Home / Headline / Eko Agus Suyono: Mendulang Energi dari Laut

Eko Agus Suyono: Mendulang Energi dari Laut

Peghapusan subsidi dan pembatasan bahan bakar minyak sempat meruyak beberapa waktu belakangan ini di Indonesia. Di tengah kekhawatiran makin menipisnya bahan bakar minyak dari fosil, seorang dosen dari Indonesia melakukan riset, untuk mencari solusi. Diselimuti dinginnya salju negeri Swedia, Eko Agus Suyono meneliti produksi biofuel dari mikroalga.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada ini barangkali sedikit dari pakar Indonesia yang dengan tekun melakukan penelitian produksi bio-ethanol (untuk biofuel) dari mikroalgae. Di Chalmers University of Technology, Eko melakukan eksplorasi species mikroalga,terutama  spesies-spesies dari Indonesia, optimasi pertumbuhan dan kandungan, karakterisasi molekular, genetik, fisiologi dan biokimia serta produksi dalam skala laboratorium. Sambil menjajaki kemungkinan untuk scaling up sehingga siap untuk diproduksi massal.

Apa yang dilakukan pemegang master dalam bidang algae culture and biology dari James Cook University Australia tentu sejalan dengan program pemerintah. Kalau kita lihat hasil survei terhadap belanja penelitian dan pengembangan (litbang) pemerintah bidang prioritas tahun 2007, menunjukkan 36 persen ada di bidang energi baru dan terbarukan, posisi kedua setelah sektor ketahanan pangan (37%). Hal ini tentu mencerminkan bahwa penyelamatan dan penghematan energi menjadi sangat vital bagi bangsa ini di masa depan. Hal ini tercermin pula dalam turunnya belanja riset di bidang teknologi pertahanan tahun 2007 yang hanya berkisar pada angka 2 persen.

Keteguhan Eko dalam riset biofuel benar-benar tak tertandingi. Meski sebenarnya riset tentang biofuel di Indonesia sudah banyak dilakukan. Tetapi tentu saja alasannya adalah riset tentang biofuel dari mikroalgae belum terlalu banyak. Jangankan di Indonesia, di dunia pun produksi biofuel dari mikroalgae masih belum benar-benar kelihatan signifikan. ”Beberapa perusahaan seperti Algenol memang mengklaim sudah bisa membuat biofuel dari mikroalgae. Tetapi saya kira secara kuantitas belum sebanyak biofuel dari sumber lain, seperti tebu dan jagung di Brazil dan Amerika Serikat”, ujar Eko dalam jawaban pertanyaan lewat email.

Eko mengakui, tidak tahu, siapa yang pertama kali memulai riset soal biofuel dari mikroalga di Indonesia, karena database riset di Indonesia juga tidak bagus, dan banyak orang mengklaim sudah bisa, tetapi sebenarnya mereka hanya melakukan inisiasi, belum pada tahap optimasi, apalagi produksi. Selain itu riset di Indonesia masih setengah-setengah dan kebanyakan belum bersinergi. Kadang kala dana dikelola dengan tidak efektif dan tidak tepat sasaran dan dilakukan oleh pihak yang kurang kompeten. Banyak orang yang potensial tetapi sulit mendapatkan dana untuk mengembangkan risetnya, sehingga banyak yang tidak pulang ke Indonesia.

Namun soal nasionalisme ini, Eko tidak perlu dikhawatirkan. Karena dia lebih memprioritaskan eksplorasi spesies-spesies mikroalga dari Indonesia untuk risetnya. Komitmennya pun jelas, ia selalu menjajaki kemungkinan untuk scaling up sehingga siap untuk diproduksi massal. Hasil riset bukan hanya dionggokkan di sudut laboratorium. Kecil kemungkinannnya tidak pulang ke Indonesia.

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya kandungan oksigen yang tinggi (35 persen) sehingga jika dibakar sangat bersih, serta ramah lingkungan karena emisi gas karbon monoksida lebih rendah 19-25 persen dibanding BBM sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer. Inilah salah satu prospek mengapa pengembangan bioetanol penting bagi pemenuhan kebutuhan bahan bakar di masa mendatang.

Komponen biofuel yang paling efisien saat ini adalah bioetanol. Biofuel sendiri adalah energi berwujud cair yang berasal dari biomassa, yang bukan saja bisa diciptakan dari tanaman, tetapi juga limbah dari tanaman. Namun di pihak lain, bagi Eko, riset produksi biofuel dari mikroalga patut memancing keseriusannya. Karena lepas dari alasan di atas, biofuel dari mikroalga mampu berproduksi sepanjang tahun, sehingga produktivitasnya melebihi hasil dari tanaman terestrial (sawit dan jarak). Mikroalga mampu tumbuh dalam media air, tetapi membutuhkan air kurang dari tanaman terestrial, sehingga mengurangi beban pada sumber air tawar. Mikroalga dapat dibudidayakan di air non-pertanian, sehingga tidak mungkin menimbulkan perubahan penggunaan lahan, meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan. Pembudidayaan mikroalga tidak mengorbankan produksi makanan, pakan ternak dan produk lain yang berasal dari tanaman. Biofuel dari mikroalga memiliki potensi kandungan minyak di kisaran berat kering 20-50% dari biomassa, sementara tingkat pertumbuhan eksponensial dapat melipatgandakan biomassa di periode yang singkat (dalam hitungan hari, bahkan jam).

Kemudian dari aspek penyehatan lingkungan, produksi biomassa-nya dapat sebagai biofixation limbah CO2 (1 kg biomassa alga kering menyerap sekitar 1,83 kg CO2). Bahkan nutrisi untuk budidaya mikroalga(terutama nitrogen dan fosfor) dapat diperoleh dari air limbah, karena itu, selain menyediakan medium pertumbuhan,ada potensi ganda untuk pengobatan limbah organik dari agri-industri makanan, serta budidaya mikroalga tidak memerlukan herbisida atau aplikasi pestisida; mereka juga dapat menghasilkan co-product berharga yang dapat digunakan seperti food supplement, obat-obatan, pewarna alami, bio-plastic dan biohidrogen.

Beberapa tahun lalu sempat muncul gerakan penanaman berbagai jenis tanaman jarak antara lain jarak kepyar (Ricinus communis), jarak bali (Jatropha podagrica ), jarak ulung (Jatropha gossypifolia L.) dan jarak pagar (Jatropha curcas) untuk produksi biofuel. Bahkan risetnya pun juga sempat mengemuka. Namun, menurut Eko, mengutip pendapat Prof. Jusuf Chisti dari Massey University, New Zealand, biofuel dari mikrolagae mempunyai potensi lebih besar dari tebu, jagung, jarak dan sawit, karena produkstifitasnya jauh lebih besar dengan membutuhkan luas area yang lebih kecil.

Namun demikian, Eko masih berpendapat bahwa lebih baik melakukan sinergi di antara sumber-sumber biofuel yang ada. Karena dari segi kuantitas, produksi biofuel masih jauh dari fossil fuel, sehingga diperlukan kombinasi dari sumber hayati yang ada. Ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Saat ini, biasanya orang mencampur langsung bioetanol dengan premium atau dengan butanol tanpa mengubah struktur mesin yang sudah ada, dan langsung bisa dipakai sebagai bahan bakar kendaraan. Dalam sejarahnya pun, bioetanol sebenarnya sudah lebih dahulu dipakai sebagai bahan bakar dalam mesin sebelum manusia menemukan bahan bakar fosil. Sayangnya, karena biaya produksi dan kapasitas produksi yang selalu kalah dengan bahan bakar fosil, maka popularitasnya kalah dengan bahan bakar fosil. “Ini sebuah tantangan bagi kita, bagaimana mengefisiensikan biaya produksi dengan menggunakan bio-refinery strategy dan mengkombinasikannya dengan menderivasikan produk-produk lain yang bernilai ekonomi tinggi, seperti bahan farmasi dan produk kimia lain”, kata Eko optimis.

Selain itu Eko juga masih sangat berharap besar pada potensi hayati Indonesia. Oleh karenanya dia masih sangat punya proyeksi bahwa riset yang dilakukannya saat ini sangat mungkin diterapkan di Indonesia, dengan luas perairan Indonesia sekitar 70 persen dan negara kepulauan yang berpantai terpanjang keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Kanada dan Rusia dengan panjang garis pantai mencapai 95.181 km. Kemudian Indonesia adalah negara mega biodiversiti. Dengan perkiraan dari sekitar 350.000 spesies algae yang sudah diketahui, baru sekitar 20 spesies yang dilaporkan di jurnal-jurnal yang punya potensi sebagai biofuel. Eko juga punya asumsi, masih banyak mikroalga yang lain yang belum diidentifikasi di perairan Indonesia dan yang punya potensi sebagai biofuel. Kemampuan para peneliti Indonesia, terutama yang pernah belajar di negara-negara maju akan semakin banyak.

Nah berikutnya adalah soal insentif kebijakan dari pemerintah dan komitmen pendanaan dari pemerintah serta industri Indonesia yang mesti dimunculkan. Masalah yang lain adalah masih sedikitnya industri di Indonesia yang punya komitmen research and development (R&D) atau litbang atas produk-produknya, karena kebanyakan dari mereka adalah cabang dari industri luar negeri dimana litbang nya ada di negara asalnya. Kalaupun mereka punya ltbang, masih jarang yang mau membiayai riset sejak dari awal, mereka kebanyakan minta matangnya saja, sehingga sulit untuk bersaing dengan industri-industri dari negara-negara maju. “Contohnya industri-industri di Swedia ini bahkan ada yang mau dan sangat berminat untuk membiayai riset-riset kreatif, walaupun terkadang hanya merupakan gagasan awal”, Eko mencontohkan.

Penelitian doktoralnya di Chalmers University of Technology, Eko dibimbing oleh pakar bioteknologi Eva Anna Maria Albers dan mendapat beasiswa dari Erasmus Mundus EuroAsia exchange Program. Namun demikian program doktor nya ditempuhnya di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada secara bersamaan.

Sekali lagi di tengah silang sengkarutnya permasalahan energi nasional, tentu riset yang dilakukan Eko Agus Suyono ini, menjadi setitik harapan bangsa ini di masa depan. Masa depan adalah milik generasi muda bangsa. Eko Agus Suyono yang sudah malang melintang dalam riset bioenergi sangat terbuka untuk berbagi pengalaman dan berkolaborasi dengan para anak muda Indonesia yang punya idealisme untuk membangun bangsa ini. Bahkan dia berpendapat, kalau ingin membangun bangsa mulailah dari diri kita sendiri. Bagi komunitas ilmuwan, mari kita buat riset yang baik, karena tidak ada bangsa yang hebat yang tidak didukung riset yang baik.Bukan hanya hebat dalam omongan dan wacana saja. Menurutnya sumber daya alam dan sumber daya manusia yang unggul bila tidak dikelola dengan baik, maka hasilnya tentu tidak baik. Biofuel adalah energi masa depan. Karena mau tidak mau fossil fuel pasti akan habis, sehingga hanya bangsa yang mampu berswasembada energi dengan mengembangkan renewable energy akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Itulah filosofi Eko Agus Suyono.

—————

Biodata:

Eko Agus Suyono

Pendidikan

  • Sarjana Sains Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (1996)

  • Master dalam bidang algae culture and biology di School of Tropical Biology, James Cook Unversity, Australia (2004)
  • Doktor dalam produksi bio-ethanol dari mikroalgae di Chalmers University of Technology, Swedia dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (belum selesai)

 Pekerjaan

Staf pengajar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada.

Naskah : mata bening
Foto : dokumentasi pribadi Eko Agus Suyono

—————————————

Sebagai seorang peneliti, pasti Anda memerlukan alat-alat laboratorium. Apabila Anda adalah mikrobiolog,  Anda pasti mencari mikroskop digital? Maka DINO-LITE Mikroskop Digital Premier pasti pilihan terbaik Anda:
DINO-LITE Mikroskop Digital Premier [AM7013MZT]

DINO-LITEMikroskop Digital Premier [AM7013MZT] Digital Microscope 10x~50x optical, 200x digital, 2592 x 1944 pixels, USB (8-LED) with micro touch and measurement function
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: