Home / Berita / Indonesia Butuh Kebun Raya Tanaman Obat

Indonesia Butuh Kebun Raya Tanaman Obat

Dari sekitar 30.000 hingga 40.000 jenis tumbuhan di Indonesia, 20 persen atau 7.500 di antaranya adalah tanaman obat. Namun, baru 200 spesies tanaman yang dibuktikan khasiatnya secara ilmiah. Ruang untuk melestarikan dan meneliti tanaman obat berupa kebun raya dinilai perlu dibangun segera.

Hal ini menjadi alasan Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) menginisiasi pembangunan Kebun Raya Tanaman Obat, bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai program Jaga Bhumi 2018-2019. Hampir dua tahun terakhir, YKRI membuat berbagai kegiatan untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan jumlah kebun raya di Indonesia.

Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) menginisiasi pembangunan Kebun Raya Tanaman Obat, bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai program Jaga Bhumi 2018-2019.

–Para peserta peluncuran gerakan Jaga Bhumi periode ke-2 tahun 2018 – 2019 foto bersama di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (21/11/2018). Dalam acara yang jatuh pada Hari Pohon Sedunia tersebut, Yayasan Kebun Raya Indonesia mengumumkan inisiasi untuk membangun Kebun Raya Tanaman Obat pertama di Indonesia.

“Kali ini, kami menginisiasi kebun raya tanaman obat pertama di Indonesia. Hal ini penting mengingat masyarakat Indonesia secara turun temurun mengonsumsi obat-obatan tradisional. Saat ini juga, gencar gerakan untuk kembali ke alam,” tutur Wakil Ketua II YKRI Alexander Sonny Keraf kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Ia menjelaskan, pemilihan tema tanaman obat untuk pembangunan kebun raya kali ini terinspirasi dari kebun raya di Italia, Orto Botanico. Kebun raya pertama di dunia ini didirikan untuk tempat penelitian dan praktikum tanaman obat oleh mahasiswa hingga peneliti.

“Untuk pembangunan (kebun raya tanaman obat di Indonesia) ini, kami dengan LIPI masih mencari lokasi yang tepat. Harus ada dataran rendah, sedang, tinggi agar semua tanaman obat dapat tumbuh di topograf yang sesuai,” lanjut Sonny. Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sudah menyatakan bersedia menyediakan lahan kebun raya tersebut.

ERIKA KURNIA UNTUK KOMPAS–Foto bersama peserta peluncuran program Jaga Bhumi 2018-2019 di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, pembangunan kebun raya khusus untuk tanaman obat diperlukan untuk konservasi dan penelitian tanaman obat lebih lanjut. Ia menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia baru memanfaatkan 1.300 jenis tumbuhan sebagai obat tradisional. Sementara itu, baru 200 jenis yang telah digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional.

“Untuk meneliti lebih jauh 900 jenis tanaman obat lainnya, kita perlu kebun raya tersebut,” ujarnya. Dari total 37 kebun raya yang dimiliki Indonesia, 26 di antaranya sudah memiliki koleksi tanaman obat.

Berdasarkan Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) tahun 2012-2017, terdapat 6.000-7.000 tanaman obat di Indonesia. Dari Ristoja 2012 (Kompas, 26/2/2015) teridentifikasi 15.773 ramuan dari 26 provinsi di luar Jawa dan Bali. Ramuan dari tanaman obat tersebut umumnya dibuat untuk kondisi seperti demam, sakit kepala, masalah kulit, dan gangguan pencernaan.

Namun sejauh ini, (Kompas, 13/5/2017), baru terdapat sekitar 5.000 simplisia bahan baku obat tradisional yang telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara itu, 16 produk fitofarmaka telah teregistrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan. Fitofarmaka adalah sediaan obat dari tanaman alami yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik.

Kebun Raya Mangrove
Sementara itu, pembangunan Kebun Raya Mangrove yang menjadi program pertama Jaga Bhumi 2017-2018 terus berjalan. Kebun raya yang disebut sebagai kebun raya mangrove pertama di dunia ini dibangun di kawasan pantai timur Surabaya, Jawa Timur.

Pembangunan Kebun Raya Mangrove, yang luasnya diperkirakan mencapai 200 hektar tersebut, melibatkan Pemerintah Kota Surabaya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), YKRI, dan LIPI. Pada hari Rabu kemarin, bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia 2018, YKRI menyerahkan donasi sebesar Rp 2,5 miliar untuk pembangunan Kebun Raya Mangrove.

ERIKA KURNIA UNTUK KOMPAS–Kota Surabaya menerima donasi sebesar Rp 2,5 miliar untuk pembangunan Kebun Raya Mangrove dari penyelenggara program Jaga Bhumi. Penyerahan tersebut dilakukan oleh Ketua I YKRI Michael Sumarijanto kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, pembangunan kebun raya ini sangat berguna untuk mencegah ancaman banjir akibat air laut pasang atau rob di kawasan pesisir. Hampir 50 persen wilayah di Kota Surabaya berbatasan dengan laut, yaitu Selat Madura dan Laut Jawa.

Pembangunan Kebun Raya Mangrove sangat berguna untuk mencegah ancaman banjir akibat air laut pasang atau rob di kawasan pesisir Surabaya.

Ia mengatakan, hutan mangrove atau bakau mulai kritis karena tanamannya kerap diambil kayunya untuk dijadikan arang. Berkurangnya tanaman mangrove di pesisir Surabaya juga telah merugikan nelayan karena banjir juga merusak perahu mereka.

Program revitalisasi daerah pesisir yang telah dilakukan beberapa tahun terakhir, menurut Risma, telah mengurangi titik banjir di kota tersebut. “Dengan menerapkan program yang ramah lingkungan berbagai masalah bisa kami selesaikan dan terbukti menghasilkan nilai ekonomi,” ujarnya.

ERIKA KURNIA UNTUK KOMPAS–Tri Rismaharini (tengah)

Risma pun optimistis pembangunan Kebun Raya Mangrove dapat menambah kesejahteraan masyarakatnya, selain menjalankan fungsi kebun raya sebagai lokasi konservasi dan edukasi. Kebun Raya Mangrove telah mulai menjadi tempat wisata dengan memberdayakan para nelayan. Ke depan, kebun raya tersebut akan ditanami tanaman obat.

Kehadiran Kebun Raya Mangrove juga dinilai akan mendukung pengurangan karbon dioksida yang menyumbang pemanasan global. Berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ekosistem mangrove di Indonesia berperan dalam 17 persen penyimpanan karbon biru (karbon yang diserap di dalam laut) di dunia, dengan luas kawasan mangrove yang mencapai 23 persen dari hutan mangrove global.

Hingga 2018, Indonesia baru memiliki 37 kebun raya di 18 ekoregion yang ada di 20 provinsi. Ekoregion merupakan daratan atau perairan yang luas dengan komunitas dan kondisi lingkungan yang bersatu dalam satu lingkup geografis. Pada 2030, Indonesia ditargetkan memiliki minimal satu kebun raya di 47 ekoregion yang ada. (ERIKA KURNIA)–YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 22 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...