Home / Berita / Hantu Cebol dari Tangkoko

Hantu Cebol dari Tangkoko

Pengantar: Salah satu satwa liar unik di dunia ini ada di Sulawesi Utara. Wartawan Kompas Harry Surjadi dan Rudy Badil yang sempat ke sana pada bulan lalu, beruntung dapat memergoki binatang ini untuk dua tulisannya di bawah ini.

Apa karena hantu itu, katanya, takut sama cahaya matahari. Maka, kalau ada binatang yang baru berani keluar sarang saat matahari tenggelam lalu cepat-cepat masuk sarang lagi di saat menjelang muncul surya pagi, juga dinamakan binatang hantu. Hal ini memang perumpamaan saja, sebab di dunia satwa kini, masih ada binatang nokturnal atau binatang malam. satwa yang di saat hari gelap, baru bergentayangan dan berperilaku hidup seutuhnya, seringkali namanya diberi embel-embel hantu, misalnya burung hantu. Di Sulawesi, sejak dulu sampai kini masih ada binatang hantu yang bukan unggas, namun binatang ini masuk kelas Mammalia atau menyusui, satu ordo dengan kera besar seperti orang utan dan lainnya, namun binatang hantu yang dibicarakan ini, di Cagar Alam Tangkoko, Bitung Sulawesi Utara, bernama lokal tangkasi.

Bentuk binatang berordo primata dengan anatomi tubuh mirip kera dan monyet, sama sekali tidak mirip setan belang atau iblis putih yang besar, malah potongannya mirip badut cebol yang imut-imut lucu. Bayangkan saja tubuhnya yang berbulu halus abu-abu pasir kekuningan dan berkilat, cuma setinggi 9,5-14 sentimeter. Ekornya malah lebih panjang dengan ukuran 20-26 sentimeter dengan jumbaian bulu di ujungnya yang mirip kuas. Mukanya, ya mukanya yang lucu, karena paling mencolok justru besarnya sepasang mata bola serta dua kuping tegak yang tak proporsional dengan kecilnya ”muka”. Begitu kira-kira gambaran tampang tangkasi dalam skripsi Ermayanti (Universitas Nasional, 1988).

Ini memang potret unik binatang asal Sulawesi. Tangkasi sebagai salah satu dari 68 jenis Mammalia endemik di sana, dari 114 jenis Mammalia yang sudah diketahui oleh beberapa ahli dianggap memiliki kisah lama perihal persebaran fauna masa lampau dan masa kini. Juga tangkasi ini merupakan penghuni asli tanah Sulawesi yang disebut-sebut dalam bahasa ilmiah sebagai ”daerah biogeografi Wallacea” (meliputi beberapa pulau sekitarnya dan Maluku), di mana memiliki ciri campuran unsur fauna dan flora oriental di asia dan Australia.

Patoknya dari air kencing
Tangkasi atau Tarsius spectrum dari Tangkoko ini, malah makin lucu kalau melihat gerak-geriknya. Bayangkan kepala kera itu seenaknya dapat menoleh ke kiri dan ke kanan sampai 180 derajat. Tubuh setan cebol ini pun cuma berbobot antara 110-120 gram saja, sedangkan tangannya lebih pendek dari sepasang kaki yang panjang dan mampu meloncat sampai sekitar 2 meteran. Tangkasi dengan subordo Prosimia dari famili Tarsida dan terhitung masuk genus Tarsius dari Bitung Sulut ini sebenamya wakil dari spesies Tarsius spectrum yang dianggap endemik satwa khas Sulawesi, tersebar antara lain di daratan Sulawesi, termasuk di Pulau Sangihe dan Pulau Peleng.

Sebagai binatang malam, tangkasi Tangkoko ini menurut penelitian beberapa pakar memang hanya berakfitas di malam hari. Sejak keremangan senja, binatang yang hidup di kerumunan pepohonan bagian bawah, mulai meloncat-loncat mencari mangsa. Sebagai pemakan serangga (insektivora) dan juga karnivora, tangkasi ini selain mengudap segala macam serangga termasuk semut, kecoa dan kalajengking, juga primata yang tubuhnya sebesar pisang ini gemar menyantap cecak, tikus kecil dan juga burung kecil.

Bersenjata kuku tajam di ujung jari tangannya (juga kakinya) yang ada bantalan ini, tangkasi dengan mata bolanya dan ketajaman pendengaran kupingnya, begitu lihai segera menyergap mangsanya dengan kedua tangannya, lalu mematikan dengan gigitan di kepala mangsanya. Biasanya, setelah itu tangkasi baru membawa mangsanya ke atas pohon atau ke balik semak, di sana baru memakaan korbannya segar-segar.

Sebagai binatang yang setia dan hidup monogami, pasangan tangkasi jantan-betina ini membentuk kelompok kecil bersama keturunannya yang belum dewasa. Mereka berkelompok hidup bersama dalam rongga batang pohon besar, serta mengenal asas teritorial. Daerah sekitaran lubang pohon huniannya termasuk semak dan pepohonan sebagai wilayah perburuannya ini, dipertahankan betul-betul. Setiap hari sebelum kawanan kecil hewan unik ini masuk sarang mereka selalu membunyikan (atau menyanyikan) suara cicitan yang rumit. Biasanya, sang jantan sebagai pimpinan keluarga membunyikan suara cicitan panjang yang teratur. Sang tangkasi betina pun menimpali dengan rangkaian lantunan cicitan yang menurun yang ujungnya melonjak ke tangga nada lengkingan yang tinggi sekali.

Teriakan (calling) ini dianggap sebagai pernyataan, kalau keluarga tangkasi di sekitaran daerah itu sehat-sehat dan menuntut kalau wilayah ini milik mereka. Bila ada tetangga, keluarga tangkasi lainnya yang berani mendekat, maka mereka akan mengejar atau mengusir penyeludup itu keluar wilayahnya. Tidaklah aneh kalau dalam kejar-mengej ar ini, sering terdengar suara teriakan keras. Justru teriakan khas binatang hantu ini, merupakan petunjuk sangat baik untuk menemukan dan menentukan pohon tidur keluarga tangkasi itu di hutan lebat. Sebab paling tidak tiap pagi dan sore hari, pasti akan terdengar pasangan tangkasi. Setelah itu barulah di sela hutan bersemak kusut, di antara jalinan batang tumbuhan memanjat, di rongga pohon paku-pakuan lebat atau di lubang pohon ara yang penuh akar-akar yang malang melintang, dapat ditentukan dan ditemukan ”sarang” tangkasi. (Ekologi Sulawesi, 1987) .

Setiap sore hari mulailah mereka berloncatan mengembara ke arah berbeda-beda di lingkungan teritorinya. Masing-masing tangkasi ini menggunakan kehandalan loncatan kaki belakangnya, meloncat dari satu ranting atau dahan pohon ke lainnya. Mereka berburu mangsanya sampai sejauh 1 kilometer, serta menyergap mangsanya itu sampai di ketinggian sekitar 9 meter, atau bahkan sampal di atas lantai hutan sekalipun.Tangkasi jantan diketahul paling aktif mengembara sampal di ujung batas teritorinya, malah sang jantan ini pula biasanya yang membuat ”patok” perbatasannya dengan air kencing. Dari bebauan urine, ditambah bau anggota badan dan kelenjar tubuh inilah, tiap kelompok tangkasi mengakui kedaulatan kelompoknya dan kelompok lain, walau di beberapa daerah tertentu memang ada teritori yang saling berhimpitan. Namun yang pasti, pohon tidur kelompok tangkasi ini, pasti berada di lingkungan eksklusif dan tak ada pengganggunya.

Ermayanti dibantu suaminya, Drs. Haerudin R. Sudjudin, selama meneliti di Tangkoko, menganggap dalam satu teritorial tangkasi, tidak hanya ada satu pohon tidur yang tetap. Upaya ini untuk mencegah andaikan ada gangguan lain, mereka masih memiliki pohon tidur cadangan yang lain. Selain memakai lengkingan suara mencicit,tangkasi juga diduga berkomunikasi dengan menggunakan bau air kencingnya itu.

Tangkasi yang ditaksir umurnya mencapai rata-rata 10 tahun, serta mencapai usia dewasa setelah setahun. Anakan tangkasi setelah dikandung 6 bulan, dirawat telaten induknya sampai cukup umur untuk mencari jodoh dan hidup membentuk kelompok baru. MacKinnon dan MacKinnon (1980) menganggap satwa setan ini memiliki organisasi social mirip gibbon (owa, siamang). Sebagai mahluk monogami, keluarga tangkasi ini berupaya menekan sekecil mungkin segala pertikaian atau perkelahian dengan kelompok lainnya. Bahkan teritori dan ruang pengembaraan buruan pun, kelompok tangkasi memanfaatkan sekecil mungkin. Untuk mana, pasangan tangkasi ini berupaya mengikat tali perjodohan mereka. Risiko organisasi sosial tangkasi ini menurut suami-istri MacKinnon itu tentunya mengecilkan kesempatan mereka untuk memamnfaatkan sumber pakan yang lebih kaya, namun di luar daerah kedaulatan keluarga itu.

Tarsius itu singapuar
Tarsius yang kini tersebar di Sulawesi, diperkirakan keturunan ”survival” binatang purba dari zaman Eosin hingga akhir Oligosin, kurang lebih 30 juta tahun silam. Sekitar seratus tahun lalu, fosil pertama Tarsius ditemukan di Eropa. Tidak lama kemudian ditemukan juga di Amerika Utara. Belakangan, ditemukan juga primata serupa Tarsius di Monggolia dan Pakistan. Tarsius purba ini dimasukkan dalam famili Omomyidae.

Binatang purba ini memakan serangga dan buah-buahan, juga binatang malam, arboreal dan hidup monogami. Setelah sekian lama, Omomyidae mengalami kepunahan akhir zaman Oligosin atau lebih tepat mengalami evolusi menjadi Tarsiidae. Karena cara hidup Tarsius yang dijumpai di Asia serupa dengan Omomyidae, kemungkinan Tarsius sekarang ini merupakan keturunan satwa purba yang masih hidup.Tarsius di Sulawesi adalah yang paling primitif dibandingkan Tarsius dari Filipina dan Sumatera, yang berada di luar wilayah Wallace.

Sebagai contoh selain di Sulawesi, di Filipina ada Tarsius syrichta. Panjang tubuhnya mencapai 11-12,7 centimeter, ekornya 21-25 sentimeter dan beratnya hanya 110-120 gram. Warna rambutnya abu-abu sampai abu-abu kekuningan. Rambut ekornya jarang-jarang. Binatang malam ini bisa mencapai umur 8-12 tahun. Sedangkan di Sumatera, Bangka dan Kalimantan ada jenis Tarsius bancanus. Panjang tubuh 11,5-14,5 sentimeter, ekor 20-23,5 centimeter, berat badan 105-135 gram. Rambutnya kekuning-kuningan dan ujungnya kecoklatan.Rambut ekornya berkembang baik tetapi tidak lebat. Hidupnya hanya bisa mencapai 8 tahun. Sedangkan keberadaan binatang hantu ini di Sulawesi sendiri (selain bernama lokal tangkai juga di Sulawesi disebut poje), beberapa pakar zoologi sejauh ini sudah memilah Tarsius spectrum menjadi lima subspesies. Pertama, Tarsius Spectrum spectrum yang ada di Sulawesi bagian utara dan Selayar. T. s. dentatus berada di Sulawesi Tengah. T. s. pumilus juga di Sulawesi Tengah (namun ada pakar yang menganggap spesies tersendiri, Tarsius pumilus). T. s. sangirensis berada di Pulau Sangir dan T. s. pelengensis ada di Pulau Peleng. Jadi seluruh binatang Tarsius sp. ini di Indonesia dibakukan menjadi satu nama saja, yakni Singapuar!

Kehadiran Tarsius sp. sebagai binatang purba, diperkirakan mulai menarik perhatian pemerhati zoologi sejak abad lalu. Malah ada sketsa tahun 1702 buatan orang Inggris, lalu binatang ini sendiri sudah dikelompokkan bersama monyet kecil dan oposum. Baru pada tahun 1777, mulai pakar di zaman itu menyebut jelas Tarsius yang bermata bundar ini sebagai spooky animal, bersama-sama jenis lemur. Baru pada tahun 1846, Burmeister mengadakan pengukuran taksonomis dan menetapkan nama tangkasi menjadi Tarsius spectrum, serta lima subspesies asal Sulawesi lainnya.

Dilindungi IUCN
Inilah sekilas ihwal tangkasi yang disebut binatang hantu yang lucu, tapi tak seram. Sebagai satwa primata, keberadaannya sah sebagai ”keturunan” satwa purba yang kini masih hidup bergerombol puluhan ribu ekor di antero tanah Sulawesi (di Tangkoko saja ditaksir masih hidup sampai 20.000-an ekor), juga tangkasi ini contoh satwa endemik khas Sulawesi yang katanya khas,Wallacea.

Jadi jamak sekali kalau tangkasi ini menjadi sasaran peneliti satwa liar internasional dan Indonesia, untuk berbagai sudut pembahasan –terutama segi perilaku satwa liar ini sendiri. Bahkan Carsten Niemitz dan Alexandra Petra Nietsch dibantu Drs.Haerudin R. Sadjuddin (Unas) pada tahun 1987, mengadakan penelitian dengan menangkap 34 spesimen tangkasi untuk merinci morfologi satwa cebol itu. Juga beberapa tahun terakhir ini, tankasi asal Tangkoko dan sekitarnya, bukan rahasia umum lagi pernah ditangkap beberapa kali untuk dipamerkan ke Manado.

Di Indonesia sendiri, singapuar (termasuk tangkagsi tentunya) sudah dilindungi undang-undang, serta masuk dalam satwa liar yang dilindungi. Bahkan khususnya soal tangkasi, binatang ini sudah terdaftar dalam 1990 IUCN Red List of Threatened Animals yang dilindungi oleh badan persatuan konservasi internasional. Kini kehidupan Tarsius sp. yang tersebar juga di Sumatera dan Kalimantan, boleh dibilang berpopulasi cukup banyak, namun ancaman demi ancaman dari ulah manusia, perlu dipikirkan masak-masak, mengingat binatang ini amat kecil dan cukup lemah menghadapi perubahan lingkungannya, serta campur tangan manusia langsung.

Ancaman di luar kuasa tangkasi itu, misalnya yang paling mencolok mata akibat langsung pembabatan hutan untuk kepentingan industri hasil hutan, dianggap salah satu setan pembasmi binatang hantu ini. Juga gangguan langsung manusia yang suka menangkap dan memelihara Tarsius sp. ini sungguh ancaman tak main-main. Sebab binatang cebol dan lucu ini hanya mau menyantap serangga dan mangsa lainnya yang segar, jadi hidupnya kalau di tangan manusia tak bakal lama.

Persoalan tangkasi ini, cumalah satu dari sekian kasus satwa liar yang membanggakan Indonesia di dunia ilmu pengetahuan dunia. Namun binatang hantu yang kecil ini akan menjadi kasus besar, apabila kian lama kian berkurang, lalu lama-lama cuma menjadi bagian dari cerita saja.

Sumber: Kompas Minggu, 1 Desember 1991
——–
“Minahasa Deng Bitung Pe Maskot”

Nama binatang cilik ini, sejak tahun 1987-an tiba-tiba naik daun di Tanah Minahasa. Banyak generasi muda Minahasa, tahu-tahu merasa kalau di tanah aimya ada temuan makhluk baru, yakni binatang sebesar kepalan tangan namun modelnya kayak monyet dengan kuping tegak dan mata belo lucu di mukanya yang kekecilan, lebih lucu lagi, kalau melihat gambar ekor satwa liar ini yang menjuntai panjang, lalu ujungnya berbulu kasar macam bulu kuas.

Kontan saja, masuklah dalam perbendaharaan kata di Minahasa suatu sebutan baru, yaitu Tarsius yang berbau kata asing. Memang Tarsius itu nama taksonomi bagi binatang ini. ”Ya dorong anak-anak muda Minahasa, tak tahu kalau Tarsius spectrum itu penamaan baku dari tangkasi. Torang dari generasi tua sudah tahu kalau binatang itu bernama Tangkaasi. Di Minahasa, beberapa belas tahun Ialu, mudah sekali menemui tangkasi ini di hutan, atau malah di kusu-kusu (semak belukar-red) juga binatang ini mudah ditemui pada malam hari,” ujar FS Watuseke, seorang pemerhati masalah sosial budaya Minahasa yang juga senang tumbuhan dan binatang.

Sebagai pakar dan pendokumentasi “Minahasanologi”, Watuseke ini malah mengeluarkan beberapa buku lama, berbahasa Belanda tentunya, yang memuat uraian soal Tarsius spectrum yang dijuluki spookdiertje atau binatang hantu kecil yang tersebar di beberapa tempat di Sulawesi, serta tentunya yang spesies T. spectrum yang hidup tersebar di tanah Kabupaten Minahasa, dari selatan sampai ke utara. ”Dorong tua-tua yang bersekolah di zaman dulu, pasti tahu kalau di Minahasa sudah hidup tangkasi atau Spookdiertje itu. Sampai sekarang seharusnya binatang ini masih banyak hidup di Minahasa, bukan hanya di Tangkoko saja. Tahun lalu, keluarga kami memiliki tangkasi yang diperoleh dari pembelian di daerah Tondano. Tak tahu, apakah tangkasi itu kini masih hidup atau so mati, kini so nin tau,” ujar Watuseke mantan pemilik toko buku di Manado. ”Aneh sekali kalau nama tangkasi itu, kini seakan-akan hilang dari ingatan warga Minahasa, lalu muncul nama baru Tarsius untuk tangkasi yang binatang lama itu.”

NAMA Tarsius boleh dibilang kini sedang top-topnya di Minahasa. Mungkin sejak beberapa media massa cetak dan tayangan gambar, sudah terlanjur memuat rupa binatang ini, berikut keterangan yang memberitakan seakan-akan si Tarsius ini binatang temuan baru, ditambah garis bawah seakan-akan di dunia yang cuma satu ini, si gerombolan Tarsius itu pun cuma bernapas di Minahasa saja.

”Di kampung saya di Palu, binatang ini, disebut tangkasi tapi bernama Latin Tarsius pumilus,” kata Freddy Pangeja, petugas PHPA dari Cagar Alam Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara. Sedangkan rekannya, Fredinand Kakauhe yang asal Sangir berkata: “Di Sangir binatang itu disebut sanggasi, mirip dengan tangkasi di tangkoko, cuma bulunya lebih kehitam-hitaman. Tapi di daerah Bitung sini, tangkasi itu mereka lebih suka menyebut wesing.”

Watuseke yang berpengalaman soal sebagian ”isi” Minahasa, menganggap kata wesing itu sebutan umum masyarakat Minahasa untuk tupai. ”Mungkin saja karena masyarakat di sana menyamakan tangkasi dengan tupai, jadi tak heran kalau mereka main pukul rata dan menyebutnya wesing,”katanya. ”Soal nama Tarsius ini, kelihatannya memang lebih canggih dibanding tangkasi, tapi menurut hemat saya, kalau saja nama tangkasi lebih dipopulerkan, itu lebih baik daripada mentransfer nama asing. Ini cuma saran dan saya tak mau masuk campur, sebab di Manado sudah ada restoran, besar bermerek Tarsius Bar and Harbor Restaurant, di daerah pantai Malalayang sana.”

Soal nama tangkasi dan Tarsius itu menurut beberapa rekan di Manado, kaIau mau diusut-usut bisa menjadi panjang ceritanya. ”Apa mau diseminarkan? Sebab torang di sini betul-betul demokratis, apa saja bisa menjadi panjang kalau mau adu pintar,” katanya. ”Soal tangkasi yang memang kacili (kecil-red) ini, sapa tau bisa menjadi soal gode (besar-red),ha-ha-ha.”

”TARSIUS Maskot Kota Bitung”, begitu pampangan kalimat besar di suatu majalah lokal yang mempromosikan Bitung, kota madya di Sulut yang menaungi Cagar Alam Tangkoko. Sayangnya anatomi binatang ini teralu rumit, kalau tidak pasti sudah dijadikan lambang dan cenderamata khas Bitung (mungkin Sekarang sudah?-red). Apalagi mumpung tahun Visit Indonesia 1991 belum bubar.

Gara-gara tangkasi ini juga, membuat petugas PHPA di Sulut menjadi agak repot ”Turis asing dalam dua tiga tahun belakangan ini, makin banyak minta izin masuk Cagar Alam Tangkoko,gara-gara mau lihat binatang ini,” kata Romon Palete, Kasub Konservasi Sumber Daya Alam di Manado. ”Juga peneliti asing sudah beberapa rombongan keluar masuk hutan Tangkoko sampai jauh ke Batu Angus, untuk meneliti Tarsius spectrum.”

Jadi, akibat ekspose adanya gerombolan tangkasi yang mudah ditemui di hutan Tangkoko rupanya banyak membuat untung juga bagi Kodya Bitung. Wali Kota Bitung Drs.S.H. Sarundayang, secara tersamar mengakui hal ini ”Cagar Alam Tangkoko dengan Tarsius itu, akan menjadi aset bagi perkembangan pariwisata lokal Bitung,” ujarnya dalam suatu Wawancara di Bitung. ”Sebab alam permai Bitung, akan makin terkenal ke dunia internasional dengan adanya Tarsius yang unik. Pak Gubernur saja pernah kami ajak, sampai naik ke puncak Gunung Tangkoko. Ngoni (kalian-red) boleh lihat fotonya nanti, juga ada foto kita sedang pegang Tarsius itu di tangan, ya pegang Tarsius tangkapan.”

Kebanggaan itu sah dan boleh-boleh saja. Sebab siapa tak bangga kalau di daerahnya ada binatang unik. Cuma, si Tarsius yang dibanggakan itu, maaf saja nama aslinya tangkasi dan tidak hanya bergentayangan di Bitung saja. Tangkasi ini ada di mana-mana di hampir seantero Tanah Minahasa. Sedangkan sepupunya juga hidup di beberapa tempat lain di Tanah Sulawesi.

Cocoknya, kalau ada slogan mengklaim Tarsius itu adalah ”maskot ” Kota Bitung mungkin lebih tepat kalau dibilang ”tangkasi itu Minahasa deng Bitung pe maskot.” Iyo, tangkasi itu memang binatang khas Minahasa dan Bitung. Klaar toh, sebab tangkasi sama dengan Tarsius. Buat apa dipersoalkan lagi, kasih biar jo.“

Sumber: Kompas, 1 Desember 1991

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: