Implikasi Pertarungan Iptek Dua Raksasa

- Editor

Rabu, 9 Februari 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas, Selasa (8/2), menurunkan hasil diskusi tentang upaya pemanfaatan potensi kelautan yang sering disebut dengan istilah ”Revolusi Biru”. Majalah Scientific American (Februari 2011) juga memuat artikel ”A Blue Food Revolution” karya Sarah Simpson.

Munculnya gagasan ”Revolusi Hidangan (Laut) Biru” ini tak bisa dilepaskan dari laporan bahwa kebutuhan akan daging semakin mahal untuk dipenuhi karena produksinya membutuhkan banyak energi, air, dan mengeluarkan banyak emisi, sementara perikanan alam (wild fisheries) merosot. Akuakultur menjadi satu alternatif yang bisa menjamin keberlanjutan pasokan sumber protein bagi manusia.

Di mana inovasinya? Selama ini, menurut Simpson, peternakan ikan yang sejauh ini memasok separuh produksi hidangan laut global dilakukan di sepanjang garis pantai. Ini rupanya telah ikut menciptakan banyak polusi air yang tak bisa diabaikan. ”Revolusi Hidangan Biru”, yang dilakukan dengan membangun jala lepas pantai berukuran besar yang diikat dengan jangkar di dasar laut, bisa menawarkan metode pengembangan ikan yang lebih bersih dan menjadi sumber protein yang amat diperlukan dalam jumlah besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang memprakarsai berdirinya Komite Inovasi Nasional (KIN), dari awal pun telah mengenali potensi kelautan ini dan mengunggulkannya sebagai semboyan (tagline) KIN. Namun, masih perlu dilihat, seberapa jauh KIN dapat menjadi agen pendorong terwujudnya ”Revolusi Hidangan Biru” yang bukan saja bisa mencukupi kebutuhan protein masyarakat serta meningkatkan ekonomi bangsa, khususnya kaum nelayan, melainkan berkontribusi pula pada perbaikan lingkungan pantai.

Ya, inovasi dalam berbagai bidang kini telah menjadi satu keniscayaan apabila satu bangsa atau perusahaan ingin tetap berjaya. Dalam kaitan ini pula, inovasi—dalam bingkai pengembangan iptek secara keseluruhan—menjadi tema utama bangsa-bangsa di dunia. Di puncak kompetisi antarbangsa, tiada persaingan yang begitu sengit seperti yang kini terjadi antara Amerika Serikat dan China.

Dua raksasa

John Bussey di The Wall Street Journal, Senin (7/2), menurunkan analisis bertajuk ”Perusahaan AS, China Bertarung untuk Mendominasi Teknologi”. Pengamat politik tentu juga mengetahui pertarungan menguasai iptek ini juga jadi tema Pidato Kenegaraan Presiden AS Barack Obama yang menyadari isu ini tak diragukan lagi akan mendominasi hubungan AS-China ke depan.

Di pihak China, persiapan menghadapi pertarungan yang akan menentukan kejayaan dan masa depan ini ditandai dengan dikeluarkannya sederet peraturan dan belanja negara yang akan menjadikan China sebagai kekuatan teknologi pada 2020.

Misalnya, dalam prakarsa baru ini—yang dimotivasi oleh meningkatnya rasa nasionalisme dan pandangan bahwa perusahaan asing mendominasi teknologi secara tidak adil—ada kebijakan untuk investasi besar-besaran dalam industri kunci nasional. Juga ada peraturan hukum tentang paten yang menguntungkan perusahaan China. Perusahaan asing juga diwajibkan untuk melakukan alih teknologi jika ingin menjual produknya di pasar China.

Peta jalan yang ada memperlihatkan, China akan membangun dominasi dengan jalan ”meningkatkan inovasi orisinal melalui ko-inovasi dan re-inovasi didasarkan pada asimilasi teknologi impor” (Dari Rencana Pembangunan Sains dan Teknologi Jangka Menengah dan Panjang, 2006-2020).

Melihat langkah strategis yang dilakukan tidak saja oleh China, tetapi juga India, Presiden Obama menegaskan, AS harus mengalahkan kedua kekuatan baru di atas, juga sisa dunia lain, dalam inovasi dan pendidikan serta dalam membuat karya.

Percekcokan AS dan China dalam urusan perdagangan sendiri sebenarnya sudah sering terjadi. Namun, ketika China mengayunkan langkah strategis baru yang sifatnya fundamental dan berjangkauan luas mendalam, AS pun tak lagi menganggap itu sebagai hal biasa, tetapi krisis.

Sputnik kedua

Boleh jadi karena sadar negaranya tengah ditantang serius, sebagaimana dulu pada paruh kedua 1950-an AS dihadapkan pada ancaman serangan rudal nuklir Uni Soviet yang berhasil meluncurkan satelit buatan pertama, Sputnik, kini Presiden AS dalam Pidato Kenegaraan State of the Union pun menyebut bahwa satu ”momen Sputnik” baru telah tiba. Dengan mengacu pada derap iptek serta inovasi China dan India, Obama menyerukan kepada rakyat AS untuk membangkitkan kembali energi kreatif.

Kini, secara militer, China belum mencapai tingkat ancaman seperti Uni Soviet pada masa Perang Dingin. Namun, mengapa AS cenderung menganggap ancaman China bukan lagi the crisis of the day, melainkan the crisis (meminjam ucapan seorang eksekutif bisnis yang dikutip John Bussey).

AS merasa pihaknya kini dihadapkan pada krisis besar. Itu sebabnya, Obama menyerukan agar dalam hal inovasi, pendidikan, dan membangun/membuat karya, China dan siapa pun harus dikalahkan.

Namun, kemakmuran baru yang diraih China memungkinkan negara ini dalam posisi bersaing untuk mendapatkan lulusan Cambridge dan Chicago. Dalam memacu upaya keunggulan inovatif pun tampak ada terobosan yang dilakukan China. Sementara di pihak AS, langkah seperti itu harus didahului dengan mengubah aturan imigrasi menjadi lebih longgar, khususnya bagi mahasiswa asing yang setelah menyelesaikan studi di AS dan ingin tetap tinggal di AS.

Menyimak era persaingan besar seperti diperlihatkan kedua titan itu, di mana posisi RI? Sejauh inisiatif yang ada, seperti KIN dan Komite Ekonomi Nasional, tidak ditindaklanjuti konsensus nasional untuk menegakkan ekonomi inovasi, dan energi serta waktu masih lebih banyak dihamburkan untuk pertarungan politik dan meredam gejolak sosial seperti yang belakangan sering terjadi, konsentrasi untuk mencapai prestasi ekonomi inovasi pun sirna. Dan, Indonesia yang berjaya berhenti sebagai mimpi di siang bolong. [NINOK LEKSONO]

Sumber: Kompas, 9 Februari 2011

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB