Home / Sosok / Eko Endarmoko; Dari Tesaurus ke Tesamoko

Eko Endarmoko; Dari Tesaurus ke Tesamoko

Tesaurus, binatang apa itu? Tesaurus tak ada hubungan dengan dinosaurus. Tesaurus berasal dari kosakata bahasa Yunani, artinya gudang. Istilah ini kemudian disematkan oleh penyair Sitok Srengenge untuk judul buku Eko Endarmoko (57), salah satu “penjaga gawang” bahasa Indonesia.

Tesamoko, apa pula itu? Tesamoko akronim dari Tesaurus Endarmoko atau Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia edisi kedua yang terbit Agustus 2016. Edisi pertama terbit tahun 2006, tesaurus bahasa Indonesia yang pertama di dunia. Judul Tesamoko menegaskan, tesaurus ini adalah Tesaurus ala Moko (Eko Endarmoko), bukan tesaurus ala ini atau ala itu.

Menurut Eko Endarmoko, penyusunnya, di Jakarta, Jumat (21/10) lalu, kehadiran tesaurus bahasa Indonesia diawali dengan niatnya membantu penulis, pengarang, dan pengguna bahasa menemukan kata yang bisa tepat mengekspresikan konsep mereka. Eko bekerja tidak bersandar pada leksikografi, tetapi pada kebutuhan pengguna.

“Di banyak bahasa di dunia, sudah banyak kamus tesaurus, tetapi di dalam bahasa Indonesia, inilah yang pertama.”

Tesaurus dan kamus sama-sama jadi rujukan bahasa, sama-sama jadi tempat bertanya. Bedanya, dengan kamus, pengguna mencari makna yang tepat dari kosakata yang sudah ada. Dengan tesaurus, pengguna mencari kosakata yang tepat untuk mengekspresikan makna atau konsep yang sudah dia punya. Alih-alih benarlah tesaurus memang semacam gudang. Tesaurus tidak memberikan takrif atau definisi, berbeda dengan kamus.

Dengan makna “cakap” sebagai contoh, tesaurus menawarkan sejumlah sinonim, di antaranya “becus” dan “ahli”. Dengan kata “cakap”, kamus menawarkan pengartian sejumlah kata sinonim lengkap dengan contoh- contoh dalam kalimat.

Tesaurus lebih peduli dengan menyajikan serencengan kata yang bisa dipilih oleh pengguna (memilih mengandaikan pengertian). Dengan tesaurus, dalam kata “usang” (adjektif sinonim), misalnya, ditawarkan arti dalam dua gugus, gugus a dengan sejumlah pilihan, di antaranya “arkais” atau “konservatif” dan gugus b dengan sejumlah pilihan seperti “aus” dan “rusak”.

Titik berangkat dan maksud tesaurus dan kamus berbeda. Tesaurus menawarkan kosakata yang menampung makna, kamus menawarkan pengartian kosakata. Kamus dan tesaurus saling mengisi. Mana yang sebaiknya lebih dulu dicari? Jawab Eko, “tergantung kebutuhan, sebab di banyak negara, keduanya sama-sama jadi tempat rujukan dan tempat bertanya”.

Tidak disengaja
Menurut Eko atau biasa dipanggil akrab Moko, yang pernah belajar di Jurusan Sastra Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) tahun 1980-1986, kehadiran tesaurus bahasa Indonesia seolah-olah kebetulan. Tidak disengaja. Awalnya, ketika pertengahan tahun 1980-an, ia diminta oleh Prof Anton Moeliono selaku dosen Semantik di FS UI (sekarang FIB UI) untuk membantu mencatatkan kata-kata dasar yang bersinonim.

Pekerjaan itu dia teruskan ketika bekerja sebagai wartawan majalah perbukuan Optimis (1984-1985). Bahkan tidak hanya kata-kata dasar bersinonim, tetapi juga kata berimbuhan dan kelompok kata.

Pada 1993, tumpukan kartu tik hasil tugasnya sudah menggunung. Sambil bekerja, kata-kata itu ditelisiknya sehingga kadang-kadang tidak tersentuh berminggu-minggu, dicarikan rujukan ke kamus, tetapi tetap demi kebutuhan pengguna sebagai batu penjuru.

Lebih kurang empat tahun kemudian, ketika bekerja di Komunitas Utan Kayu dan majalah kebudayaan Kalam, draf naskah mulai terwujud. Atas bantuan Jaap Erkelens dan Goenawan Mohamad, dia bisa tinggal beberapa bulan di Leiden untuk menyelesaikannya, bertemu dengan sejumlah pakar bahasa Indonesia di sana.

Kembali ke Indonesia, akhirnya tersusun siap terbit naskah tesaurus edisi pertama. Sempat kena stroke tiga bulan, dia sembuh, dan memperoleh resep. Stroke itu jadi parah karena penumpangnya depresi. Eko bisa mengatasi depresi. Tesaurus akhirnya diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, termasuk juga edisi kedua, tesaurus bahasa Indonesia yang pertama.

Gerombolan Tesamoko
Sepuluh tahun setelah edisi pertama terbit, menurut Eko, tesaurus itu sudah cetak ulang tiga kali, masing-masing 5.000 eksemplar. Untuk edisi kedua perlu direvisi. Tidak hanya karena faktor penambahan lema dan sublema, tetapi juga penghilangan beberapa lema atau pengartian yang bias jender yang masih terdapat dalam edisi pertama. Misalnya, “orang belakang” yang dipadankan dengan “istri” tidak dia pasang lagi, juga “junjungan” yang mengacu pada suami.

Bertemulah 18 teman yang terdiri dari dosen, penulis, editor, pengarang, bersama sejumlah konsultan ahli, melakukan kerja keroyokan. “Ya, kerja keroyokan sebab kami bekerja bersama-sama, tetapi sejak awal saya sampaikan kata putus pada saya,” tambah Eko.

Mereka bertemu dan berdiskusi rutin di tempat yang berbeda-beda karena mereka bekerja dengan basis internet. Setelah digarap selama lima tahun (2010 sampai 2015), naskah edisi revisi selesai. Dibanding yang pertama, edisi kedua ini lebih gemuk. Dalam edisi kedua Tesamoko, dimuat 29.866 lema dan sublema, dan 4.106 di antaranya tambahan baru.

Beragamnya latar belakang pengeroyok sangat menguntungkan Eko. Di sana, terjadi pertemuan saling memperkaya sesuai dengan latar belakang masing-masing. Dari antara mereka, ada ahli teknologi informasi yang mengerti linguistik, Ivan Lanin. Menurut Eko, dialah yang merancang pembuatan aplikasi dalam jaringan (daring) yang dinamai Tesamoko, dan membuat gerombolan ini bisa bekerja lebih akurat berbasis internet.

Mengapa bernama gerombolan? “Kata gerombolan berasal dari Prof Dr Multamia Lauder, salah seorang tenaga ahli, selain Prof Dr Amin Sweeney, Prof Dr Bambang Kaswanti Purwo, dan Dr Felicia Utorodewo. Adapun nama Gerombolan Tesamoko diusulkan Stefanus Erman Bala, salah satu anggota gerombolan,” jelas Eko.

Kehadiran proses penyusunan tesaurus selain disemangati ingin memberi dukungan para pencipta kata-kata-jantungnya bahasa-juga bermanfaat sebagai upaya merekam sejarah. Kalau bahasa adalah kebudayaan dalam artian aktif ataupun sebagai peradaban, tesaurus termasuk juga kamus berjasa dalam merekam jejak sejarah pergulatan kebudayaan.

Kapan edisi ketiga terbit? “Akan muncul pada waktunya,” ujar Eko.

Bahasa Indonesia perlu dicemaskan, rusak oleh bahasa digital? “Saya termasuk orang yang tidak cemas. Masa depan bahasa Indonesia akan tetap, tidak rusak. Tetapi yang dicemaskan adalah pola pikir manusia, kita,” tegas Eko.

46c94071b36f45cf9d9fc2f7f86c14efKOMPAS/ALIF ICHWAN

EKO ENDARMOKO

Lahir:
Tarempa, Kepulauan Riau, 6 Oktober 1959

Istri:
Lutfi Hidayah (48)

Anak:
Saraswati Hiendarani (26), Andika Hiendarwanto (22), Nindita Hiendarasti (19)

Pendidikan:
SMA Vons Vitae, Jakarta
Jurusan Sastra Indonesia FIB UI, 1980-1986

Pekerjaan:
Kolumnis bahasa di sejumlah media massa

ST SULARTO
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Oktober 2016, di halaman 16 dengan judul “Dari Tesaurus ke Tesamoko”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: