Catatan Iptek;Menyimak Cerita Laut

- Editor

Rabu, 7 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lautan. Lebih dari 70 persen permukaan Bumi berupa lautan dengan rata-rata kedalaman lebih dari 3 kilometer. Kita abai terhadap pemahaman tentang laut.

Demikian luas dan dalamnya lautan. Kita tak hirau bahwa di perut laut ada jutaan jenis makhluk hidup. Menurut ilmuwan, mungkin terdapat 10 juta—bahkan bisa jadi 100 juta—makhluk hidup yang ada di lantai dasar samudra belum ditemukan!

Sementara asumsi yang ada di benak banyak orang adalah lautan mampu ”menelan segala”. Bagi kita, laut adalah bak sampah raksasa yang takkan pernah penuh. Kita tak mengindahkan lautan sebagai sebuah ekosistem, sebagai kumpulan habitat bagi berbagai jenis makhluk hidup. Padahal, kehidupan ada. Bahkan, pada kedalaman 3 kilometer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari time.com, mengutip laporan Ocean Conservancy, bekerja sama dengan McKinsey Center for Business and Environment, hingga tahun 2025, sampah plastik di laut akan mencapai 1 ton per 3 ton ikan tuna. Di lautan, di seluruh dunia, terdapat 5,25 triliun potong sampah plastik! Berbagai ukuran.

Dari yang berukuran mikron—satu per miliar meter (0,000001 meter)—hingga kantong plastik ukuran besar. Dari jenis plastik lembut tipis hingga kaku. Bukan hanya mencemari, plastik pun meracuni. Melalui rantai makanan di lautan, racun itu bisa tersaji di atas meja makan melalui hidangan masakan laut.

Belum lagi, plastik-plastik itu akan membunuh hewan. Plastik yang terpotong-potong kecil dan transparan akan tampak seperti plankton, yang sering disebut grass of the sea—seperti rumput makanan sapi—bagi paus dan beberapa hewan lain. Maka, satwa-satwa itu terancam teracuni. Kantong plastik pun bisa ”membungkus” kepala hewan, seperti penyu atau lumba- lumba, yang bisa mengakibatkan kematian.

Laut pun memiliki fungsi lain, yaitu sebagai penunjang utama kehidupan—yang ini nyaris tak kita kenali. Laut secara tidak langsung adalah sumber kehidupan.

Dengan membakar bahan bakar fosil sejak zaman industri 150 tahun lalu, konsentrasi gas rumah kaca (GRK) meningkat. Gas yang disetarakan dengan gas karbon dioksida itu mengakibatkan pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim. Penguapan air laut pun berubah yang mengakibatkan musim juga berubah. Meningkatnya temperatur air laut langsung mengancam keberlangsungan hidup terumbu karang—yang di antaranya berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan.

Sementara akibat konsentrasi tinggi GRK, terjadi pengasaman air laut. Ketika air laut semakin asam, turun 0,1—sejak setengah juta tahun lalu—tingkat keasaman air laut ajek pada angka 8,2, maka kehidupan biota laut pun terancam.

Kita tak sepenuhnya menyadari bahwa samudra adalah mesin iklim yang memutar siklus iklim bumi. Rotasi bumi, variasi posisi relatif bumi terhadap matahari akibat revolusi matahari (putaran matahari), serta banyaknya energi atau panas matahari yang diserap bumi memengaruhi pergerakan air laut.

Perputaran bumi, pemanasan udara yang menyebabkan perbedaan tekanan udara, menyebabkan terjadinya angin dan pada akhirnya melahirkan arus laut. Sementara, pergerakan vertikal massa air laut terjadi akibat perbedaan salinitas dan temperatur pada massa air laut. Pola perputaran massa air laut, juga menciptakan pola gudang makanan bagi makhluk hidup atau ikan-ikan di laut yang bakal menjadi makanan kita.

Itulah cerita tentang laut, tentang kelangsungan kehidupan yang nyaris tak pernah kita simak.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Menyimak Cerita Laut”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi
Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli
Menjadi Detektif Masa Depan. Mengenal Profesi Data Scientist yang Sedang Hits!
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Berita ini 31 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:00 WIB

Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:38 WIB

Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB