Gerhana di Malam Purnama Waisak

- Editor

Rabu, 17 Juli 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerhana Bulan total, Rabu (26/5/2021), bisa disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Gerhana terjadi bersamaan dengan perayaan Tri Suci Waisak dan fenomena ‘supermoon’.

Saat Bulan terbit pada Rabu (26/5/2021) petang di sebagian besar wilayah Indonesia, Bulan sudah dalam kondisi mengalami gerhana. Bulan yang biasanya berwarna kuning cerah akan berubah jadi oranye hingga merah keabu-abuaan. Sejumlah orang menyebutnya, merah darah hingga memunculkan istilah blood moon.

Warna piringan Bulan saat gerhana itu menjadi tanda baik buruknya kualitas atmosfer Bumi. Jika Bulan berwarna merah cerah, itu berarti atmosfer cukup bersih dari aneka partikel debu dan polutan lainnya. Makin gelap warna Bulan saat gerhana menandakan makin kotornya atmosfer Bumi, baik akibat partikel sisa letusan gunung api, kebakaran hutan dan lahan, hingga polusi udara yang parah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Piringan Bulan pun akan tampak sedikit lebih besar dibanding biasanya karena pada Rabu itu juga terjadi fenomena Bulan super atau supermoon. Pada Rabu pukul 08.50 WIB atau beberapa jam sebelum gerhana, Bulan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada jarak 357.311 kilometer. Itu adalah jarak terdekat Bulan-Bumi selama 2021.

“Bulan akan tampak lebih besar 14 persen dan lebih cemerlang 30 persen dibanding ukuran dan kecerlangan Bulan saat berada di titik terjauhnya dari Bumi,” kata dosen Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Endang Soegiartini, Senin (24/5/2021).

Namun, ilusi optik alias tipuan mata akan membuat Bulan di horizon itu tampak jauh lebih besar dari biasanya. Tanpa disadari, otak manusia akan membandingkan ukuran piringan Bulan dengan benda-benda di depannya, seperti pohon, gedung atau gunung sehingga seolah-olah Bulan menjadi sangat besar.

Bagi masyarakat tradisonal di Amerika Utara, seperti dikutip dari Space, 23 Mei 2021, Bulan (moon) purnama di bulan (month) Mei dinamakan flower moon. Penamaan ini ditandai dengan mekarnya aneka bunga seiring datangnya musim panas di belahan Bumi utara.

Perpaduan antara fenomena gerhana Bulan, supermoon, dan flower moon itulah yang membuat gerhana Bulan total 26 Mei nanti disebut juga super flower blood moon alias Bulan super bunga merah darah.

Lebih istimewa lagi, gerhana Bulan total kali ini terjadi bersamaan dengan detik-detik perayaan Tri Suci Waisak 2565 yang dirayakan umat Buddha Indonesia. Purnama di bulan Waisak dalam kalender Buddha menandai peringatan lahir, dicapainya pencerahan dan wafatnya Sang Buddha.

“Dari perhitungan kalender Buddha, detik-detik purnama Waisak yang ditandai dengan penuhnya piringan Bulan akan terjadi pada pukul 18.13.30 WIB,” kata Sekretaris Jenderal Sangha Agung Indonesia Biku Nyanasila, Thera. Peringatan detik-detik Tri Suci Waisak ini merupakan perayaan khas Indonesia yang tidak ditemukan pada umat Buddha di negara lain.

Pada 10 menit sebelum detik-detik Waisak itu, umat Buddha diajak untuk hening hingga genta dibunyikan yang menandai puncak purnama. Pada saat itu, umat Buddha umumnya masih menjalani puasa untuk melakukan delapan latihan, antara lain tidak makan setelah tengah hari hingga esok pagi, menghindari aktivitas seksual, tidak menyanyi, menari atau melihat hiburan yang merangsang indera, serta menghindari ucapan salah.

Karena tahun ini masih pandemi, lanjut Nyanasila, puncak perayaan Waisak akan dilaksanakan dari Candi Sewu, Klaten, Jawa Tengah yang hanya dihadiri sekitar 100 orang. Perayaan akan disiarkan secara daring untuk diikuti umat Buddha dari rumah.

Terjadinya gerhana Bulan yang bersamaan dengan perayaan Waisak itu bukanlah hal yang mengherankan. Perayaan Tri Suci Waisak selalu jatuh saat Bulan purnama, sedangkan gerhana Bulan juga selalu terjadi saat purnama. Namun tidak setiap Waisak akan terjadi gerhana Bulan karena bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari tidak berhimpit dengan bidang orbit Bulan memutari Bumi.

“Gerhana hanya terjadi jika Bulan berada di sekitar titik potong antara bidang orbit Bumi dan bidang orbit Bulan,” tambah Endang.

Meski terjadinya gerhana Bulan di malam Waisak bukanlah hal janggal, namun Nyanasila mengatakan belum ada catatan seberapa sering perayaan Waisak terjadi bersamaan dengan gerhana Bulan. “Ini adalah hal yang alamiah bahwa alam senantiasa mengalami perubahan, tidak ada yang ajeg. Jika hal yang besar saja bisa berubah, maka demikian pula dengan hal yang kecil. Perubahan itu pasti,” kata Nyanasila.

NASA/JPL-CALTECH—Perbandingan lebar dan kecerlangan Bulan purnama saat berada di perigee dan apogee. Perbedaan yang tak terlalu besar membuat sulit dibedakan jika hanya mengandalkan penglihatan atau memori semata.

Ufuk timur
Gerhana Bulan total 26 Mei nanti bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, hanya masyarakat di Provinsi Papua yang bisa menyaksikan seluruh proses atau fase gerhana yang berlangsung 5 jam 5 menit, yaitu dari fase gerhana Bulan penumbra awal hingga berakhir. Namun, perubahan warna Bulan saat Bulan memasuki daerah penumbra atau bayang-bayang luar Bumi itu sulit diamati dengan mata telanjang.

Sementara itu, sebagian Sumatera Utara dan seluruh Aceh juga tidak dapat menyaksikan gerhana Bulan total ini karena Bulan masih di bawah ufuk. Di kedua wilayah itu, saat Bulan terbit, Bulan sudah berada dalam fase gerhana Bulan sebagian akhir.

Sisanya, seluruh Kalimantan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara Barat, sebagian Sulawesi dan Sumatera bagian selatan akan melihat Bulan yang terbit sudah dalam gerhana Bulan sebagian. Sedangkan masyarakat di bagian utara Sumatera Barat dan Riau serta masyarakat di sisi selatan Sumatera Utara akan melihat Bulan yang terbit sudah mengalami gerhana Bulan total. Fase gerhana Bulan total kali ini hanya berlangsung selama 18 menit 44 detik.

Endang menambahkan, seluruh fase gerhana Bulan aman diamati dengan mata telanjang. Namun karena gerhana Bulan kali ini terjadi bersamaan dengan terbitnya Bulan, maka untuk mengamatinya perlu mencari arah timur dengan medan pandang yang lepas, terbebas dari gangguan gedung, gunung, pohon maupun benda lain.

“Posisi Bulan saat baru terbit masih sangat rendah,” tambahnya.

Meski agak menantang untuk mengamatinya dan waktu totalitas gerhana yang cukup pendek, namun peristiwa gerhana Bulan total kali ini sayang untuk dilewatkan. Terlebih momentum kali ini bertepatan dengan fenomena supermoon, flower moon dan perayaan Tri Suci Waisak.

Indonesia akan mengalami gerhana Bulan kembali pada 19 November 2021, tetapi saat itu hanya gerhana Bulan sebagian. Gerhana Bulan total berikutnya yang bisa disaksikan dari Indonesia akan terjadi pada 8 November 2022.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 25 Mei 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB