Generasi Sains Milenial Disiapkan

- Editor

Selasa, 25 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Generasi milenial Indonesia terus diajak untuk mencintai sains sebagai upaya mengembangkan sumber daya manusia yang mendukung pengembangan penelitian yang semakin penting. Potensi anak muda bangsa yang mampu mengembangkan inovasi dibutuhkan untuk mendukung pembangunan dan kemajuan daerah.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Suasana pembukaan PIRN 2019 di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (23/6/2019). Tahun ini sekitar seribu siswa SD, SMP, dan SMA/SMK sederajat ikut perkemahan ilmiah yang digelar LIPI dalam upaya menumbuhkan kecintaan ada sains dan penelitian.

Generasi milenial Indonesia terus diajak untuk mencintai sains sebagai upaya mengembangkan sumber daya manusia yang mendukung pengembangan penelitian yang semakin penting. Potensi anak muda bangsa yang mampu mengembangkan inovasi dibutuhkan untuk mendukung pembangunan dan kemajuan daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama 18 tahun, Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) menggelar Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) yang mengajak siswa SMP dan SMA/SMK sederajat untuk mencintai sains. Guru yang mendampingi siswa juga dilibatkan dalam kemampuan penelitian yang membantu siswa tertantang. Para siswa diberi bekal untuk memahami metodologi penelitian secara menyenangkan dan terjun langsung ke lapangan untuk melakukan riset dan mempresentasikan hasil riset.

Sekretaris Utama LIPI Nur Tri Aries Suestiningtyas dalam pembukaan PIRN ke-18 di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (23/6/2019), mengatakan, pelaksanaan PIRN didesain untuk melibatkan pemerintah daerah agar memahami pentingnya investasi dalam bidang SDM ilmu pengetahuan dan teknologi (ilmu pengetahuan alam dan teknik serta sosial dan kemanusiaan) yang bermanfaat untuk mendukung pembangunan daerah. Tahun ini PIRN mengambil tema generasi sains milenial penggerak kemandirian ekonomi daerah.

“Penyiapan SDM berkualitas, khususnya SDM iptek masih jadi tantangan. Investasinya masih belum dipahami untuk kepentingan jangka panjang. Karena itu, LIPI dan komunitas ilmuwan perlu mengajak daerah untuk bersama-sama sejak dini menyiapkan anak muda yang mencintai sains,” ujar Nur.

Nur menjelaskan, peserta PIRN bukan siswa yang sudah punya pengalaman dalam penelitian atau juara di kelas. Ajakan untuk mencintai sains ini terbuka lewat seleksi daring untuk siswa dari sekolah di seluruh Indonesia.

“Mengenalkan sains secara menyenangkan lewat PIRN justru berhasil membuat siswa di daerah jadi tertarik untuk meneliti sesuai kondisi dan potensi di daerah. Lalu, siswa aktif ikut kompetisi atau festival sains di daerah hingga nasional. Kami menemukan potensi siswa dari daerah dan sekolah biasa yang punya ide penelitian menarik yang bisa diikutkan dalam lomba internasional yang didukung LIPI,” ujar Nur.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Sekretaris Utama LIPI Nur Tri Aries Suestiningtyas dalam pembukaan PIRN ke-18 di Banyuwangi, Senin (23/6/2019

Dari peserta PIRN, Nur mencontohkan siswa SMA di Purbalingga yang meneliti soal perempuan yang bekerja di pabrik pembuatan rambut sehingga suami yang lebih banyak mengasuh anak, terpilih membawa penelitian sosial berbasis kondisi daerah ke kompetisi riset di Amerika Serikat. Ada pula siswa SMA di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau yang terpilih risetnya tentang alat pembersih timah dalam kompetisi di Taiwan.

Penelitian
Selama sepekan mengikuti PIRN, siswa dibagi dalam tim-tim kecil untuk kelompok IPA dan teknik serta ilmu sosial dan kemanusiaan. Mereka disiapkan untuk melakukan penelitian secara langsung di empat lokasi yakni Mal Pelayanan Publik, Desa Adat Osing Kemiren, Banyuwangi Agro Expo, Desa Gombengsari (desa asli Banyuwangi dengan suku osing dan dikenal sebagai sentra kopi dan desa wisata alam), serta Bangsring Under Water. Mereka dibantu para peneliti LIPI secara teori dan praktik sehingga bisa merancang penelitian yang baik dan mempresentasikannya di hari terakhir.

Selama PIRN digelar yang berlokasi di SMAN 1 dan SMKN 1 Banyuwangi digelar pameran yang menampilkan hasil riset yang dilakukan siswa SD, SMP, dan SMA/SMK sederajat dari Kabupaten Banyuwangi. Ditambah pula acara pertunjukan musik dan seni budaya untuk menyemarakkan suasana.

Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Agus Hartono mengatakan Banyuwangi terkenal sebagai daerah yang mendukung inovasi sehingga dapat jadi inspirasi bagi siswa dan guru. Dalam pelaksanaan PIRN 2019 ini, terobosan dilakukan Pemkab Banyuwangi dengan menyertakan siswa SD dan menggelar kelas robotik. Peserta pun diperbanyak hingga 1.000 siswa. Biasanya daerah ditarget sekitar 500-600 siswa dari semua provinsi di Indonesia.

Agus menambahkan para siswa dilatih melakukan penelitian ilmiah yang terkait dengan lingkungan sekitar, menggali potensi siswa daerah di bidang iptek sebagai investasi SDM untuk mengisi pembangunan daerah di masa mendatang, meningkatkan kesadaran penggunaan iptek terhadap pengelolaan dan pemecahan masalah di lingkungan sekitar. Selain itu, untuk membina koordinasi dan membangun jaringan antar remaja/sekolah/instansi pemerintah dan swasta guna membangun kerja sama yang berkesinambungan.

Menurut Nur, pelaksanaan PIRN bukan untuk menjadikan semua anak sebagai peneliti di masa depan. “Yang utama untuk pengembangan kesadaran ilmiah masyarakat. Untuk menanamkan sikap dan perilaku berpikiran ilmiah, rasa ingin tahu, pendekatan ilmiah, dan kepemimpinan,” kata Nur.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan anak muda di era sekarang tidak bisa lagi dianggap remeh. Sebab mereka terbukti banyak membawa perubahan dengan inovasi yang membawa terobosan dan perubahan.

“Banyuwangi yang fokus dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis alam menyadari pentingnya inovasi. Ada 99 festival di tahun ini, ya bagian dari inovasi. Hak ini bisa terselenggara dengan melibatkan anak muda dan masyarakat sehingga dalam keterbatasan anggaran daerah, tetap banyak kegiatan yang bisa dilakukan,” jelas Azwar.

KOMPAS/ESTER.LINCE NAPITUPULU–Peserta PIRN 2019 berdiskusi kelompok untuk merancang penelitian di lapangan. Pelaksanaan PIRN selama 18 tahun oleh LIPI untuk mengajak anak muda mencintai sains dan riset.

Pengembangan inovasi di daerah, ujar Azwar, dimulai dari hal yang bisa dikerjakan. Utamanya untuk meningkatkan pelayanan publik. “Banyuwangi yang dulunya daerah tertinggal dan miskin, kini bisa berkembang. Kami dorong inovasi tumbuh dan peran anak muda disertakan hingga ke desa,” kata Azwar.

Azwar menambahkan, Pemkab Banyuwangi mempercayakan riset yang dibutuhkan untuk pembangunan, misal mengatasi kemiskinan, pada lembaga penelitian di perguruan tinggi. Adapun Pemkab Banyuwangi mendukung lewat pemberian dana riset dan mendesain riset bersama yang difokuskan pada isu prioritas pembangunan dan melaksanakan riset tersebut.

Luthfia Eka Hapsari, siswa SMAN 1 Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, merasa senang bisa ikut PIRN. “Saya ikut eksul (ekstra kurikuler) Kelompok Ilmiah Remaja, namun pengembangan kemampuan riset belum baik. Di acara ini, saya merasa semakin tertantang karena penjelasan simpel dan diajak meneliti di lapangan,” ujar Luthfia.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Siswa dari Kabupaten Banyuwangi ambil bagian dalam pameran riset untuk memeriahkan PIRN 2019. Robotik jadi salah satu riset yang disenangi siswa.

Fath Pahdepie dari Kantor Staf Presiden Bidang Politik dan Anak Muda menambahkan Indonesia adalah salah satu negara masa depan dunia. Untuk itu, generasi muda yang memiliki mental dan sikap yang dipunyai ilmuwan dan peneliti dibutuhkan untuk menghasilkan banyak inovasi.

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 25 Juni 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB