Kawasan Iptek; Pusat Unggulan Butuh Terobosan

- Editor

Senin, 19 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah mencanangkan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi sumber daya alam dan introduksi iptek untuk mendukung industri terkait. Program-program itu di antaranya Kawasan Ekonomi Khusus, Science and Techno Park, Techno Park, dan Pusat Unggulan Iptek. Bahkan, tahun 1990-an muncul nama Kawasan Ekonomi Terpadu. Sayangnya program-program itu belum berkembang dan berlanjut.

“Perlu ada pendekatan baru,” kata Pelaksana Tugas Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarief Widjaja, Sabtu (17/10) di Bogor, Jawa Barat, dalam pembahasan terkait laporan kegiatan Pengembangan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (PK2PT).

Berdasarkan kunjungan ke Merauke, Sangihe, dan Natuna yang akan dijadikan proyek PK2PT, Syarief menemukan fasilitas, seperti pusat pembenihan ikan dan fasilitas pengolahan ikan, belum berjalan, rusak sebelum dioperasikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Data yang ada, 147 dari 816 lokasi kawasan perikanan terpadu terbengkalai dan tersendat pembangunannya. “Pembangunan fisik saja tak cukup, harus ada pembangunan manusia,” kata Syarief, yang juga Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Oleh karena itu, pelatihan diperlukan bagi nelayan setempat tentang teknik penangkapan dan pengolahan ikan. Peningkatan jumlah sumber daya manusia bidang perikanan dengan mengembangkan sekolah SMK kelautan dan perikanan di daerah, misalnya mendirikan SMK KP di Natuna.

Pengoperasian pusat industri kelautan dan perikanan terintegrasi juga tak hanya memerlukan pelabuhan pendaratan ikan yang sesuai jenis kapal nelayan. Namun, perlu juga fasilitas pendukung, seperti stasiun pengisian bahan bakar, ruang pendingin tempat penyimpanan ikan, suplai air bersih, dan jalur pemasaran ke sejumlah wilayah, termasuk ke luar negeri. Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi Natuna, misalnya, target pemasarannya ke Hongkong.

Mengatasi fasilitas terbengkalai, Syarief berharap ada identifikasi masalah, pendataan ulang potensi dan kebutuhan masyarakat setempat. Dengan begitu, pusat pertumbuhan dapat berkembang sehingga meningkatkan perekonomian warga.

Direktur Perencanaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono menambahkan, pihaknya sedang menginventarisasi potensi dan masalah untuk masukan penyusunan tata ruang laut di kabupaten yang akan jadi K2PT, yang mencakup Technopark Kelautan dan Perikanan.

Dalam program KKP, ada 7 K2PT di wilayah terdepan yang akan dibangun, di antaranya Simeulue, Natuna, Maluku Tenggara Barat, Sangihe, Talaud, dan Merauke. Di sana akan dibangun Techno Park yang akan mengintroduksi hasil inovasi teknologi, seperti pembibitan ikan, teknik pengolahan, dan pengemasan hasil perikanan. (YUN)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Pusat Unggulan Butuh Terobosan”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB