Hujan Lebat di Awal Kemarau

- Editor

Selasa, 24 April 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hujan lebat dan gelombang tinggi melanda sebagian wilayah Indonesia pada Senin (23/4). Kondisi ini diperkirakan berlangsung tiga hari ke depan sebelum masuknya musim kemarau.

“Kehadiran MJO (Madden Julian Oscilation) fase basah yang memicu banyak hujan hari-hari ini dapat meredam suhu panas dan hari kering di beberapa daerah yang saat ini sudah mengalami hari tanpa hujan lebih dari satu bulan,” kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto di Jakarta.

Fenomena MJO merupakan pergerakan massa udara mengalir di garis khatulistiwa dengan periode basah dan kering bergantian. “Saat ini berlangsung MJO fase basah di Indonesia bagian barat dan tengah dan diprediksikan merambat ke timur hingga awal Mei,” kata dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

–Intensitas hujan di berbagai wilayah Indonesia menurut pantauan BMKG.

Menurut Siswanto, hujan kali ini hanya menjadi jeda sebelum sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim panas pada akhir April 2018 nanti. “Sekalipun terjadi MJO basah, ini tidak akan menunda musim kemarau,” kata dia.

Menurut analisis BMKG, daerah yang pertama kali memasuki kemarau adalah Provisinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Baratdan Bali, lalu merambat perlahan ke arah barat dan utara ke Pulau Jawa, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Kalimantan dan Sumatera yang memasuki awal kemarau secara umum di bulan Mei. “Memasuki Mei musim kemarau dominan di semua tempat di Pulau Jawa,” kata dia.

Beberapa daerah diperkirakan sudah memasuki musim kemarau pada akhir April 2018. Hujan kali ini akan berlangsung hingga tiga harian. Sumber: BMKG, 2018

Peringatan Dini
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi hingga tiga hari ke depan. Selain disebabkan mengalirnya MJO fase basah, hal ini juga dipicu adanya sirkulasi siklonik di sekitar perairan wilayah Indonesia.

Analisis BMKG, sirkulasi siklonik terjadi di Laut Cina Selatan sebelah barat laut Kalimantan (level 925/900 milibar), di barat daya Sumatera (level 925/900mb), Selat Karimata (level 925/900mb) dan di Maluku Utara (level 925/800mb). Sedangkan konvergensi atau pemusatan angin terbentuk memanjang dari Jambi, Selat Karimata bagian tengah, Kalimantan Barat, Laut Sulawesi. Daerah belokan angin terdapat di wilayah Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku.

Wilayah yang berpotensi dilanda cuaca ektrem ini di antaranya Pesisir Barat Sumatera, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sementara potensi gelombang dengan tinggi 2,5 – 4 meter diperkirakan terjadi di Perairan Barat Sabang, Perairan Barat Aceh, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Barat Kep. Mentawai, Perairan Bengkulu – Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa hingga Sumbawa, Selat Bali – Selat Lombok – Selat Alas bagian Selatan, Perairan Selatan Pulau Sumba – PulauSawu.

“Masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin,” kata Mulyono.

Pantauan BMKG untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, hujan dengan kategori ringan hingga lebat terjadi pada hari Senin ini pada pagi hingga malam hari. Sedangkan 20 tempat dengan curah hujan tertinggi di Indonesia hingga Senin siang terpantau di Namlea, Maluku dengan intensitas 186.0 milimeter (mm), Sangkapura, Pulau Bawean dengan intensitas 111.0 mm, dan Tanjungpinang, Kepulauan Riau Kijang dengan inensitas 101.0 mm. Untuk Jakarta curah hujannya 21.4 mm.

“Tiga daerah dengan curah hujan di atas 100 mm di atas tidak termasuk di daerah yang diprediksi sudah memasuki musim kemarau pada akhir April ini,” kata Siswanto.–AHMAD ARIF
Sumber: Kompas, 24 April 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru