir runut.

Menurut Schleicher, Indonesia terus mengalami peningkatan di setiap tes. Ia menyadari tantangan geografis dan kesenjangan sosial masih besar di Indonesia. Namun, dibandingkan dengan tahun 2006 yang hanya 30 persen anak usia sekolah bersekolah, kini jauh membaik karena Angka Partisipasi Kasar Indonesia sudah 90 persen dari jumlah 51 juta siswa. Fokus pendidikan kini adalah pemerataan mutu.

Ia menerangkan mengenai keluhan para negara peserta PISA, yaitu soal-soal yang ditanyakan sukar dan tidak tercantum di dalam pelajaran sekolah. Hal ini karena PISA memang tidak untuk mengetahui materi yang telah dipelajari siswa di sekolah, melainkan menelaah pemahaman siswa tentang cara penerapan pengetahuan itu di kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu, materi yang pengajarannya bisa digantikan oleh komputer atau ditemukan di internet tidak pernah ditanyakan. Soal-soal PISA membutuhkan kecakapan literasi, artinya bisa berpikir kritis, ilmiah, sekaligus memiliki karakter yang positif sebagai bagian dari masyarakat suatu bangsa ataupun secara global. Kemampuan ini tidak bisa didapat apabila belajar melalui metode menghafal.

“Siswa kini tidak bisa sekadar memilih dan memilah informasi, tetapi juga membangun sebuah pengetahuan. Kompetensi ini yang bisa membuat kita mengarahkan diri di tengah perkembangan masyarakat yang semakin kompleks dan ambigu,” tutur Schleicher.

Keadilan dan kesetaraan
Schleicher menerangkan, perkembangan teknologi yang pesat menunjukkan pola pemelajaran siswa berubah drastis sejak tahun 2006. Informasi mudah didapat di dunia maya. Secara alamiah, siswa sekarang memelajari banyak hal dari berbagai sumber, tetapi sedikit-sedikit dan tidak mendalam.

“Dalam hal ini peran guru sangat penting untuk membimbing siswa menemukan arah yang sesuai dengan potensi mereka. Paradigmanya guru bukan sebagai sumber pengetahuan dan kini wajib memberi pendidikan terbaik serta setara bagi semua siswa,” ujarnya.

Pada negara-negara di Eropa Utara, Eropa Barat, dan Kanada yang selalu tampil prima pada tes PISA, kebijakan pendidikannya adalah menempatkan guru-guru terbaik di kelas yang paling bermasalah karena siswa-siswa itu membutuhkan perhatian ekstra. Kebijakan ini juga dipraktikkan oleh Vietnam. Skor matematika Vietnam dari siswa-siswa sekolah negeri yang relatif berlatar sosial-ekonomi bawah setara dengan skor siswa Amerika Serikat dari golongan 10 persen terkaya dan bersekolah di lembaga pendidikan swasta.

Schleicher mengungkapkan, penempatan guru yang baik berarti mampu merancang pemelajaran susbtantif. Data PISA menunjukkan, siswa di negara-negara Skandinavia jarang mengikuti bimbingan belajar ataupun les privat. Hal ini karena guru mampu menyampaikan materi pelajaran yang kontekstual, mulai dari aspek kognitif hingga emosional.

Penelitian OECD mengungkapkan, kelas kecil tidak langsung membuat pemelajaran bermutu karena kunci guru bisa memberi pemelajaran yang kaya adalah kesadaran akan profesionalisme mereka. Mental profesional ini yang memungkinkan guru bangga pada vokasi mereka sehingga terus berjiwa pemelajar, membangun kapasitas, dan memastikan pendidikan menarik bagi siswa. Di negara-negara yang hasil PISA selalu baik, tingginya profesionalitas guru pula yang membuat pekerjaan mereka terhormat di mata masyarakat.

Hal ini tampak pada angket PISA yang mengungkapkan pendapat siswa Indonesia bahwa kesuksesan ditentukan oleh bakat. Sebaliknya, siswa di China dan Singapura berpendapat bakat adalah hasil dari kegigihan, optimisme, dan bimbingan yang baik dari orangtua dan guru.

“Diteliti lebih lanjut, pola pikir ini tidak alamiah, melainkan dikembangkan di ruang-ruang kelas bahwa terlepas dari latar belakang sosial-ekonomi siswa, mereka bisa maju. Bagi siswa miskin, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk maju,” kata Schleicher.

Diversifikasi
Guru Besar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto menekankan, hambatan ekonomi dan kecepatan memahami materi tidak berarti siswa yang terkendala belajar diberi materi yang lebih mudah dan standar untuk mereka diturunkan. Perlu dilakukan diversifikasi metode mengajar di sekolah.

“Kurikulum sejatinya tidak kaku karena bisa disesuaikan dengan pemahaman setiap wilayah, bahkan setiap kelas. Guru tidak perlu membandingkan kelasnya dengan kelas lain dari segi capaian nilai, tetapi saling belajar cara mengajar yang membuat siswa senang belajar,” ujarnya.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam seminar “PISA: Menelaah Keterampilan Hidup di Abad ke-21” di Jakarta, Senin (8/7/2019) menyampaikan bahwa tujuan pemerataan mutu pendidikan adalah agar belajar untuk mengembangkan potensi diri, bukan mengejar nilai.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam sambutannya menuturkan, belajar bukan untuk mengejar nilai, mulai dari ujian sekolah, Ujian Nasional, hingga skor PISA. Tetapi melihat perkembangan pendidikan dari tahun ke tahun dan membenahinya.

“Peta hasil UN untuk melihat celah dalam pemelajaran di kelas sehingga menghambat siswa memahami pelajaran. Mohon guru memanfaatkan peta tersebut,” ucapnya.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 9 Juli 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB