Home / Berita / Halus Sutra dari Ulat Unggulan

Halus Sutra dari Ulat Unggulan

Ketergantungan 90 persen benang sutra dari pasokan luar negeri menjadi pelecut untuk mengoptimalkan budidaya ulat sutra lokal di negeri ini. Dua tipe ulat sutra hibrid kini siap diluncurkan.

Menghasilkan benang sutra sendiri secara tak langsung membuka lapangan kerja bagi masyarakat serta menghijaukan hutan area perhutanan social yang potensial serta lahan-lahan yang kritis agar produktif. Ini harus didukung kualitas ulat sutra yang bagus untuk menggairahkan industri penghasil bibit maupun peternak. Selain menghasilkan kokon berkualitas, ulat itu pun butuh tahan terhadap penyakit untuk meminimalkan potensi kerugian.

Pusat Litbang Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kini bersiap-siap mengumumkan dua tipe ulat sutra hibrid buatannya yang disebut-sebut memiliki berbagai keunggulan yang dibutuhkan. Kedua tipe yang masih belum memiliki nama ini kini terus dikembangkan dan diuji peneliti setempat di Bogor, Jawa Barat.

Di kantor persuteraan alam yang sederhana itu, Lincah Andadari serta empat peneliti muda serta teknisi-teknisinya setiap hari berkutat dengan ulat sutra (Bombyx mori L). Selain memiliki tugas utama untuk pelestarian 65 galur murni ulat sutra dari 10 negara koleksi setempat, mereka pun menyilangkan jenis-jenis itu untuk mendapatkan ulat terbaik.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Peneliti senior ulat sutra Pusat Litbang Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Lincah Andadari, Rabu (17/10/2018), memberikan pakan daun murbei pada ulat sutra dewasa (instar 4). Kegiatan ini dilakukan untuk melestarikan sekitar 65 jenis koleksi ulat sutra.

Kini ulat sutra hasil hibrid unggulan Pusat Litbang Hutan yang dihasilkan ada jenis BS-08, BS-09 (2004), dan PS-01 (2013). Jenis ulat sutra yang dihasilkan PS-01 – singkatan dari Pusprohut Singlecross – cocok dipelihara pada dataran rendah dihasilkan dari persilangan galur murni Jepang dan China.

Dalam waktu dekat, mereka meluncurkan ulat sutra yang tahan pada ketinggian di atas 400 – 800 meter. Juga satu jenis ulat yang menghasilkan kokon berwarna kuning alami.

Rabu kemarin, 17 Oktober 2018, peneliti senior ulat sutra dan murbei, Lincah Andadari mengajak Kompas melihat-lihat kegiatan sehari-hari di Kantor Persuteraan Alam, Bogor. Ia menunjukkan siklus hidup si ulat. Mulai dari melihat ulat yang hampir dewasa, kokon, ngengat, telur, dan mulai menetas menjadi ulat lagi.

Ia pun menuturkan dua jenis hibrid baru yang akan diluncurkan Januari 2019 itu. Jenis ulat sutra alternatif pada ketinggian 400-800 meter dihasilkan juga dari galur murni Jepang dan galur murni China. Sementara, ulat sutera berkokon kuning dihasilkan dari galur jenis Thailand berkokon kecil dengan ulat sutra lokal yang berkokon besar.

Kini jenis-jenis ini sedang diuji di masyarakat setelah melewati skala laboratorium. Ia mengerjakan ujicoba ini di Sukabumi bersama Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, Kelompok Tani Hutan Mandiri Sukabumi, dan PT Begawan Sutera Nusantara. “Dari uji lokasi dan multi lokasi hasil sama baru kami ajukan ke menteri,” kata Lincah.

Peternakan ulat sutra dengan pendekatan kelompok tani ini dilakukan dengan mempercayakan penetasan hingga ulat kecil (instar 1 hingga 3) pada ketua kelompok. Kata Lincah, ruangan 6×4 meter persegi cukup untuk pembesaran 10 boks bibit ulat sutra.

Pada periode ini merupakan masa kritis yang berisiko kematian tinggi akibat penyakit dan cuaca. Pada fase instar 1 ke instar 2, si ulat kecil ini berhenti makan dan tidur serta berganti kulit. “Kalau pada masa ulat kecil kuat, maka saat ulat besar akan sehat. Itulah kenapa ruangan ulat kecil itu lebih bersih,” kata dia.

Setelah memasuki periode ulat dewasa (instar 4 dan instar 5) hingga pengokonan, bisa diserahkan ke anggota kelompok. Ulat dewasa ini dipelihara sekitar 14-15 hari sebelum mengokon atau berubah menjadi kepompong.

Perhutanan sosial
Peternakan ulat sutra mesti membutuhkan sumber pakan berupa daun murbei yang cukup banyak. Setidaknya satu boks atau kantong bibit ulat sutra membutuhkan 400 – 500 kilogram daun murbei yang bisa dihasilkan dari 0,25 ha lahan. Ini bisa dihasilkan dari lahan-lahan kritis maupun perhutanan social yang potensial.

Daun murbei ini didapatkan dari tanaman murbei yang umumnya memiliki usia produktif 25 tahun. Bahkan peneliti di Badan Litbang dan Inovasi KLHK mengujicobakan budidaya tanaman murbei bisa dicampur dengan tanaman sayur maupun tanaman keras untuk meningkatkan variasi pendapatan maupun pemenuhan gizi.

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK Bambang Supriyanto menuturkan peternakan ulat sutra dan penanaman tanaman murbei potensial dikembangkan di beberapa areal perhutanan sosial. Dengan kebutuhan kondisi alam budidaya ulat sutra pada suhu 25-30 derajat, ketinggian 400-800 meter, serta curah hujan 2.500-3.000 meter serta budaya menenun, potensi ada di Jawa Barat (Garut dan Sukabumi), Sulawesi Selatan, dan Gorontalo.

Menurut data area alokasi pencadangan perhutanan sosial di Sulawesi Selatan tersedia 393.131 ha dan Gorontalo 61.053 ha. Di Gorontalo, kata dia, terdapat perhutanan sosial berbentuk kemitraan kehutanan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi dengan Kelompok Tani Hutan yang berfokus pada peternakan ulat sutera seluas 60 ha dengan pendampingan Badan Litbang dan Inovasi. “Menurut rencana, akan dikunjungi Presiden,” kata dia.

Lincah sangat berharap ulat sutra unggul yang dihasilkan bisa menggiatkan kembali budidaya ulat sutra di Indonesia. Apalagi catatannya menunjukkan saat ini 90 persen pemenuhan benang sutra – bahan pembuatan kain sutra – didatangkan dari impor yang menggerus devisa Indonesia.

Selain itu, budidaya ulat sutra pun bisa berkontribusi pada rehabilitasi lahan kritis maupun alternatif ekonomi pada area perhutanan sosial. Selain mencari ulat sutra unggulan, peneliti pun menyisir kualitas daun murbei yang cocok bagi kebutuhan pakan.

Pada tahun 2013, bersamaan dengan peluncuran PS-01, Badan Litbang dan Inovasi KLHK juga meluncurkan varietas pemuliaan murbei baru (SULI 01 atau singkatan nama peneliti Sugeng dan Lincah) dengan produksi daunnya 30 persen lebih tinggi. Pada jenis murbei biasa, Morus cathayana produksinya 26,16 ton per pangkas per hektar dan SULI 01 mencapai 37,18 ton per pangkas per hektar.

Dengan produksi daun 30 persen lebih tinggi dari (jenis murbei) konvensional, maka efisiensi lahan lebih tinggi. Dengan ulat sutera PS-01 dan murbei SULI 01 menghasilkan 40 kilogram kokon dari 1 box telur (sekitar 25.000 telur). Sejumlah 40 kg kokon tersebut bisa menghasilkan 4 kg benang atau 4 meter kain.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 22 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Elang Hitam Penjaga Kedaulatan Negara

Penggunaan pesawat udara nirawak jadi tren global. Selain lebih murah, risiko pun kecil. Kini, saatnya ...