Kemitraan Pendidikan untuk Perkuat Literasi

- Editor

Selasa, 8 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lebih dari 200 praktisi pendidikan yang terdiri dari pemerintah pusat dan daerah, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan, dan tim inovasi untuk anak sekolah Indonesia menghadiri seminar pendidikan ”Patnership for Learnings” di Sanur, Bali, Senin (7/5/2018).

Seminar ini jadi ajang untuk membangun kolaborasi dan berbagi praktik dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa jenjang pendidikan dasar, terutama dalam hal keterampilan literasi dan numerasi.

Seminar pendidikan tersebut digelar oleh Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (Inovasi) yang merupakan program kemitraan pendidikan Pemerintah Australia dan Indonesia. Seminar akan berlangsung hingga Rabu (9/5/2018).
Direktur Program Inovasi Mark Heyward mengatakan, penguatan kompetensi literasi dan numerasi bagi siswa di tingkat dasar sangat penting untuk membangun fondasi belajar yang kuat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Namun, kenyataannya masih banyak anak sekolah dasar yang lemah kemampuan membaca dan menghitung yang seharusnya sudah mulai kuat di kelas atas. Hal ini memengaruhi capaian pendidikan yang masih rendah,” kata Mark.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Suasana seminar kemitraan pendidikan yang digelar Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (Inovasi) di Sanur, Bali, Senin (7/5/2018) hingga Rabu (9/5/2018). Hadir di acara ini pelaku inovasi pendidikan untuk memperkuat literasi dan numerasi siswa SD.

Menurut Mark, lewat program Inovasi yang diujicobakan di empat provinsi, yakni Jawa Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, solusi untuk memperkuat kompetensi literasi dan numerasi siswa dilakukan dengan memberdayakan para guru, pemerintah daerah, dan komunitas atau organisasi yang peduli pendidikan di daerah.

”Solusi untuk tiap daerah bisa berbeda, sesuai konteksnya. Namun, tujuan yang ingin dicapai sama, yakni untuk meningkatkan mutu pendidikan, dengan cara memperkuat keterampilan mendasar, literasi, dan numerasi,” ujar Mark.

Dalam seminar tersebut juga dihadirkan pembicara kunci dari Pratham Education Foundation yang berpusat di India. Lembaga ini memiliki pengalaman dalam memperkuat keterampilan literasi dan numerasi siswa kelas rendah dan jelas atas di jenjang sekolah dasar di India.

”Inovasi yang kami kembangkan lewat mengajar pada tingkat yang sesuai (teaching at the right level) dilakukan dengan pendekatan yang mudah diterapkan sehingga dapat direplikasi secara luas dan berbiaya rendah. Program ini juga sudah diterapkan di Afrika. Kami akan melihat konteks di Indonesia untuk melihat penerapan yang tepat,” kata Kepala Manajemen Program Pratham Education Foundation Devyani Petshad.

Program mengajar dengan tepat ini menerapkan pengelompokan belajar anak berdasarkan kemampuan belajar, bukan usia dan tingkat kelas.

”Para guru dan instruktur fokus untuk membantu anak yang masuk dalam kelompok yang belum bagus membaca dan menulis supaya bisa terus naik level. Program berbasis aktivitas dan permainan sehingga siswa bisa terus dipantau dan dievaluasi kemajuan belajarnya untuk bisa naik ke level berikutnya,” ujar Devyani.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembelajaran Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suprananto menjelaskan, tantangan saat ini bukan seberapa banyak siswa yang bersekolah, melainkan seberapa kompeten mereka agar mampu berperan penting dan unggul dalam pergaulan global.

Sekretaris Kedua Kedutaan Besar Australia di Jakarta Benita Chudleigh mengatakan, pendidikan berkualitas penting bagi Indonesia karena hal ini berkontribusi langsung terhadap pembangunan sumber daya manusia serta angkatan kerja yang sehat dan produktif.

”Kemitraan pendidikan dapat menjadi salah satu cara strategis untuk mencapai suatu tujuan bersama, dan kami berharap seminar kemitraan untuk pembelajaran ini dapat menjadi langkah awal untuk mewujudkannya,” ujar Benita.–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 7 Mei 2018

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB