Home / Berita / Ekonomi / Infrastruktur Belum Mendukung E-dagang

Infrastruktur Belum Mendukung E-dagang

Manfaat Internet Harus Disosialisasikan
Perdagangan elektronik (e-dagang) terus bertumbuh. Namun, infrastruktur internet di Indonesia masih belum mampu menopangnya. Karena itu, pemerintah diharapkan bisa memperkuat infrastruktur tersebut, mulai dari memperluas jaringan hingga pengawasan.


Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa InternetIndonesia (APJII) dan UBS Global Research ASEAN eCommerce (2014), penetrasi pengguna internet di Indonesia terus bertumbuh. Pada 2006, penetrasi pengguna internet 9 persen dari total penduduk Indonesia. Pada akhir 2014, naik menjadi 31 persen. Pada 2015, penetrasi pengguna internet diperkirakan mencapai 54 persen.

Ketua Umum APJII Semuel Abrijani Pangerapan, Jumat (20/2), di Jakarta, mengatakan, pengembangan infrastruktur oleh operator telekomunikasi di kawasan timur Indonesia tidak ekonomis karena investasi lebih tinggi. Peluang konsumsi juga rendah karena jumlah penduduk minim dan rendahnya kebutuhan akan internet.

”Hingga kini hampir 65 persen koneksi internet di Indonesia dinikmati dari jaringan seluler karena kondisi geografis yang menyulitkan koneksi pitalebar secara fisik,” ujarnya.

Menurut Manajer Humas XL Axiata Henry Wijayanto, pihaknya memiliki lebih dari 52.000 menara pemancar di seluruh Indonesia yang lebih dari 60 persen terkonsentrasi di Pulau Jawa. Dia sepakat, faktor geografis membuat biaya pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia timur lebih berat.

19957256h”Tantangan bagi pemerintah adalah sosialisasi mengenai manfaat internet bagi masyarakat dan menyiapkan insentif agar pembangunan infrastruktur bisa dilakukan,” ujarnya.

Pembangunan jaringan
Vice President Information Technology and Governance PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Alip Priyono mengatakan, pihaknya telah memiliki program Indonesia Digital Network (IDN). Pada 2015, program IDN meliputi Indonesia Digital Access (ID-Access), Indonesia Digital Ring (ID-Ring), dan Indonesia Digital Convergency (ID-Con).

Untuk akses, kata Alip, Telkom fokus mengembangkan infrastruktur jaringan akses pita lebar berkecepatan tinggi lewat jaringan serat optik dan wi-fi.

Berdasarkan data Telkom Indonesia (per Februari 2015), perkembangan penetrasi serat optik mencapai 76.724 kilometer. Jumlah ibu kota kabupaten yang dilalui serat optik sebanyak 389 kabupaten/kota. Sebanyak 3,4 juta rumah terkoneksi dan 13,3 juta rumah dilalui pita lebar.

”Kami berharap bisa meminimalkan gap infrastruktur jaringan internet dan meningkatkan penetrasi pengguna internet. Kami menargetkan 60 persen desa bisa mendapat sinyal mobile,” ujar Alip.

Alip menambahkan, pihaknya terus membangun fiber optik agar jaringan akses pita lebar berkualitas tinggi tercapai. Pada program ID-Ring, Telkom akan fokus meningkatkan kualitas jaringan yang sudah ada di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara.

Wakil Sekretaris Dewan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional (DeTIKNas) M Andy Zaky mengatakan, pihaknya mengawal implementasi programprogram tersebut. ”Kami akan memantau implementasi proyek akses pita lebar di tingkat kabupaten/kota,” ujarnya.

Country Manager Fortinet Indonesia Jeremy Andreas mengatakan, program pita lebar yang sedang digenjot pemerintah memang berpeluang meningkatkan pertumbuhan nilai e-dagang. (MED/ELD)

Sumber: Kompas, 21 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: