Home / Berita / Kosakata Terus Ditambah

Kosakata Terus Ditambah

Utamakan Penggunaan Bahasa Indonesia
Penambahan kosakata bahasa Indonesia, baik dari penyerapan bahasa asing maupun bahasa daerah, terus dilakukan dalam upaya menjadikan bahasa persatuan ini tuan di negeri sendiri. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kelima sudah memuat sekitar 108.000 lema atau kosakata, atau jika dengan makna ada 127.000 lema.

Penambahan kosakata bahasa Indonesia menjadi keharusan. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dadang Suhendar, dalam pertemuan menyambut Bulan Bahasa dan Sastra 2017 pada Oktober di Jakarta, Kamis (5/10), mengatakan, bahasa merupakan jati diri suatu bangsa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi lima dibuat dalam tiga bentuk, yakni cetak, daring, dan luring (offline). Mulai tahun ini, pemutakhirannya tiap enam bulan sekali. Sejak dilucnurkan 28 Oktober tahun lalu, laman kbbi.kemdikbud.go.id sudah dipakai sekitar 7 juta orang.

“Sejauh mana lema baru digunakan masyarakat secara luas memang masih terus dipertanyakan. Namun, Badan Bahasa tidak boleh berhenti mengembangkan lema baru hanya karena di hulunya belum optimal. Upaya sosialisasi ke sejumlah lapisan masyarakat dan institusi, termasuk sekolah dan perguruan tinggi, terus dilakukan,” ujar Dadang.

Menurut dia, sebenarnya sudah banyak padanan dalam bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk sejumlah istilah asing yang lebih sering digunakan masyarakat. “Kita punya bahasa pemersatu, yakni bahasa Indonesia. Namun, bahasa daerah tetap juga diupayakan jangan sampai punah. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa sebagai wujud Bhinneka Tunggal Ika harus bangga digunakan dalam kehidupan,” kata Dadang.

Memaksa sejumlah pihak
Menurut Dadang, upaya untuk “memaksa” sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah, mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia tidak pernah berhenti dilakukan. Salah satu yang berhasil adalah menggunakan nama Jembatan Layang Simpang Susun Semanggi di DKI Jakarta yang awalnya akan diberi nama Semanggi Interchange.

“Penggunaan skytrain yang lagi hangat dibincangkan, kami coba tawarkan dengan padanan kalayang. Ini dikembangkan dari akronim kereta api layang. Sebisa mungkin kita menggunakan bahasa Indonesia,” kata Dadang.

Kepala Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Gufron Ali Ibrahim mengatakan, penyerapan bahasa daerah dan asing untuk menambah kosakata dalam KBBI dilakukan dengan usulan dari 30 kantor/balai bahasa hingga masukan dari masyarakat secara daring. Untuk bahasa daerah, terbanyak yang diserap adalah bahasa Melayu, Jawa, Minang, dan Sunda. Untuk bahasa asing, terbanyak diserap adalah bahasa Arab, Portugis, dan Belanda.

Data mentah usulan lema baru sekitar 23.000 kosakata, yang digunakan pekamus (ahli kamus) dengan sejumlah pertimbangan sebanyak 10-15 persen. Namun, ada juga yang dimasukkan ke kamus bidang ilmu. Saat ini kosakata di kamus bidang ilmu mencapai 400.000 lema.

Ketua Umum Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Liliana Musliastuti mengatakan, kosakata baru juga dikenalkan dalam pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. “Pengenalannya disesuaikan dengan jenjang yang saat ini ada tujuh jenjang.”

Bahasa daerah
Upaya melestarikan bahasa daerah dapat dilakukan melalui bercerita dan bertutur. Dengan demikian, generasi muda tidak mudah tergerus zaman. Bahasa Jawa, misalnya, kendati jumlah penuturnya di dunia diperkirakan 85 juta orang, ada kecenderungan generasi milenial dari Jawa meninggalkan bahasa ini.

Kepala Seksi Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Siky Handini Wedariwati mengatakan, seiring derasnya arus informasi, anak muda memiliki kecenderungan tertarik pada hal- hal modern. Untuk itu, kesadaran untuk melestarikan budaya perlu terus dipupuk.

“Salah satunya dengan bercerita menggunakan bahasa Jawa. Kisah yang disampaikan bisa cerita rakyat yang populer,” kata Siky di sela-sela Lomba Bercerita dalam Bahasa Jawa tingkat SMP/MTs se-Kota Semarang, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis. (ELN/DIT)

Sumber: Kompas, 6 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: