Home / Berita / Ekonomi Kreatif; Pemerintah Dorong Wirausaha Digital

Ekonomi Kreatif; Pemerintah Dorong Wirausaha Digital

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong pertumbuhan wirausaha di bidang digital. Sebab, arah perkembangan teknologi digital ke depan adalah aplikasi bergerak.

”Kami berharap pelaku kreatif terus mengembangkan produk kreatif digital berbasis aplikasi mobile (bergerak) sehingga memunculkan digitalpreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja baru. Pemerintah akan mendorong pertumbuhannya melalui berbagai kebijakan,” kata Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan Iptek Kemenpar dan EK Harry Waluyo di Jakarta, Senin (7/7).

Menurut Harry, Kemenpar dan EK juga memfasilitasi pelaku kreatif untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektual (HKI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal HKI. Pelaku industri kreatif juga akan difasilitasi untuk mendapatkan sertifikat produk kreatif agar mampu bersaing dengan produk-produk kreatif luar negeri.

Sertifikasi produk itu secara nasional sudah diatur dalam standar nasional Indonesia (SNI). Kemenpar dan EK mendorong para pelaku kreatif agar membangun jejaring dan berkolaborasi untuk menggarap proyek bersama.

”Setelah mereka siap baru kemudian berdagang secara konvensional dan dalam jaringan,” kata Harry.

Sementara itu, sejumlah pelaku UKM di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai mempromosikan produknya menggunakan jasa desainer dan teknologi informasi (TI). UKM Muria Batik Kudus, misalnya, menggandeng sejumlah mahasiswa teknologi informasi dan desain untuk membuat laman dan desain seragam batik.

Pemilik UKM Muria Batik Kudus Yuli Astuti mengatakan, sekitar 30 persen pembeli batik mendapat informasi motif batik Kudus dari laman Muria Batik Kudus. Setelah tertarik, mereka berkomunikasi lewat surat elektronik ataupun datang langsung ke galeri.

Yuli menambahkan, saat ini jasa tenaga TI dan desainer sangat diperlukan. (HEN)

Sumber: Kompas, 8 Juli 2014

———–

Buku Cetak Biru Siap Diluncurkan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif usai menyusun buku cetak biru rencana jangka panjang ekonomi kreatif Indonesia bertajuk Ekonomi Kreatif: Menuju Daya Saing Baru Indonesia 2025. Buku itu akan diluncurkan pada 11 Juli 2014 bersamaan dengan perhelatan Festival Kreatif 2014 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Buku cetak biru ekonomi kreatif itu merupakan hasil penelitian dan pemetaan 15 industri kreatif. Pemetaan tersebut hasil identifikasi masalah strategis yang perlu diatasi. Untuk selanjutnya, pemetaan tersebut dijabarkan dalam rencana aksi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

”Buku ini memuat identifikasi tujuh isu strategis ekonomi kreatif. Ini bukan buku normatif yang mengawang-awang, tapi sudah ada rencana aksi dan target,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Jakarta, Senin (7/7).
Isu strategis

Tujuh isu strategis yang menjadi potensi dan tantangan dalam pengembangan ekonomi kreatif meliputi ketersediaan sumber daya kreatif yang profesional dan kompetitif. Itu isu pertama serta paling utama.

Isu kedua adalah ketersediaan sumber daya alam berkualitas, beragam, dan kompetitif, termasuk sumber daya budaya yang mudah diakses. Ketiga, pengembangan industri yang berdaya saing, tumbuh, dan beragam.

Isu strategis keempat adalah ketersediaan pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif. Perluasan pasar bagi daya kreatif menjadi isu kelima yang juga harus digarap. Isu strategis keenam menyangkut ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang sesuai dan kompetitif. Isu ketujuh ialah kelembagaan dan iklim usaha yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif.

Menurut Mari, buku itu merupakan revisi dari buku sebelumnya. ”Setelah melalui serangkaian forum diskusi grup, akhirnya kami bisa memetakan langkah,” ujarnya.

Festival kreatif
Terkait Festival Kreatif (Fesra) yang digelar pada 11-14 Juli 2014, Mari mengatakan, festival itu tidak sekadar pameran yang menjual produk-produk, seperti kerajinan dan busana. Terdapat juga ikon-ikon budaya yang ditampilkan di festival itu.

”Ada ikon warisan budaya yang diapresiasi dan disesuaikan dengan kekinian. Kami mengangkat kearifan lokal suatu daerah yang dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” ujar Mari.

Festival kreatif itu untuk pertama kalinya diselenggarakan dan melibatkan 220 orang kreatif. Dengan tema ”Harmoni Tanpa Batas dalam Bentuk dan Corak”, festival kreatif itu menjadi berbeda dengan festival atau pameran produk budaya lain.

Ketua Panitia Fesra Evi Syamsuddin mengatakan, festival kreatif, antara lain, mengusung ikon Papua, seperti pahatan patung Asmat, perhiasan motif Papua, dan baju Papua. Koleksi patung Asmat milik Mari Pangestu juga ditampilkan.

Ikon budaya lain adalah batik. Di festival itu akan ditampilkan batik-batik karya Iwan Tirta yang tidak hanya berwujud baju, tetapi juga dekorasi.

Evi menambahkan, yang membedakan Fesra dengan festival kreatif lain ialah kehadiran produk ekonomi kreatif karya para narapidana.

”Akan ada stan hasil karya narapidana seluruh Indonesia, produk unggulan mereka. Kami memberi kesempatan kedua agar para narapidana diterima kembali di masyarakat dan bisa produktif, membuat karya berkualitas ekspor,” kata Evi.

Produk para narapidana itu meliputi hasil makanan, batik, furnitur, hingga bola kaki, yang semuanya sudah diekspor. (IVV)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: