Home / Berita / arkeologi-antropologi / Indonesia Negara Maritim, Tetapi Ilmu Kemaritiman Masih Terpinggirkan

Indonesia Negara Maritim, Tetapi Ilmu Kemaritiman Masih Terpinggirkan

Sejarah bangsa Indonesia adalah sejarah maritim. Namun demikian, bidang-bidang ilmu kemaritiman, mulai dari arkeologi maritim, arkeologi nautika, hingga arkeologi bawah air kurang ditangani secara holistik dari sisi kebijakan, pengembangan ilmu, sumber daya manusia, fasilitas, maupun tata kelembagaannya.

Bukanlah Indonesia negara kelautan atau kepulauan, dan negara ini menggalakkan konsep “tidak memunggungi laut” lagi? Demikianlah pertanyaan yang disampaikan budayawan sekaligus mantan Direktur Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan Nasional (sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Nunus Supardi.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN–Keramik China Dinasti Song abad ke-11 hingga 12 yang ditemukan di bawah laut pada sebuah kapal yang karam di Klarik, Natuna. Keramik ini sekarang disimpan di lobby Kantor Bupati Natuna, Ranai, Natuna, Kamis (27/09/2018). Nusantara dan China sudah menjalin hubungan diplomatik sejak ribuan tahun lalu

“Mengapa dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan serta instansi yang mengurus kearkeologian tidak merespon dan menggaungkan konsep tersebut? Saat saya bertanya tentang nasib arkeologi bawah air di beberapa universitas, selalu dijawab tidak ada ahlinya. Ilmu kan bisa dipelajari, kenapa kok kita justru mandeg?” ujar Nunus, Selasa (3/9/2019), di Jakarta.

Nunus menangkap kesan bahwa Indonesia ketinggalan atau lengah terhadap bidang ilmu arkeologi maritim. Pengalaman kelam datangnya pemburu harta karun asing, Michael Hatcher yang menggasak isi bekas kapal De Geldermalsen senilai 17 juta dollar AS pada tahun 1986 di perairan Kepulauan Riau dan 43 kontainer berisi keramik Cina, kepeng uang logam Cina dan gading dari Selat Gelasa, Perairan Bangka pada 1999-2000 menegaskan kurangnya perhatian kita terhadap kekayaan laut Nusantara.

Dalam peta “harta karun” di dunia, nama perairan Indonesia memang tercatat sebagai salah satu lokasi penting. Dari catatan buku The Nanking Cargo (1987) karya Antony Thorncroft, soal biografi dan tindak tanduk Michael Hatcher, tercatat perairan di sekitar Selat Malaka ini sudah diincar Hatcher sejak tahun 1972 (Kompas, 5 Juni 2000). Upaya Hatcher mengambil benda-benda muatan kapal karam akhirnya dilaksanakan beberapa tahun kemudian. Setidaknya ada dua peristiwa pengambilan benda muatan kapal oleh Hatcher yang terendus, yaitu tahun 1985-1986 dan 1990-2000.

“Waktu heboh Michael Hatcher jilid II itu, saya sempat kaget dan heran mendengar orang berbisik-bisik ‘yang di darat saja kewalahan kok ngurusi tinggalan bawah air’. Lho, kasus itu terjadi di depan kita dan menjadi tanggung jawab kita, masa kita diam saja? Kita tidak boleh memunggungi laut lagi,” ucapnya.

Malaysia sudah mengangkat beberapa kapal tenggelam sesuai kaidah arkeologi seperti kapal Desaru, Turiang dan Wan Lie. Demikian pula Brunei Darussalam sebagai negara kecil juga berhasil mengangkat beberapa kapal yang tenggelam di perairannya. Oleh karena itu, sangat ironis jika Indonesia sebagai bangsa maritim justru menyerah.

Oleh karena itulah, Nunus pernah mengusulkan ke sejumlah universitas, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Udayana Bali, dan Universitas Hasanuddin Makassar agar memberikan bahan mata kuliah khusus terkait arkeologi maritim atau arkeologi bawah air. Kebutuhan ahli-ahli arkeologi maritim kian mendesak karena sampai saat ini masih sangat banyak benda-benda arkeologis bernilai sejarah tinggi yang masih terpendam di tanah maupun karam di dalam perairan Indonesia.

KOMPAS/LASTI KURNIA–Kapal Karam Mawali Ragam terumbu karang tumbuh di tubuh kapal menjadi rumah bagi sejumlah biota laut. Kapal Karam Mawali tenggelam pada era Perang Dunia Ke-dua di perairan Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara, Selasa (14/6).

Penanganan Khusus
Arkeolog bawah air Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Shinatria Adhityatama mengungkapkan, penanganan benda-benda muatan bawah laut, baik kapal maupun segala benda di dalamnya yang tenggelam membutuhkan proses konservasi yang cukup rumit. Ia mencontohkan bagaimana perawatan kapal Batavia di Australia Barat butuh waktu yang cukup lama dan persiapan yang cukup matang.

Dalam konservasi, proses pembiayaan, pengadaan fasilitas, hingga ketersediaan ahli harus mengikuti prosedur yang ketat. Selain itu, konsistensi perawatan pada obyek juga harus dilakukan secara berlanjut sehingga kapal Batavia sekarang dapat terpajang dengan apik di Museum Shipwreck Gallery Freemantle di Australia Barat dan masih tetap bisa dipelajari.

“Sudah siapkah kita? Jangan sampai temuan-temuan seperti perahu kuno di Situs Lambur, Desa Lambur 1, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi malah rusak karena kita tidak siap melakukan konservasi. Sayang sekali jika kita kehilangan data-data arkeologi ini karena mungkin hanya sekali dalam hidup kita dapat menemukan situs perahu yang sebagus ini,” kata Adhit mencontohkan.

Situs Kapal Kuno di Desa Lambur, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Timur, Jambi, saat ekskavasi pada Sabtu (31/8/2019).

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN–Situs Kapal Kuno di Desa Lambur, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Timur, Jambi, saat ekskavasi pada Sabtu (31/8/2019).

Perahu kuno di Situs Lambur merupakan artefak yang rapuh karena dibuat dari bahan organik yang sangat mudah rusak dan hancur karena udara dan sinar matahari. Untuk konservasi lebih lanjut, situs tersebut sebaiknya ditangani oleh instansi yang tepat. Di Indonesia penanganan artefak semacam ini dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur di Magelang.

Menurut Agni Mochtar, peneliti arkeologi maritim dari Balai Arkeologi Yogyakarta, di Asia Tenggara tidak banyak ditemukan situs perahu dari tradisi kupingan-pengikat (lashed-lugs) dengan kondisi yang cukup lengkap seperti di Situs Lambur. Secara sekilas, tampak bagian-bagian perahu yang menunjukkan keunikan dibandingkan perahu-perahu lain dari tradisi yang sama, misalnya bentuk papan lambung (ketebalannya, susunan antar papan, bentuk tambuku) dan juga wing end (bagian ujung perahu) yang menjadi salah satu ciri khas tradisi rancang bangun perahu ini.

Tali pengikat dari ijuk (Arrenga pinnata) kapal ini juga menjadi bagian penting. Sayangnya, beberapa ijuk terlihat sudah dilepas dari konteksnya. “Situs ini memiliki nilai penting, tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk kawasan Asia Tenggara, sehingga sangat disayangkan jika sampai terjadi perlakuan yang salah,”ujarnya.–ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 4 September 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: