Home / Artikel / Mengapa Banyak Dokter Gugur di Masa Covid-19?

Mengapa Banyak Dokter Gugur di Masa Covid-19?

Bisa dilihat hasil penelitian jumlah konsentrasi virus di beberapa ruangan rumah sakit. Di ruang ganti pakaian dan atribut jas dokter, masker, tutup kepala mengandung virus cukup tinggi.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Petugas medis disemprot dengan disinfektan seusai melakukan pelayanan tes cepat Covid-19 drive thru di GOR Pajajaran, Kota Bogor, Selasa (7/4/2020).

Bagi tenaga kesehatan Indonesia, khususnya dokter, hari-hari ini mereka mengalami tantangan dan keadaan yang sangat sulit. Keadaan tersulit, sepanjang sejarah kedokteran Indonesia, paling tidak sejak krisis multidimensi tahun 1997.

Hal ini tidak saja terkait dengan BPJS yang defisit dan mengubah pola praktik dokter yang harus merasakan sulitnya keuangan dengan berbagai dampaknya. Keadaan itu belum pulih, kemudian dihantam kondisi yang sangat berat dengan adanya pandemi Covid-19. Lebih dari 15 dokter kurang dari satu bulan berguguran terkait dengan Covid-19 ini. Angka tersebut ternyata masih terus bertambah, beberapa masih relatif muda dan produktif. Mengapa banyak dari mereka gugur?

Tentu dalam bahasa agama, sudah takdirnya. Akan tetapi, kita perlu tahu, takdir tersebut melalui jalan, cara, dan mekanisme serta sebab apa? Banyak keluhan baik dari kalangan dokter, rumah sakit, maupun unit pelayanan kesehatan yang bertempur di garis paling depan, merasa kekurangan alat pelindung diri (APD).

Banyak organisasi masyarakat, individu, dan pemerintah pusat maupun daerah kemudian mengadakan APD ini. Para peneliti dan dosen berinovasi dalam menghasilkan APD. Perusahaan juga mencoba memproduksinya. Kita optimistis dengan APD bisa menekan kematian para petugas medis.

Mungkin laju angka kematian tenaga medis dan kesehatan sudah berkurang dengan APD, tetapi masih ada saja dokter yang gugur. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, sebagaimana dilaporkan masyarakat yang terdeteksi positif Covid-19 meningkat secara eksponensial. Saat ini sudah lebih dari 2,3 juta di dunia dan 6.000 orang lebih di Indonesia positif Covid-19. Hal ini belum termasuk mereka yang datang ke rumah sakit dengan gejala, tetapi masih negatif.

Peningkatan kasus positif ini hanya dalam waktu relatif singkat sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus positif pertama di Indonesia. Peningkatan dan jumlah pasien dalam pemantauan ini mengakibatkan banyak tenaga kesehatan, khususnya dokter, kelelahan. Dalam keadaan kelelahan dan kurang tidur tentu daya tahan tubuh menurun, padahal mereka bekerja dalam lingkungan berisiko. Hal ini diperparah jika ketersediaan APD terbatas.

Konsentrasi virus
Kedua, ini yang tidak banyak diketahui. Bahwa berdasarkan hasil penelitian di Wuhan, China, konsentrasi virus korona ini di ruang ICU dan di tempat ruang ganti pakaian dokter cukup tinggi. Hasil penelitian di Wuhan tentang karakteristik aerodinamika konsentrasi virus di rumah sakit A ditemukan sebagai berikut.

Untuk di ruang tempat kerja umum, konsentrasi virus Covid-19 adalah 1-9, di ruang ICU 31 dan 113, sedangkan CCU yang bertekanan negatif nol. Di toilet pasien 19, di ruang ganti pakaian cukup tinggi 11-20. Di tempat banyak orang juga lumayan tinggi, di tempat lalu lalang banyak tenaga medis juga tinggi.

Kemungkinan droplet dari pasien, apalagi jika pasien penuh, bisa lebih banyak. Lantai ruangan ICU yang pasien penuh, ditambah lalu lalang tenaga medis, virus aerosol bertahan lebih lama di udara. Termasuk di tempat ganti pakaian dan atribut jas dokter.

Bisa dilihat hasil penelitian jumlah konsentrasi virus di beberapa ruangan rumah sakit. Di ruang ganti pakaian dan atribut jas dokter, masker, tutup kepala mengandung virus cukup tinggi. Pada waktu di ICU, meski konsentrasi RNA virus Covid-19 tinggi, APD biasanya masih cukup lengkap. Di ruang ganti APD mulai dilepas dan cara melepas yang salah memungkinkan virus masih di udara lebih lama.

KOMPAS/ALIF ICHWAN–Pengendara sepeda melintas dan melihat mural berkaitan dengan maraknya pandemi Covid-19 yang berada di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Depok, Jawa Barat, Minggu (5/4/2020).

Di sini kemungkinan yang kurang disadari oleh banyak tenaga medis. Karena itu, meski sudah memakai APD, pada waktu ganti atau di ruang ganti ini memungkinkan virus menempel ke tangan atau tubuh lalu ke mukosa, baik mulut, hidung maupun mata. Di ruang ganti itu karena masker sudah dilepas dan virus masih tertahan di udara, kemungkinan bisa terhirup, masuk ke pernapasan atau melalui mekanisme lain.

Jelas di ruang ganti ini kurang diperhatikan. Apalagi karena dokter kewalahan dengan banyaknya pasien, waktu kerja yang lama, kondisi yang kurang prima atau kurang tidur, sehingga mudah terinfeksi.

Oleh karena itu selain APD, untuk toilet, ruang ganti dokter dan ruang staf perlu betul-betul dilakukan disinfektan dan sterilisasi, baik terhadap pakaian, APD, atribut jas dokter, maupun ruangan itu sendiri. Penelitian karakteristik aerodinamika konsentrasi virus korona selama pandemi Covid-19 ini dapat menjadi pembelajaran yang berharga.

Demikian juga ruang atau tempat yang berkerumun, apalagi berjubel, orang juga konsentrasi tinggi sehingga tinggal di rumah, menghindari kerumunan, pembatasan sosial/fisik, akan bermanfaat dalam mengurangi penularan dan jumlah orang terinfeksi. Pengurangan jumlah orang yang terinfeksi dan yang berobat ke rumah sakit akan sangat membantu para dokter dan tenaga medis lain. Selamat berjuang, bersama kita bisa.

(Ghufron Mukti, Ketua Konsorsium Penelitian dan Inovasi Terkait Covid-19, Kementerian Ristek/BRIN)

Sumber: Kompas, 22 April 2020

Share
x

Check Also

Tantangan Kelola Riset dan Inovasi

Inovasi selalu multipihak dan bertahapan jamak. Ia tak pernah akan bisa dipaksa, tetapi prosesnya bisa ...

%d blogger menyukai ini: