Home / Berita / Google: Kebijakan Kesehatan Harus Diambil Berbasis Bukti dan Data

Google: Kebijakan Kesehatan Harus Diambil Berbasis Bukti dan Data

Chief Health Officer Google Karen DeSalvo berbicara mengenai jabatannya yang tak biasa di perusahaan teknologi, karakteristik pejabat kesehatan publik yang ideal pada masa pandemi, hingga masa depan kesehatan masyarakat.

GOOGLE—-Chief Health Officer Google Karen DeSalvo

Karen DeSalvo menjabat posisi yang tidak biasa dalam sebuah perusahaan teknologi. Google menciptakan sebuah jabatan baru ketika merekrutnya. Raksasa teknologi itu menjadikan DeSalvo sebagai chief health officer, direktur kesehatan di sebuah perusahaan teknologi.

Saat memulai sebagai chief health officer di Google pada akhir 2019, DeSalvo tidak pernah menyangka bahwa ia akan memiliki peran yang besar dalam membantu Google dan miliaran pengguna internet dalam menghadapi pandemi Covid-19.

DeSalvo memiliki riwayat yang panjang dalam bidang kesehatan masyarakat. Selama 2014 hingga 2017, ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas Assistant Secretary for Health, mungkin sepadan dengan tugas yang diemban Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan di Indonesia. Sebelumnya, ia pun menjabat Kepala Badan Teknologi Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan AS.

DeSalvo meyakini, pandemi Covid-19 akan menjadi titik tolak bagaimana teknologi informasi akan semakin erat berkait dengan bidang kesehatan masyarakat. Bagaimana pandangannya mengenai peran platform digital dan media dalam menjaga kesehatan masyarakat?

Pada Selasa (29/9/2020), Kompas menjadi satu-satunya media berbahasa Indonesia yang diundang untuk berbincang dengan DeSalvo secara virtual. Berikut petikan wawancaranya.

Mengapa Google membutuhkan chief health officer? Tugas apa yang diemban dalam jabatan ini?

Latar belakang saya adalah dokter dan akademisi tradisional, merawat pasien dan mengajar. Kemudian saya juga bergiat di bidang kesehatan masyarakat. Di bidang ini, saya banyak bersinggungan dan belajar bagaimana teknologi, data, dapat menjadi hal yang penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Ketika Google berencana menggabungkan semua unit usahanya yang berkaitan dengan kesehatan menjadi satu dalam Google Health, saya merasa ini kesempatan yang sangat menarik untuk ikut berperan.

Ketika Covid-19 mulai berkembang menjadi pandemi global, kami lantas menyiapkan berbagai produk Google agar dapat turut membantu pengguna untuk menjaga kesehatan masing-masing.

Tim saya kemudian berkoordinasi dengan tim Google Search untuk menambahkan fitur peringatan SOS di laman hasil pencarian untuk memberikan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan juga otoritas kesehatan lokal.

Kami juga berupaya agar informasi yang otoritatif berada di posisi atas di hasil pencarian. Hal ini agar orang bisa mendapat informasi yang tepat mengenai apa yang harus dilakukan pada masa pandemi.

Ketika saya dulu bertugas sebagai pejabat kesehatan publik, baik di tingkat kota maupun di tingkat nasional, tugas kami adalah memberikan informasi apa yang harus dilakukan dan membagikannya kepada publik. Akan tetapi, dulu, persoalannya, masyarakat tidak bisa menemui Anda.

Kini di Google, saya bisa memberikan rekomendasi kepada masyarakat melalui laman pencarian Google atau di Youtube. Ini membahagiakan saya, terlebih lagi, di suatu kondisi pandemi, komunikasi dan memberikan informasi adalah tugas utama seorang pejabat kesehatan publik.

Pandemi Covid-19 ini telah menciptakan gelombang informasi yang tanpa henti. Sebagian masyarakat mengaku sudah lelah dengan berita dan anjuran kesehatan Covid-19. Bagaimana menurut Anda?

Betul saya setuju. Dan, bahkan, kelelahan ini tidak hanya dihadapi masyarakat, tetapi juga para tenaga kesehatan. Dokter dan perawat merasakan bagaimana setiap hari terkena banjir informasi dan data mengenai Covid-19.

Namun, masyarakat bagaimanapun harus diingatkan terus-menerus. Masyarakatlah yang punya kemampuan untuk menghentikan pandemi, yakni dengan patuhi protokol kesehatan.

Google, misalnya, kami membuat kampanye ”Do the Five” yang terdiri dari lima langkah sederhana untuk menekan penyebaran Covid-19, seperti tinggal dirumah, cuci tangan, dan jaga jarak.

—-Lima langkah sederhananya yang dikampanyekan oleh Google.

Ini terlihat sangat sederhana, tetapi benar-benar berdampak besar untuk pengendalian Covid-19. Jadi, masyarakat harus tetap diajak mengetahui informasi mengenai Covid-19.

Kami, misalnya, mencoba mendukung para influencer di Youtube untuk memberikan pesan protokol kesehatan ini sehingga orang-orang mau mendengarkan. Mungkin kita harus menghindari gaya komunikasi yang ”memerintah” dan berisi angka-angka saja.

Di sisi lain, kami juga menyadari bagaimana Covid-19 berdampak pada isu kesehatan lain, misalnya kesehatan mental. Ini memang hal yang sudah kami duga akan terjadi bahwa Covid-19 akan menjadi beban mental yang berat bagi masyarakat.

Untuk itu, bagi kami, penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang merasakan kesehatan mentalnya terdampak akibat tekanan Covid-19 ini.

Bagaimana masalah misinformasi pada era pandemi ini?

Misinformasi juga saya rasa menjadi problem yang secara khusus menjadi karakteristik pandemi Covid-19 ini. Secara umum misinformasi ini memang sudah menjadi hal yang biasa, tetapi pada masa pandemi ini lebih cepat perkembangannya.

Kami memiliki tim yang terus memantau berbagai konten yang mungkin mengandung misinformasi. Kami bisa menurunkan konten itu langsung dan menaikkan posisi konten yang berisi rekomendasi dari otoritas setempat.

—Contoh penipuan atau scam yang menggunakan Covid-19.

Pertumbuhan misinformasi itu sangat menantang, terlebih lagi pada masa pandemi ini. Kita semua harus secara konstan, terus-menerus memantau. Karena ide-ide misinformasi itu terus berkembang, selalu ada yang baru.

Bagaimana masa depan pengelolaan kesehatan masyarakat? Bagaimana teknologi dapat membantu sektor ini?

Di Google, kami melihat bahwa ilmu kedokteran, kesehatan masyarakat, dan teknologi itu saling memperkuat.

Para software engineer ini memiliki tools, seperti kecerdasan buatan hingga machine learning yang akan penting dalam sektor kedokteran dan kesehatan publik. Tinggal yang diperlukan adalah bagaimana bisa memaknai data ini? Di sinilah kecerdasan buatan, misalnya, berperan.

Jadi, contohnya, jika dokter mendiagnosis seseorang, ia tidak hanya akan bergantung pada pengalamannya sendiri, tetapi mengambil kesimpulan yang berdasarkan data secara global.

Namun, pandemi ini hanyalah awal. Karena pandemi ini, para programer mulai memahami ”bahasa” kesehatan, sedangkan orang kesehatan juga mulai memahami ”bahasa” teknologi. Kita mulai menyadari betapa besar hal yang bisa dibawa teknologi ke sektor kesehatan masyarakat.

GOOGLE—Laman rekomendasi bantuan kesehatan mental dari Google bersumber pada WHO.

Saya yakin, lepas dari pandemi ini, kita akan dapat menemukan format yang tepat bagaimana mengakselerasi bergabungnya teknologi ke kesehatan masyarakat.

Anda pernah bekerja sebagai pejabat kesehatan publik. Bagaimana karakteristik kepemimpinan pejabat kesehatan masyarakat yang ideal menurut Anda?

Pada abad ke-21 ini, posisi pejabat kesehatan publik adalah sesuatu yang strategis. Artinya, pejabat ini harus bisa menjalin kerja sama lintas sektor; dari kesehatan, bisnis, hingga lainnya. Seorang pejabat ini juga harus bekerja atas dasar data dan bisa memahami teknologi baru.

Ini menjadi kemampuan yang harus dimiliki selain karakteristik tradisional, seperti mengambil kebijakan berbasis bukti dan juga berkomunikasi yang baik kepada masyarakat.

Namun, saya mengingatkan, pandemi ini adalah kondisi yang luar biasa. Pandemi ini benar-benar menantang untuk semua orang; untuk semua pemimpin.

Kita saat ini sedang dihadapkan dengan persoalan rumit, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi. Ini bukan masalah siapa yang benar, siapa yang salah, melainkan bagaimana kita bisa bekerja sama.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 29 September 2020
——————————–
Mengungkap Kedahsyatan ”Big Data”

Ketika Google Trends diluncurkan tahun 2009, hasil-hasil pencariannya kurang dianggap penting. Padahal, setiap manusia yang melakukan pencarian di Google meninggalkan jejak digital yang mampu mengungkap banyak hal.

Kapan dan di mana seseorang mencari informasi, lelucon, kutipan, termasuk hal- hal tabu seperti perilaku seksual, terbaca lewat big data alias data berukuran raksasa.

Seiring waktu, Google mampu mengolah data menjadi informasi tentang apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran, apa yang diinginkan, dan apa yang ditakutkan mereka yang meninggalkan jejak digitalnya setelah mengakses Google.

Sebuah survei dengan topik sensitif, seperti perilaku seks dan rasisme, rawan tidak akurat. Sebaliknya, hal ini lebih terbaca melalui analisis big data. Perilaku rasis di Amerika Serikat, misalnya, juga terbaca melalui big data.

Seth Stephens-Davidowitz, mantan ilmuwan data di Google, dan penulis di New York Times mengungkap hal itu dalam buku Everybody Lies: Big Data dan Apa yang Diungkapkan Internet tentang Siapa Kita Sesungguhnya (Gramedia Pustaka Utama, 2018). Betapa big data adalah kekuatan besar.(IGP/Litbang Kompas)

Sumber: Kompas, 2 Februari 2019

Share
%d blogger menyukai ini: