Home / Berita / Hari Meteorologi Sedunia; Informasi Iklim Panduan Hidup Masyarakat

Hari Meteorologi Sedunia; Informasi Iklim Panduan Hidup Masyarakat

Curah hujan, kecepatan dan arah angin tergolong informasi cuaca dan iklim yang tradisional. Data tersebut perlu diolah lebih lanjut untuk kemanfaatan yang lebih luas di berbagai sektor kehidupan masyarakat saat ini.

Jenis informasi iklim di Indonesia masih primitif dan terbatas untuk pertanian serta transportasi. Informasi ini perlu perbaikan dan pengembangan untuk memenuhi kebutuhan tiap sektor, demikian dikatakan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian.

Ia memberi contoh, dengan memadukan data cuaca dan data perkembangan penyakit tertentu dapat diketahui kecenderungan atau pola penyebarannya. Penyakit parasit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah dan malaria, akan dapat berjangkit pada masa peralihan musim.

Sektor kesehatan di Indonesia tergolong yang belum memanfaatkan data iklim. Hal ini, menurut Edvin, perlu mendapat perhatian karena perubahan iklim berdampak langsung pada kondisi kesehatan dan kefatalan pada manusia.

Dalam sambutan pada Hari Meteorologi Sedunia, Rabu (23/3) di Jakarta, Kepala BMKG Sri Woro B Harijono menyinggung masalah itu. Perubahan iklim berdampak pada meningkatnya bencana.

Ia menyatakan, pantauan cuaca dunia menunjukkan, suhu yang tercatat dalam waktu 10 tahun terakhir meningkat hampir 0,5 derajat dibandingkan rata-rata suhu tahun 1961-1990. Kondisi ini telah menyebabkan munculnya fenomena cuaca dan iklim ekstrem di seluruh dunia yang mengakibatkan bencana.

Kecenderungan ini sejalan dengan fakta yang dipublikasikan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam Forth Assessment Report (AR4). Gelombang panas di Rusia, misalnya, telah menewaskan 374.000 orang tahun lalu. Korban yang tewas akibat gelombang panas pada musim panas tahun yang sama mencapai 56.000 orang.

Sebaliknya, musim dingin yang ekstrem melanda beberapa negara Eropa. Bencana lain, seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan, dialami beberapa negara di Afrika, Amerika Latin, China, dan Pakistan.

Iklim untuk kita

Menyadari penting iklim bagi kehidupan manusia, Badan Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mengangkat ”Climate for You’’ (”Iklim untuk Kita Semua”) sebagai tema peringatan Hari Meteorologi Sedunia tahun ini.

Iklim memiliki arti strategis bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, masyarakat dunia perlu lebih peduli pada keberadaan iklim, variabilitasnya, hubungan timbal-balik, sebab-akibat dengan manusia dan lingkungannya, serta kaitan dengan upaya adaptasi dan mitigasi atas perubahannya, Sri Woro menguraikan.

Pelayanan informasi iklim merupakan kuncinya, yang difokuskan pada peningkatan ketahanan pangan dan menghadapi dampak perubahan iklim. ”Harus diupayakan agar masyarakat memahami dan memanfaatkan informasi iklim yang tersedia. Kondisi saat ini belum terlihat kebutuhan informasi iklim di masyarakat,” kata Edvin.

Selain itu, perlu membangkitkan minat masyarakat pada informasi iklim bagi kehidupan sehari-hari, mereka perlu berpartisipasi untuk membantu pemantauan cuaca dan iklim di lingkungannya.

Saat ini di Indonesia hanya ada 178 stasiun cuaca. Jumlah ini sangat tidak memadai. Untuk wilayah Indonesia yang sangat luas diperlukan ribuan stasiun cuaca. Partisipasi industri masih terbatas di sektor pertambangan dan perkebunan.

Di masa depan perlu partisipasi swasta dan pemerintah daerah untuk membangun stasiun cuaca.

Di China, iklim digunakan untuk perencanaan wilayah, sebagai dasar untuk memindahkan perkebunan atau pertanian komoditas pangan tertentu untuk mengoptimalkan produksi. Banyak negara telah mengembangkan informasi iklim untuk tujuan yang bersifat strategis dan jangka panjang.

Program BMKG

Untuk meningkatkan kemampuan pelayanan informasi cuaca dan iklim, dalam tiga tahun mendatang, terutama terkait ketahanan pangan, kata Sri Woro, stasiun BMKG menjalin kerja sama dengan 33 Balai Pertanian Tanaman Pangan (BPTP).

Dalam kesepakatan diinventarisasi kebutuhan BPTP terhadap informasi iklim di daerah yang menjadi tanggung jawabnya dan hasilnya dijadikan sebagai referensi bagi UPT-BMKG setempat dalam meningkatkan layanannya sehingga lebih mendekati kebutuhan pengguna.

Salah satu tindak lanjut kerja sama itu adalah pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim yang menjembatani informasi yang dihasilkan oleh BMKG agar dapat dipahami dalam konteks waktu kegiatan penanaman.

Melalui Indonesian Climate Change Trust Fund (ICCTF), BMKG melakukan sosialisasi tema ketahanan pangan kepada petani dan nelayan, serta kepada masyarakat umum, termasuk kurikulum anak didik pada tingkat SD, SMP, dan SMU/SMK.

Untuk meningkatkan pelayanan informasi iklim kepada masyarakat pesisir, kata Sekretaris Utama BMKG Andi Eka Sakya, pihaknya menjalin kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menyampaikan informasi cuaca kepada petani garam dan nelayan.

Untuk itu, SLI akan diperluas dari sektor pertanian ke sektor perikanan. Informasi iklim akan diberikan kepada nelayan dan petani garam. Mereka perlu informasi yang cepat dan akurat.

Dalam hal ini perlu ada yang menerjemahkan dan menjembatani informasi iklim yang dikeluarkan BMKG sehingga para petani mengerti.

Edvin menambahkan, mengingat luasnya wilayah perairan di Indonesia, BMKG menjalin kerja sama dengan perusahaan pelayaran untuk memberikan data cuaca kelautan, antara lain informasi angin dan arus laut. [Yuni Ikawati]

Sumber: Kompas, 25 Maret 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: