Home / Sosok / Firdaus Oemar Menebar Virus Membaca ke Desa-desa

Firdaus Oemar Menebar Virus Membaca ke Desa-desa

Selama 50 tahun, Firdaus Oemar berkecimpung di dunia penerbitan buku. Pada saat usianya mencapai 82 tahun, ia juga masih tetap aktif mempromosikan gerakan literasi hingga ke rumah-rumah di pelosok desa.

Firdaus awalnya memasuki dunia penerbitan buku dan literasi lantaran dipaksa ayahnya, Oemar Bakry. Sang ayah, yang merupakan pendiri perusahaan penerbitan dan percetakan Mutiara Sumber Widya di Jakarta, ingin Firdaus meneruskan usaha keluarga ini.

Firdaus awalnya tak meminati dunia perbukuan. Tapi, lama-lama ia tertarik juga, bahkan jatuh cinta pada bidang ini. Ia kemudian aktif mendorong dunia perbukuan di Indonesia hingga saat ini.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Ketua Umum Yayasan Gerakan Indonesia Membaca (Yagemi) Firdaus Oemar.

Awal September lalu, ia datang ke acara pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2019 di Jakarta. Langkahnya perlahan, tetapi matanya menyorotkan semangat. Di acara seperti ini, ia senang bisa berjumpa rekan-rekannya di Ikatan Penerbit Indonesia. Ia biasanya akan bercerita tentang program buku bergilir yang berjalan di desa-desa di Sumatera Barat dan Jawa Barat.

”Saya ini kan sudah lanjut usia, kalau saya tidak bergaul dan duduk di rumah, tidak bergerak, justru saya gampang sakit,” ujar Firdaus seraya tertawa.

Hadir di ajang tahunan IIBF juga membuka kenangan buat Firdaus. Ia ingat, saat menjabat Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikapi, ia didapuk menjadi ketua panitia untuk menggelar Pameran Buku Indonesia tahun 1980. Ia sempat bertemu Wakil Presiden Adam Malik yang menanyakan apa yang akan dilakukannya untuk menyosialisasikan minat baca. Firdaus muda dengan tegas menjawab, ia akan membuat pameran buku dan minta wapres hadir dalam pembukaan.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Firdaus Oemar bersama mantan Ketua Umum Ikatan penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat Setia Darma Majid (kiri) memperjuangkan sistem buku bergilir berkembang ke desa-desa lewat Yayasan Gemar Membaca Indonesia.

Pameran buku perdana itu akhirnya benar-benar terselenggara dan dibuka Wapres Adam Malik. Pameran tersebut menjadi cikal bakal pameran buku tahunan Ikapi hingga kini bernama IIBF. ”Alhamdulillah apa yang sudah dirintis, bisa dikembangkan dengan baik,” ujar Firdaus.

Semangat Firdaus untuk memajukan dunia penerbitan dan perbukuan Indonesia disuarakan lewat Ikapi. Termasuk pula mendorong Indonesia untuk mengambil peluang sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair, yang merupakan ajang pameran buku terbesar dunia. Peluang itu terwujud pada Frankfurt Book Fair 2015.

Tertinggal
Ada satu hal yang membuat Firdaus sedih, yakni dunia penerbitan perbukuan Indonesia masih tertinggal, termasuk dari Malaysia. Di ajang Frankfurt Book Fair, sejumlah penerbit dengan bendera Ikapi patungan untuk menyewa satu gerai berukuran kecil dan tersembunyi. Sementara itu, Malaysia bisa menyewa 4-5 gerai. Belum lagi melihat India yang pada 1986 dan 2006 sudah menjadi tamu kehormatan di ajang Frankfurt Book Fair.

KOMPAS/ NASRULLAH NARA–Penulis Indonesia Seni Gumira Ajidarma (kanan), penulis Belgia David van Reybrouck (tengah), dan moderator dari Jerman Alexandra Koch, tampil dalam diskusi sastra bertajuk “Facts dan Fiction” di stan Indonesia pada Frankfurt Book Fair 2016, Rabu (19/10/2016).

Namun, Firdaus tidak mau pasrah. Ia terus membuat program yang mampu mendongkrak penerbitan buku, termasuk minat baca. Ia menggagas Pusat Distribusi dan Informasi Buku di Padang, Sumatera Barat, tahun 1985. Di tempat itu, ia melihat seorang anak sekolah yang tidak langsung pulang ke rumah, tapi betah membaca buku, hingga dicari orangtuanya. ”Di situ hati saya tersentuh bahwa membaca buku sebenarnya disukai, termasuk anak-anak.”

Firdaus juga pernah menggagas program mobil bergerak untuk mengatasi distribusi buku di daerah yang sulit. Program yang dibiayai dana pribadi itu terkendala persoalan operasional. Namun, Firdaus tidak kapok untuk membuat program baru.

Pada 2014, Firdaus bersama sejumlah tokoh di Ikapi, antara lain Setia Darma Majid dan Afrizal Sinaro, menggagas program pustaka peningkatan minat baca yang dimulai dari rumah. Uji coba sistem buku bergilir di rumah dilakukan di Jorong Air Batumbuah, Nagari Paninjauan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

”Kami prihatin dengan beragam kajian tentang rendahnya minat baca buku masyarakat. Kami yakin masyarakat sebenarnya mau membaca buku, tetapi perlu terobosan untuk membuat buku sampai ke rumah warga,” katanya.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Yayasan Gemar Membaca Indonesia menggelar rapat koordinasi Pustaka Bergilir buku masuk rumah di Jakarta, Selasa (23/10/2018). Sistem pustaka bergilir buku masuk rumah mendorong tumbuhnya minat baca sejak dalam keluarga, terutama di desa.

Firdaus dan kawan-kawan kemudian mengusung program Pustaka Bergilir yang dijalankan melalui Yayasan Gemar Membaca Indonesia. Program ini berupa pendistribusian buku secara bergilir untuk 200 rumah. Uji coba distribusi buku bergilir dilakukan di Jorong Air Batumbuah, Nagari Paninjauan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Tiap dua minggu, dua petugas mengantarkan satu tas buku berisi lima buku yang terdiri dari satu buku untuk ayah, satu buku untuk ibu, dan tiga buku untuk anak ke tiap rumah. Ada seribu buku yang diantarkan ke rumah warga secara bergilir sehingga tiap orang mencapai target membaca buku 24 judul buku/tahun. Petugas mengevaluasi masalah teknis yang dihadapi, termasuk buku apa yang tidak dibaca dan buku yang diinginkan. Hasilnya, kebutuhan akan buku bacaan meningkat. Masyarakat pun terdorong untuk mulai mengunjungi perpustakaan desa.

Program ini kemudian diadopsi Perpustakaan Nagari Saok Laweh sehingga berhasil meraih juara 1 nasional dalam lomba perpustakaan umum terbaik desa/kelurahan tahun 2018. Penghargaan diberikan oleh Perpustakaan Nasional.

Setelah di Sumatera Barat, program itu disambut hangat di Jawa Barat. ”Saya yakin sistem buku bergilir ini dibutuhkan untuk membantu masyarakat membaca buku yang tepat,” ujar Firdaus.

Firdaus menyebut para tokoh Ikapi yang sudah sepuh selalu semangat saat diajak berkumpul untuk mengembangkan sistem buku bergilir ke semakin banyak desa. ”Kalau sudah bicara soal buku, sampai lupa waktu,” ujarnya.

Firdaus

Lahir: Solok, 26 Agustus 1937

Istri: Zurtini Firdaus (81)

Anak: 5 orang, cucu 7 orang, dan cicit 5 orang.

Penghargaan:
Tokoh Perbukuan ASEAN dari Pemerintah Malaysia (2015)
Penghargaan Bintang Jasa Pramuka dari Kwarnas Pramuka

Organisasi
Ikatan Penerbit Indonesia Pusat
Ketua Umum Gabungan Toko Buku Indonesia
Penasihat Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia Pusat
Ketua Solok Saiyo Sakato

ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 18 September 2019

Share
x

Check Also

Ari Hidayat, Dulu Pemburu, Kini Pelindung Satwa

Ari Hidayat dulu gemar berburu satwa. Perjalanan waktu mengubahnya menjadi pelindung satwa yang keras kepala. ...

%d blogger menyukai ini: