Home / Berita / Burung Hantu Tidak Lagi Menghantui

Burung Hantu Tidak Lagi Menghantui

Selama ini gambaran burung hantu memberi kesan sangat menakutkan, bahkan hampir tak ada orang yang bersedia memeliharanya. Nampaknya penampilan yang sangat menakutkan dari burung hantu ini sudah sangat mendalam. Selain itu belum banyak orang mengetahui tentang kehidupan burung hantu ini, hal ini mungkin membuat orang semakin tidak berselera untuk memeliharanya. Burung hantu yang dikelompokkan sebagai burung malam (nocturnal) bisa mendiami lubang-lubang batang pohon atau terkadang dijumpai pada bangunan yang ada lubangnya. Nampaknya keadaan sudah mulai berubah, orang sudah mulai mau memeliharanya seperti di Perkebunan Kelapa Sawit Marihat maupun di daerah Sulawesi Utara. Keadaan ini tampaknya sedang menjadi isu, setelah diketahui potensi dari burung hantu yang dapat dimanfaatkan. (Great horned owl) dari Amerika Utara. Selain itu ada pula pertumbuhan bulu yang mengarah ke samping luar, seperti Bubo Sumatranus maupun Bubo Ketupu. Mukanya ada yang membulat namun ada pula yang menyerupai “jantung”, seperti Serak (Tyto Alba).

DAPAT BERPUTAR LEBIH DARI 180°
Tidak seperti jenis burung lain-nya, burung hantu mampu memutar lehernya lebih dari ‘180 derajat. Seringkali kita dikecohkan dengan burung hantu ini waktu memandang, seolah-olah menghadap ke kita padahal burung hantu tersebut sebetulnya menoleh ke belakang dengan kepala persis di atas punggungnya. Kelebihan ini ternyata hanya sebagai kompensasi, karena sebetulnya burung hantu tidak mampu merotasikan bola matanya. Dengan demikian untuk memperoleh sudut pandang yang luas burung ini harus mem utarkan kepalanya sejauh mungkin untuk melihat atau observasi sekelilingnya. Kelebihan lainnya adalah burung hantu mempunyai sorot mata yang tajam selain kekuatan indera pen-cium dan indera pendengarannya. Oleh karena itu apabila di sekitarnya ada sesuatu yang bergerak atau ia membau sesuatu yang khas, burung hantu segera akan menyergapnya. Ketajaman penglihatan burung hantu pada siang hari tidak sekuat penglihatan pada malam hari.

INDIKATOR KEBERADAAN BURUNG HANTU
Burung hantu termasuk burung malam pemangsa dan dapat juga dikelompokkan sebagai burung yang karnivora, karena jenis pakannya adalah binatang yang hidup dan bergerak. Adapun binatang yang sering menjadi mangsanya antara lain binatang rodentia (tikus, cecurut), kadal ular, katak, ikan, kepiting, dan ada juga yang memakan kumbang. Cara memakan mangsanya, yaitu dengan menelan seluruh mangsanya,kemudian bagian yang tidak dapat dicerna seperti tulang belulang akan dimuntahkannya. Oleh karena itu bilamana dijumpai tumpukan tulang belulang di hutan maupun di sekitar pohon yang besar, maka di sekitar daerah tersebut pasti akan ditemui burung hantu. Muntahan ini juga dapat ditemui di tanah, terutama bagi jenis-jenis burung hantu yang mendiami gua-gua kecil di tanah.

PENEKANAN POPULASI TIKUS
Indonesia dikenal sebagai negara agraris, di sini kita dengan mudah dapat menemukan daerah persawahan padi. Sedemikian menyebarnya per-sawahan diikuti pula dengan meningkatnya hama padi tikus. Tidak jarang para petani merugi kalau sudah kedatangan hama tikus ini. Bukan hanya padi yang akan dihamai, tetapi daerah perkebunan kelapa juga men-jadi korban ulah si tikus ini. Hama tikus ini sangat berhasil dalam perUm-banganbiakannya. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, tikus mampu melipatgandakan populasinya. Setelah melahirkan, seekor tikus mampu untuk melakukan reproduksi lagi. Jumlah anak yang dilahirkan setiap kalinya adalah antara 8 sampai 12 ekor dengan masa bunting 21 hari. Dapat dibayangkan kalau dibiarkan populasi tikus akan semakin merajalela. Dalam hal ini, kita dapat memanfaatkan burung hantu yang mempunyai potensi dalam menyergap tikus maupun cecurut. Yang perlu dipikirkan yaitu jenis apa yang cocok dengan daerah persawahan maupun perkebunan yang akan ditempatkan burung hantu ini.

Dengan mulai dimanfaatkannya kemampuan burung hantu untuk menekan populasi tikus, secara tidak langsung keberadaan jenis-jenis burung hantu akan terselamatkan. Dengan kata lain, kerjasama atau simbiose ini mempunyai nilai positif dari segi konservasi satwa. Meskipun kebanyakan jenis burung hantu belum dilindungi dengan undang-undang, satu jenis yaitu Celepuk Sulawesi (Otus Madensis) telah dilindungi dengan Undang-Undang Perlindungan Binatang Liar tahun 1978. Memang tidak ada salahnya kita mempertahankan keanekaragaman satwa burung di Indonesia.

KERABAT BURUNG HANTU
Dalam sistematikanya, burung hantu dimasukkan ke dalam dua suku, yaitu Suku (Family) Tytonidae dan Strigidae. Burung hantu dari suku Tytonidae biasanya disebut dengan Serak, sedangkan dari suku Strigidae seringkali disebut dengan Celepuk. Burung hantu tersebar hampir di seluruh daratan dunia ini, kecuali di Antartika. Burung hantu yang termasuk dalam kedua suku tersebut seluruhnya ada 146 jenis di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat lebih dari 30 jenis burung hantu dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Jenis burung hantu sangat ber-variasi dilihat dari ukuran panjang tubuh maupun pola pcwarnaan bulunya. Jenis burung hantu yang berukuran kecil mempunyai panjang tubuh 19-20 cm di antaranya seperti Celepuk Merah (0tus Rufescens). Celepuk Gunung (Otus Angelinae) dan Celepuk (Otus Bakamoena). Ketiga jenis burung hantu tersebut biasa dijumpai di Jawa, Sumatera maupun di Kalimantan. Sedangkan jenis burung hantu yang berukuran besar mempunyai ukuran tubuh 45 cm, di an-taranya seperti Hingkik (Bubo Sumatranus), Ketupa (Bubo Ketupa). Kedua jenis ini juga biasa ditemukan di Jawa, Sumatera maupun Kalimantan. Di Indonesia penyebaran burung hantu tidak hanya di ketiga Pulau tersebut, tetapi juga ditemukan di tempat lain seperti Sulawesi, Irian maupun di pulau-pulau kecil.

Pola pewarnaan bulu burung hantu kebanyakan merupakan warna yang sesuai dengan pola pewamaan burung malam (nocturnal), yaitu seperti warna kelabu dan coklat meskipun ada di antaranya yang mempunyai warna dasar putih. Pola pewarnaan dasar ini juga dikombinasikan dengan bintik-bintik, totol-totol maupun strip-strip yang memanjang maupun yang kenyilang, berwarna hitam atau coklat tua. Ketupu (Bubo Ketupu), mempunyai pewarnaan dasar bulu coklat dengan strip-strip memanjang berwarna coklat tua hingga hitam. Hingkik (Bubo Sumatranus) misalnya, mempunyai pewarnaan dasar putih dengan strip-strip hitam menyilang.

Namun secara kescluruhan gambaran yang paling mudah dikenal dari burung hantu yaitu penampilannya yang tenang dan tidak banyak gerak serta sorot mata yang tajam. Bagian muka (wajah) burung hantu datar dengan bola mata yang besar dan bulat. Beberapa jenis di antaranya memiliki pertumbuhan bulu yang tegak ke atas di bagian atas kepalanya yang menyerupai daun telinga, misalnya adalah burung hantu bertanduk besar.

Oleh: ENDANG TRI MARGAWATI

Sumber: Majalah AKU TAHU/ MEI 1992

Share
%d blogger menyukai ini: