Home / Berita / Fase Awal Kluster-Kluster Covid-19

Fase Awal Kluster-Kluster Covid-19

Munculnya kluster-kluster Covid-19 di awal pandemi hanya memerlukan waktu yang singkat dan menyebar cepat ke seluruh provinsi di Indonesia.

Banyaknya kluster baru Covid-19 yang muncul hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan terjadi karena mobilitas manusia melintas batas wilayah administrasi dalam satu pulau atau antarpulau, khususnya sebelum pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB.

Masyarakat telah banyak memahami, virus korona dapat ditularkan melalui droplet atau cairan yang dihasilkan oleh saluran napas penderita penyakit ini. Selanjutnya saat droplet yang mengandung virus tersebut secara tidak sengaja terhirup atau masuk ke mulut orang lain, virus pun berpindah dan terjadi penyebaran penyakit.

Namun, cara penularan inilah yang awalnya tidak diketahui masyarakat luas saat virus korona pada awal Maret mulai menyebar di Indonesia. Tercatat dalam laman Covid-19, pada 15 Maret, sudah ada 117 kasus yang menjangkiti delapan provinsi. Data perkembangan kasus mendetail di setiap provinsi mulai rutin dipublikasikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sejak 19 Maret 2020.

—Grafik Kluster Awal Penyebaran Covid-1

Saat itu jumlah kasus yang terkonfirmasi positif per 18 Maret 2020 sudah mencapai 227 kasus dengan penyebaran di 14 provinsi. Seluruh provinsi di Jawa menempati enam urutan teratas. Hingga akhirnya pada 10 April 2020, kasus Covid-19 menyebar ke seluruh provinsi dan Sulawesi Selatan menjadi satu-satunya provinsi luar Jawa yang masuk dalam lima provinsi dengan kasus terbanyak (167 kasus). Sebaliknya, Daerah Istimewa Yogyakarta (41 kasus) dapat menahan laju penambahan kasus, justru Bali (75 kasus) dan Sumatera Utara (59 kasus) yang meningkat.

Selain itu, di akhir Mei, semua provinsi besar di Jawa, kecuali Banten dan DIY, tetap menempati lima urutan teratas dengan jumlah kasus di atas 1.000, bersama dengan Sulawesi Selatan (1.541 kasus). DKI tetap menempati urutan teratas dengan jumlah kasus 7.348. Kemudian 14 provinsi berada dalam kelompok jumlah kasus antara 200 hingga 1.000, termasuk Banten (861 kasus) dan DIY (236 kasus), dengan Sumatera Selatan (982 kasus) di urutan teratas kelompok ini.

Selebihnya, 15 provinsi berada pada kelompok dengan jumlah kasus kurang dari 200. Namun, ada juga tujuh provinsi yang mencatat angka kasus kumulatif penduduk terjangkit Covid-19 berada di bawah 100 kasus sampai dengan akhir Mei 2020. Provinsi tersebut adalah Jambi yang mencatat 97 kasus kumulatif, lalu Nusa Tenggara Timur (91 kasus kumulatif). Berikutnya Provinsi Sulawesi Barat yang mencatat 88 kasus kumulatif, Bengkulu 86 kasus, kemudian 69 kasus kumulatif di Provinsi Gorontalo. Dua kasus kumulatif terendah ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 46 kasus dan Aceh (20 kasus kumulatif).

Sarana Penyebaran Covid-19

Selanjutnya, setelah virus masuk ke Indonesia di satu wilayah, bisa menyebar dengan cepat ke wilayah lain, bahkan hingga menyeberang pulau. Penyebaran ini oleh Kementerian Kesehatan diistilahkan penyebaran pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN).

Penyebaran antarwilayah ini bersamaan dengan penyebaran dalam wilayah yang disebut transmisi lokal. Orang yang membawa virus dari daerah lain bisa menulari keluarga, teman, atau tetangganya. Hingga akhirnya sekarang virus telah tersebar ke 34 provinsi dan 422 kabupaten/kota. Laman emerging Kementerian Kesehatan mencatat hingga 7 Juni telah terjadi 128 kasus transmisi lokal.

Selama tiga bulan ini telah terbentuk ratusan kluster penyebaran Covid-19. Merunut publikasi Kompas, pada Maret kluster yang terbentuk berasal dari pertemuan orang dalam jumlah besar, baik itu kegiatan seminar maupun keagamaan. Kemudian diikuti oleh kasus impor yang selanjutnya menjadi transmisi lokal, seperti kluster anak buah kapal pesiar ataupun masyarakat yang pulang dari luar negeri.

Kedatangan Pekerja Migran

Setelah Presiden Joko Widodo menerapkan PSBB, penyebaran virus tetap terjadi dengan perbedaan pola kluster. Titik penyebaran lebih berskala lokal, tetapi jumlah orang yang terinfeksi tetap dalam jumlah banyak, di antaranya kluster sekolah berasrama, fasilitas kesehatan, industri, pasar, dan kluster kecil yang terbentuk dalam kelompok masyarakat.

Kemenkes menyebutkan, kasus kluster terjadi jika terdapat dua orang atau lebih memiliki penyakit yang sama dan mempunyai riwayat kontak yang sama dalam jangka waktu 14 hari. Kontak dapat terjadi pada keluarga atau rumah tangga, rumah sakit, ruang kelas, tempat kerja, dan sebagainya. Dari kluster, muncul kasus subkluster, saat kelompok induk ini menularkan virus secara berantai ke kelompok lain di luar kluster.

Momen Awal Covid-19 di Indonesia

Kluster awal

Sebenarnya, kepastian kapan persisnya virus korona mulai masuk ke Indonesia belum jelas terpetakan. Bisa jadi Februari saat negara Asia lainnya mulai terjangkiti. Namun, nyatanya Presiden Jokowi baru mengumumkan pasien kasus pertama pada 2 Maret 2020 yang menimpa seorang perempuan bertempat tinggal Depok, Jawa Barat.

Perempuan pasien pertama tersebut terpapar virus dari seorang warga Jepang yang tinggal di Malaysia. Selanjutnya pasien tersebut menulari ibu dan saudara perempuannya yang tinggal serumah. Setelah ditelusuri, ketiga pasien tersebut pernah berinteraksi dengan orang lain.

Tercatat dalam laman emerging.kemenkes, kasus 1, 2, dan 3 pernah berinteraksi dengan kasus 4, 5, 10, 11, 12, dan 13. Itulah saat pertama kali istilah kluster diperkenalkan sebagai titik penyebaran virus korona dan diberi nama sebagai kluster Jakarta atau kluster 1 dalam laman corona.jakarta.go.id.

Kluster Penyebaran Covid-19
Namun, saat pertengahan Maret, diberitakan ada seorang pasien menderita sakit pilek, demam, dan batuk. Hingga akhirnya setelah dirawat seminggu di sebuah rumah sakit di Solo, Jawa Tengah, pasien berjenis kelamin laki-laki tersebut meninggal. Pemerintah melalui juru bicara Covid-19, Achmad Yurianto, mengumumkan kematian pasien tersebut dan menyebutnya sebagai kasus ”50”.

Pasien tersebut diketahui sakit setelah menghadiri sebuah seminar di Bogor, Jabar, pada akhir Februari lalu. Setelah itu, beberapa teman pasien yang ikut menghadiri seminar tersebut diperiksa dan dinyatakan positif Covid-19. Belakangan baru diketahui jika pasien tersebut baru saja menghadiri seminar Komunitas Tanpa Riba yang diselenggarakan di Hotel Darmawan Park, Sentul, Jabar, tanggal 25-28 Februari 2020.

Agak sulit menelusuri asal daerah peserta karena panitia pelaksana seminar tersebut sulit ditemukan. Beberapa orang peserta baru diketahui telah menjadi peserta seminar tersebut setelah menderita Covid ataupun meninggal. Kompas mencatat, ada sekitar 200 peserta yang berasal dari wilayah Ciamis, Solo, Magetan, Samarinda, Balikpapan, Merauke, Jayapura, Batam, hingga kawasan Banten.

Masjid Jami Kebon Jeruk

Pada pertengahan Maret itulah baru diketahui ada titik penyebaran virus yang terjadi pada akhir Februari, sebelum kasus pertama diketahui. Bisa jadi virus masuk ke Indonesia sebelum itu yang tidak jelas dibawa dari mana. Kluster tersebut diberi nama ”Seminar Masyarakat Tanpa Riba (MTA)”, Bogor.

Beberapa peserta yang membawa virus tersebut menularkannya kepada keluarga atau kerabatnya. Akhirnya, kluster MTA tersebut membentuk titik penyebaran baru di luar wilayah Bogor sebagai wilayah peserta seminar.

Saat yang bersamaan dengan seminar tersebut, ada pula Persidangan Sinode Tahunan GPIB yang diadakan di Aston Hotel dan Resort Bogor pada 28-29 Februari 2020. Sama seperti kluster MTA, sumber penularan penyakit baru diketahui setelah pasien dinyatakan positif ataupun meninggal pada pertengahan Maret tersebut.

GPIB

Munculnya kluster GPIB diketahui setelah salah satu peserta dari Kabupaten Kutai Kartanegara dinyatakan positif dan dirawat di RSUD Aji Muhammad, Tenggarong, Kaltim. Setelah itu Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara menelusuri peserta lainnya dan terkumpul 19 orang yang menjadi pasien dalam pengawasan (PDP). Setelah itu, baru ada laporan peserta lain menderita sakit dengan gejala yang sama. Hanya saja saat itu, pemerintah belum bergerak cepat untuk mengadakan penelusuran peserta dan petugas hotel yang pernah berinteraksi selama sinode tersebut. Catatan Kompas merujuk pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 NTB, satu peserta sinode tersebut membentuk kluster baru (subkluster) di wilayah NTB. Ada 14 jemaat berasal dari Mataram dan dua dari Lombok Barat.

Selain di Mataram, mengutip dari National Geographic Juni 2020, kluster GPIB tersebut juga membentuk subkluster dalam lingkup keluarga. Raja Sihombing (19) tertular virus korona dari ayahnya, Rico Sihombing (54), salah satu peserta sidang sinode tahunan. Rico Sihombing dirawat di RSKD Duren Sawit, sedangkan anaknya memilih untuk melakukan karantina sendiri di rumah.

—Jejak Kasus Covid-19 di Jakarta

Kluster pertemuan
Setelah kluster awal dari beberapa pertemuan dan kegiatan keagamaan di akhir Februari, masih terbentuk beberapa kluster dari aktivitas yang mengumpulkan dan melibatkan banyak orang tersebut. Pada awal Maret terbentuk kluster GBI Lembang dari acara Pastors Meeting yang diselenggarakan oleh Gereja Bethel Indonesia. Acara yang diselenggarakan pada 3-5 Maret 2020 tersebut dihadiri lebih kurang 600 orang dari 25 provinsi di Indonesia.

Kluster penyebaran virus ini awal diketahui saat pendeta berinisial AN mendatangi Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Jabar, dengan keluhan sesak napas. Setelah dirawat dua hari, pendeta tersebut meninggal pada 21 Maret dan dinyatakan positif Covid. Kemudian disusul oleh istrinya yang meninggal seminggu setelahnya dengan gejala yang sama.

Setelah itu Pemerintah Provinsi Jawa Barat coba menelusuri seluruh peserta pertemuan yang diketahui dihadiri oleh 600 orang. Peserta tak hanya berasal dari Jawa Barat, tetapi juga provinsi lain, seperti Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, Banten, dan Papua.

Kluster Covid-19 di Sektor Kesehatan dan Industri

Peserta seminar dari berbagai wilayah ini berpotensi untuk membentuk kluster-kluster baru di daerah asal. Kluster GBI Lembang ini berkembang menjadi kluster industri garmen Bandung. Seorang pekerja pabrik garmen di Bandung dinyatakan positif setelah tertular oleh seorang peserta seminar GBI. Dari penelusuran pemberitaan Kompas, 22 peserta seminar GBI dinyatakan positif dan membentuk kluster baru disebut Tembagapura. Virus bawaan dari Lembang, Bandung, ini berhasil menjangkiti 125 orang di areal PT Freeport Indonesia, Mimika.

Beberapa hari setelah itu, terselenggara Musyawarah Daerah Hipmi yang diselenggarakan di Karawang, Jabar. Jumlah pesertanya sekitar 400 orang dari kawasan Jabar. Penularan yang terjadi tidak seluas tiga kluster sebelumnya, tetapi berhasil membuat dua pejabat daerah, yakni Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana dan Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana, tertular setelah menghadiri acara tersebut.

Kluster Hipmi kemudian membentuk kluster baru di Karawang. Kluster pertama di Karawang ini menulari 12 orang yang terdiri dari anggota keluarga dan teman kerja salah satu peserta Hipmi.

Musda HIPMI

Kluster Itijma Gowa
Dari wilayah timur Indonesia, salah satu kluster penularan terbesar berasal dari acara Ijtima Jamaah Tabligh Zona Asia. Acara ini rencananya akan diadakan selama empat hari mulai dari 19 Maret hingga 22 Maret 2020 di Kecamatan Bontomaranu, Gowa, Sulawesi Selatan.

Meski kemudian acara ini dibatalkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membenarkan jika lebih dari 8.000 anggota jemaah telah tiba di Gowa. Mereka tidak hanya berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Menurut pemantauan Kompas, warga negara asing itu berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, China, dan Afghanistan.

Setelah para jemaah kembali ke daerah mereka masing-masing, baru proses penularan besar-besaran terjadi di banyak lokasi di Indonesia. Contohnya 1.057 peserta yang berasal dari Jawa Tengah. Setelah dilakukan pemeriksaan pada tengah Maret 2020, Dinkes Jateng mencatat terdapat 185 orang di antaranya dilaporkan positif Covid-19.

Jamaah Tabligh

Penelusuran demi penelusuran dilakukan pemerintah demi memutus penularan virus di 30 kabupaten/kota asal para pasien di Jawa Tengah. Pertengahan April 2020, satu keluarga di Banyumas, Jateng, terkonfirmasi positif Covid-19. Dari empat anggota kelurga itu, satu di antaranya memiliki riwayat mengikuti acara di Gowa.

Tidak hanya di Pulau Jawa, kluster ini juga menular hingga Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Bahkan juga tercatat mendominasi penyebaran Covid-19 di sejumlah provinsi. Contohnya penularan di NTB. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat pada tengah April 2020 lebih dari separuh kasus positif di NTB berasal dari kluster ini. Diketahui sedikitnya ada 1.300 jemaah dari NTB yang berangkat ke Gowa.

Hingga 31 Maret 2020, tercatat dalam laman Covid-19, ada 114 orang terinfeksi positif Covid-19 dan telah tersebar ke 32 provinsi. Penyebaran virus yang telah meluas tersebut akhirnya membuat Presiden Jokowi menerbitkan peraturan presiden untuk mengatur karantina wilayah secara ketat. Pertauran Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tersebut mengatur pembatasan sosial yang mengharuskan kegiatan bekerja, sekolah, dan beribadah dilakukan di rumah. Juga ada pembatasan kegiatan. Diharapkan dengan aturan ini memininalisasi terjadinya pembentukan kluster-kluster baru di wilayah lain.

Kasus penyebaran penyakit yang berasal dari sumber yang sama pada Maret menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Dari sebuah pertemuan, baik itu kegiatan seminar, kegiatan keagamaan, maupun aktivitas perkumpulan yang terpusat di suatu lokasi bisa, menjadi pemicu penyebaran cepat Covid-19 hingga ke seluruh Indonesia.

Kerabat Kerja: Penulis : M Puteri Rosalina , Albertus Krisna, Slamet JP | Fotografer: Riza Fathoni, Agus Susanto, Heru Sri Kumoro, Johanes Galuh Bimantara , Rhama Purna Jati , Melati Mewangi, Aguido Adri | Infografik: Ismawadi, Arjendro Darpito, Hans Kristian, Dicky Indratno | Cover: Novan Nugrahadi | Penyelaras Bahasa: Hibar Himawan | Produser: Emilius Caesar Alexey | Desainer & Pengembang: Ria Chandra, Rino Dwi Cahyo, Frans Yakobus Suryapradipta, Yosef Yudha Wijaya, Deny Ramanda

Sumber: Kompas, 15 Juni 2020

Share
x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: