Home / Berita / Inovasi Radiologi; Meningkatkan Akses Pelayanan Kesehatan

Inovasi Radiologi; Meningkatkan Akses Pelayanan Kesehatan

PENYAKIT tidak menular semakin menjadi penyebab kematian utama. Di Asia Tenggara, 2,5 juta kematian per tahun disebabkan hal ini. Di sisi lain, masih ada kendala akses pelayanan kesehatan. Sebagai gambaran, perbandingan dokter dan pasien di negara maju 2,5 : 1.000, sedangkan di Indonesia perbandingannya 0.29 : 1.000.
Terkait tantangan kesehatan itu, Philips mencanangkan target untuk meningkatkan kesehatan 3 miliar penduduk dunia per tahun pada 2025. Hal itu dilakukan lewat berbagai inovasi di bidang kesehatan, baik peralatan maupun manajemen.

Arjen Radder, President Philips Healthcare Asia Pacific, pada hari pertama pertemuan ilmiah tahunan Radiological Society of North America (RSNA) ke-99 di Chicago, Amerika Serikat, awal Desember lalu, menyatakan, ”Kami melakukan inovasi dan mencari solusi dalam menjaga kesehatan manusia mulai dari pencegahan penyakit, diagnosis, terapi, sampai pemulihan.”

Salah satu inovasi di Indonesia adalah pemanfaatan sistem Mobile Obstetrics Monitoring (MOM) untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI). Bekerja sama dengan Indonesian Reproductive Science Institute (IRSI), proyek MOM dilaksanakan di Padang, Sumatera Barat, sebagai bagian dari program ”Inovasi Philips untuk Indonesia yang Lebih Sehat”. ”Jika berhasil bisa diterapkan di daerah lain,” kata Radder.

Angka kematian ibu di Indonesia sangat tinggi dibandingkan dengan negara Asia Tenggara dan negara berkembang lain. Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 menunjukkan, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup. Tercatat, ada lebih dari 10.000 kematian ibu per tahun, artinya tiap 53 menit ada ibu meninggal saat melahirkan.

Menurut Ketua IRSI Ivan Sini, yang juga dokter ahli obstetri ginekologi, AKI pada 7 dari 17 kabupaten di Sumbar tahun 2007 adalah 270,4 per 100.000 kelahiran hidup. Padang, Padang Pariaman, dan Solok termasuk daerah dengan AKI cukup tinggi. Dalam penelitian Modalitas Aplikasi Mobile dalam Mendeteksi Kehamilan Risiko Tinggi di Kota Padang, teknologi telepon seluler pintar dimanfaatkan untuk menjembatani kendala dalam pelayanan antenatal yang belum optimal, yaitu dengan meningkatkan kualitas pemantauan kehamilan di tingkat puskesmas.

Penandatanganan nota kesepahaman proyek MOM dengan Pemerintah Kota Padang dilakukan September 2013. Penelitian dimulai pada 9 Desember 2013 melibatkan 6 puskesmas. Di setiap puskesmas ada 2 bidan dan 1 dokter umum dilibatkan. Dilibatkan juga RSU Citra BMC Padang untuk memonitor bersama IRSI Jakarta.

Philips menyediakan, antara lain, alat ultrasonografi (USG), alat pemeriksaan tekanan darah, termometer, pengukur detak jantung bayi, server, perangkat lunak MOM, laptop, dan ponsel Android untuk para bidan.

”Saat ini sudah ada 320 ibu hamil bersedia menjadi obyek penelitian, 35 orang di antaranya berisiko tinggi. Ditargetkan, Maret bisa mencapai 1.000 pasien untuk diikuti sampai melahirkan,” kata Ivan.

Dengan sistem MOM diharapkan risiko kehamilan ibu termonitor untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu.

Bidan dilatih selama 1 minggu untuk menggunakan alat-alat pengukur tanda vital ibu hamil serta mengirim data lewat ponsel Android. Adapun dokter puskesmas dilatih untuk memasukkan data dan mengirim ke server di RSU Citra BMC Padang.

Gejala, keluhan ibu hamil, dan tanda vital yang dicatat bidan saat pemeriksaan rutin akan terbaca di server utama dan dapat diakses tim dokter peneliti lewat komputer ataupun ponsel pintar untuk dievaluasi. Kasus-kasus risiko tinggi dirapatkan setiap minggu melalui telekonferensi oleh tim dokter di Padang dan Jakarta.

Nantinya, ibu hamil risiko rendah bisa melahirkan di puskesmas. Ibu hamil dengan risiko tinggi/ada penyulit dianjurkan melahirkan di rumah sakit. Diharapkan upaya ini bisa menekan angka kesakitan dan AKI.

Di Asia Tenggara, Philips bekerja sama dengan pihak swasta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap faktor risiko dan pencegahan penyakit tidak menular. Philips menyediakan fasilitas cathlab terintegrasi dengan MRI dan CT Scan di Bunda Heart Center Jakarta. Selain itu, juga dilakukan pelatihan kepada dokter dan ahli radiologi, antara lain di Makassar.

Kenyamanan pasien
Inovasi juga ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Hal itu diwujudkan dengan ambient experience room solutions berupa ruang pemeriksaan radiologi yang didesain untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Pada ruangan itu digunakan pencahayaan lembut, video yang menampilkan gambar-gambar yang menyenangkan, seperti pantai, taman, padang rumput, atau gambar kartun disertai musik yang bisa diubah-ubah sesuai keinginan pasien. Ada sekitar 620 ruang semacam ini dipasang di dunia, 40 di antaranya di Asia Pasifik.

Pada pertemuan tahunan RSNA itu, CEO Imaging Systems Philips Healthcare Gene Saragnese menyinggung soal teknologi yang meningkatkan akses pelayanan kesehatan serta menurunkan biaya. Inovasi berbasis teknologi bisa mempersingkat pemeriksaan dan memantau hasil pengobatan. Pasien bisa pulang lebih cepat karena ada alat-alat monitor yang dihubungkan ke rumah sakit sehingga kondisi pasien terpantau.

Di kesempatan itu, Philips Healthcare meluncurkan dua alat pemeriksaan radiologi baru, yakni Vereos PET/CT Scan dan IQon Spectral CT.

”Kami bekerja sama dengan para ahli radiologi untuk memahami tantangan mereka. Alat-alat ini untuk mendapatkan pencitraan kompleks sesuai kebutuhan ahli radiologi,” kata Saragnese. ”Inovasi itu memberikan hasil pemeriksaan dengan kualitas serta ketepatan tinggi dan dosis zat radioaktif rendah.”

Dalam mengembangkan peralatan, perusahaan itu bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit pendidikan, antara lain University Hospitals Case Medical Center dari Case Western Reserve University (CWRU) di Cleveland, AS. Pablo R Ros dan James O’Donnell, Guru Besar Radiologi dari Fakultas Kedokteran CWRU menuturkan, pusat penelitian radiologi di rumah sakit itu bekerja sama untuk menguji prototipe teknologi baru, memberikan umpan balik klinis dan peningkatan kinerja alat, serta mengembangkan teknologi baru.

OutPDF2hVereos PET/CT scan menyediakan gambar tiga dimensi yang memberikan pemahaman dalam tubuh di tingkat molekuler dan seluler. Sejumlah kecil radiotracer diinjeksikan kepada pasien sebelum pemeriksaan. Zat itu mengumpul di jaringan dan organ tubuh kemudian meluruh. Detektor PET menangkap foton yang terlepas dari jaringan tubuh selama peluruhan sehingga terbentuk gambar pencitraan. Menggunakan teknologi ”Digital Photon Counting”, alat ini merupakan PET pertama yang menggunakan detektor digital sehingga sensitivitas, resolusi, dan akurasinya meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan sistem analog. CT ini bisa menemukan kanker tanpa biopsi.

Adapun IQon Spectral CT merupakan sistem deteksi spektral pertama. Alat ini menggunakan prinsip warna untuk mengidentifikasi komposisi gambar secara cepat dan praktis. Pengembangan detektor spektral memungkinkan memisahkan foton sinar X yang memiliki energi tinggi dan rendah secara simultan. Dengan demikian, diperoleh informasi struktur berdasarkan materi pembentuknya.

Selain itu, diluncurkan EPIQ ultrasound system dan AlluraClarity interventional X-ray system. Alat ultrasonografi EPIQ memberikan resolusi gambar tiga dimensi panoramik dari organ tubuh dengan detail. Pengoperasiannya cepat dan mudah.

Sistem sinar X AlluraClarity menyediakan gambar berkualitas tinggi untuk berbagai prosedur klinis dengan dosis sinar X 75 persen lebih rendah dari sebelumnya. Alat ini membantu memandu prosedur invasif minimal, seperti kateterisasi pembuluh darah yang tersumbat.

Terjangkau
Sebagai hasil inovasi terbaru, tentu harga alat-alat pemeriksaan radiologi itu terlalu mahal untuk dijangkau rumah sakit di negara berkembang. Menurut Saragnese, Philips memproduksi peralatan dari tingkat premium sampai yang harganya terjangkau pada tiap jenis. Contohnya, alat USG VISIQ yang mudah digunakan dan bisa dibawa berpindah-pindah. Jenis alat USG tersebut akan dipasarkan di negara berkembang, termasuk di Afrika, mulai tahun ini.

Menurut Vincent SK Chan, General Manager Philips Indonesia, dalam kesempatan terpisah, kemampuan dasar peralatan itu sama, tetapi ada fitur yang dikurangi untuk penggunaan di tingkat dasar. ”Gambarannya, bagi RS tipe C tentu tidak perlu fitur selengkap peralatan radiologi untuk RS tipe A,” kata Chan. Oleh: Atika Walujani Moedjiono

Sumber: Kompas, 23 januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: