Home / Berita / Astronomi / Bulan Super Darah Biru Akhir Januari

Bulan Super Darah Biru Akhir Januari

Gerhana Bulan adalah peristiwa astronomi biasa. Perkembangan budaya membuatnya menjadi istimewa, termasuk sebutan yang menyertainya. Namun, dampak gerhana sampai memicu bencana jadi tanda tanya.

Setelah tak ada gerhana Bulan total yang menyambangi wilayah Indonesia sejak 2015, Bulan dengan warna memerah darah itu akan bisa disaksikan lagi pada Rabu (31/1). Gerhana Bulan total pertama di 2018 kali ini istimewa karena bersamaan dengan fenomena Bulan super dan Bulan biru sehingga sebagian orang menyebutnya Bulan super darah biru.

Meski terjadi di semua wilayah Indonesia, fase awal gerhana Bulan total (GBT) yang disebut gerhana Bulan penumbra hanya bisa disaksikan di wilayah tengah dan timur Indonesia. Di barat Indonesia, fase gerhana karena Bulan memasuki daerah penumbra atau bayang-bayang luar Bumi terjadi sebelum Bulan terbit sehingga tak bisa diamati.

Namun, gerhana penumbra sulit dibedakan tampilannya dengan purnama biasa karena cahaya Bulan hanya sedikit meredup. Perubahan warna Bulan dari kuning cerah jadi kemerahan baru bisa disaksikan dengan mata saat fase gerhana Bulan sebagian dimulai pukul 18.48 WIB. Pada tahap ini, Bulan memasuki area bayang-bayang inti Bumi atau umbra.

Sejak itu, perlahan piringan Bulan akan berubah warna dari bawah hingga bagian atas. Saat seluruh piringan Bulan memerah pukul 19.51, fase GBT dimulai. Totalitas gerhana kali ini akan berlangsung 1 jam 16 menit sampai pukul 21.07 dan puncaknya pukul 20.29 WIB.

Warna merah saat GBT ditentukan atmosfer Bumi. Makin kotor atmosfer Bumi akibat banyak debu, khususnya setelah letusan gunung api besar, warna merah saat gerhana akan lebih gelap atau merah darah.

Setelah fase totalitas berakhir, Bulan akan menjalani bagian akhir gerhana sebagian dan gerhana penumbra hingga semua rangkai proses gerhana selesai pukul 23.08 WIB.

”GBT itu hanya bisa disaksikan dengan syarat tak mendung atau hujan,” kata dosen astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, Kamis (25/1). Kekhawatiran itu wajar mengingat puncak musim hujan di Indonesia, khususnya sekitar Jakarta, biasa terjadi akhir Januari sampai awal Februari.

Selain Indonesia, GBT kali ini bisa disaksikan di Asia, Australia, Amerika Utara, timur Afrika, dan Eropa daratan.

Super darah biru
Gerhana Bulan selalu terjadi saat Bulan purnama. Secara astronomi, GBT pada Rabu malam nanti hanya peristiwa biasa, tak beda dengan purnama lain. Sebutan Bulan super darah biru sejatinya bukan istilah astronomi, tetapi dari perpaduan istilah astrologi, budaya, dan perubahan makna istilah.

Istilah ”Bulan super” atau supermoon muncul pertama kali pada 1979 setelah astrolog atau ahli nujum Amerika Serikat, Richard Nole, mengenalkannya untuk menyebut purnama atau Bulan mati saat Bulan berada di titik terdekat (perigee) dari Bumi. Dalam astronomi, fenomena tersebut disebut Bulan purnama perigee.

Saat purnama perigee terjadi, Bulan tampak 12-14 persen lebih besar dan 30 persen lebih cerlang dibandingkan purnama saat Bulan di dekat titik terjauhnya dari Bumi (apogee). Dibandingkan purnama biasa, ukurannya bertambah 6-7 persen.

”Perubahan sekecil itu sulit dibedakan mata,” kata komunikator astronomi dan pengelola komunitas astronomi langitselatan, Avivah Yamani.

Bulan super tampak jauh lebih besar karena biasa dilihat saat dekat ufuk. Cara melihat Bulan di ufuk itu memicu ilusi karena otak manusia secara tak sadar membandingkannya dengan ukuran obyek di depannya, seperti gedung, pohon, ataupun gunung. Saat Bulan meninggi atau di atas kepala, ukuran Bulan kembali seperti biasa meski Bulan super masih terjadi.

Bulan super 31 Januari itu merupakan bagian terakhir dari triologi Bulan super. Bulan super sebelumnya terjadi secara berurutan pada 3 Desember 2017 dan 2 Januari 2018.

Adapun penyebutan ”darah” diambil dari istilah Bulan merah darah alias blood moon untuk menyebut warna Bulan saat terjadi GBT.

Sementara kata ”biru” berasal dari istilah Bulan biru atau blue moon. Asal-usul nama Bulan biru memiliki banyak versi. Salah satu versi menyebut istilah Bulan biru pertama kali muncul pada tahun 1824 saat terjadi dua Bulan (moon) purnama dalam satu bulan (month) kalender masehi. Namun, saat itu tak ada aturan pasti untuk mendefinisikan Bulan biru.

Almanak Maine Farmers pada 1932-1957 menyebut Bulan biru sebagai purnama ketiga dari empat purnama yang terjadi di satu musim. Di negara empat musim, satu musim berlangsung selama tiga bulan dan biasanya hanya memiliki tiga purnama.

Karena itu, purnama ketiga yang disebut sebagai Bulan biru (blue) disebut sebagai pengkhianat. Sebutan blue untuk pengkhianat diduga berasal dari istilah Inggris kuno belewe yang artinya pengkhianat karena kehadiran Bulan biru melanggar kebiasaan tiga purnama dalam satu musim.

Namun, apa pun asal-usulnya, sebutan Bulan biru tak menggambarkan warna Bulan yang sebenarnya. Purnama tetap akan berwarna kuning cerah.

”Perpaduan tiga fenomena, Bulan merah darah, Bulan super, dan Bulan biru, itu membuat Gerhana bulan 31 Januari boleh disebut Bulan super darah biru atau super blue blood moon,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin.

Salah kaprah
Di berbagai media daring dan media sosial, GBT terjadi bersamaan dengan Bulan super dan Bulan biru disebut peristiwa langka terjadi 150 tahun sekali. Penyebutan kejadian langka menimbulkan salah persepsi hingga memicu salah kaprah.

Data yang menyebut Bulan super darah biru terjadi 150 tahun lalu, tepatnya 152 tahun, itu hanya berlaku bagi pengamat di Amerika karena peristiwa serupa terakhir terjadi pada 31 Maret 1866. Namun, penyebutan Bulan super darah biru tak tepat karena saat itu sebenarnya hanya GBT dan Bulan biru, tak terjadi Bulan super.

Fenomena Bulan biru bergantung posisi pengamat. Sementara terjadinya Bulan super darah biru bukan siklus berulang dengan waktu sama. ”Bulan super darah biru terakhir di Indonesia terjadi pada 30 Desember 1982,” kata Avivah. Setelah Bulan super darah biru 31 Januari nanti, Bulan super darah biru akan terjadi lagi di Indonesia pada 31 Januari 2037.

Selain soal waktu, banyak isu menyebut GBT yang bersamaan dengan Bulan super akan meningkatkan banyak bencana, khususnya banjir dan gempa.

Saat Bulan purnama, tak harus terjadi GBT, akan meningkatkan pasang air laut karena tarikan gravitasi Bulan pada air laut akan diperkuat gravitasi Matahari. Saat gerhana, efeknya bertambah karena Matahari, Bulan, dan Bulan segaris. ”Untuk GBT 31 Januari nanti, efeknya lebih kuat karena terjadi bersamaan Bulan super atau berada di dekat titik terdekat dari Bumi,” kata Thomas.

Namun, maksimumnya pasang air laut akan menimbulkan banjir bergantung pada kondisi cuaca dan geografis tiap daerah. Hal yang harus diwaspadai, khususnya di Jakarta, ialah jika bersamaan dengan pasang maksimum itu terjadi hujan deras di darat dan laut sehingga limpasan air hujan dari darat tak bisa mengalir ke laut.

Banyak orang mengaitkan GBT akan memicu banyak gempa. Dari sejumlah data riset, ada beberapa gempa terjadi di sekitar terjadinya GBT ataupun gerhana Matahari, bisa sebelum atau sesudah gerhana. Namun, ada yang menghitung perpaduan tarikan gravitasi Matahari dan Bulan itu tak signifikan untuk memicu terjadi gempa.

Karena itu, Moedji berharap masyarakat tetap waspada, bukan khawatir atau takut berlebih menyikapi pro dan kontra terkait dampak gerhana terhadap kegempaan Bumi. ”Banyak mekanisme tarik-menarik Matahari, Bumi, dan Bulan yang belum dipahami manusia dengan baik,” ujarnya.(M ZAID WAHYUDI)

Sumber: Kompas, 30 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: