Home / sosok peneliti / ”Eeng Badak” Mau Diadu Domba

”Eeng Badak” Mau Diadu Domba

BANYAK orang bernama panggilan Eeng. Tetapi, kalau Eeng Badak mungkin cuma Haerudin Rukayah Sadjudin (44) saja yang punya. Nama sarjana biologi ini dikaitkan dengan badak, bukan karena tubuhnya bongsor atau bermuka tebal seperti badak. Sama sekali tidak. Eeng tingginya pas-pasan 160 cm, beratnya pun 40 kg lebih sedikit. Dirinya dijuluki Eeng Badak, karena dia ini salah satu dari sedikit pakar dan peneliti badak andalan di Indonesia.

Sejak tahun 1976, semasa dirinya masih mahasiswa pemula biologi Universitas Nasional di Jakarta, Eeng mulai masuk ke dunia studi badak. Dari tahun ke tahun Eeng terus menguntit jejak kehidupan perilaku badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dari Taman Nasional (TN) Ujungkulon di Jabar, kemudian studi badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di hutan rawa TN Way Kambas di Lampung, sampai ke hutan lebat TN Gunung Leuser dan hutan lindung lainnya di Sumatera, sampai ke Sabah dan hutan di Semenanjung Malaysia.

Malah badak India (Rhinoceros unicornis) pun ”dikejar” hingga ke TN Royal Chitwan di Nepal hutan Jaldapara dan Guamara di Bengala Barat, India. Bahkan juga menjenguk badak Afrika di Kenya. ”Paling lama meneliti badak di Ujungkulon. Kemarin baru pulang dari sana, setelah dua malam mampir dulu di
proyek penangkaran badak di Way Kambas,” kata Eeng yang cepat berenangnya, tetapi lambat kalau menyetir jip.

TAWA keras dan senyum lebar manghiasi kilas balik saat ia ceritakan soal menginjak punggung buaya yang disangkanya balok kayu di rawa Pulau Panaitan. Suami Dra Ermayanti ini pun geli kalau ditanyakan lagi soal babi hutan tersesat masuk ke bivaknya, atau lehernya tersangkut ular berbisa. Atau bagaimana rasanya mencolek macan tutul lagi tidur di Citadaan Ujungkulon. ”Iya yah, macan itu bangun dan mau menerkam, tetapi langsung kabur lagi. Kita semuanya yang ngibrit,” kata Eeng, yang juga sempat kepergok harimau besar di Gunung Leuser.

”Kami semua sudah lemas karena jaraknya begitu dekat. Saya terjongkok duduk, tak berani menatap langsung mata harimau itu. Untung dia jalan terus, kagak suka sama manusia kurus kali,” kisahnya.

Sejak 1978 keluar masuk hutan meneliti badak Jawa, Eeng mencatat baru 32 kali terjadi perjumpaan dengan badak soliter bercula satu itu, termasuk berkali-kali dikejar badak kalap. Semua peristiwa perjumpaannya dengan badak Jawa –yang tinggal 5O ekor di dunia— dicatatnya secara detail.

”Termasuk peristiwa langka, waktu Dieter Plage membuat film badak betina dengan anaknya di Ujungkulon, akhir tahun 1970, ” katanya sambil mengenang juga saat ia blingsatan dikejar badak, lalu memanjat pohon pinang kecil. Celakanya, badak galak itu pun bersandar hingga batang pinang itu melengkung. Untung tak lama, badak berlalu.

Susah senangnya studi sambil bertualang menjadi bahan pembicaraan hangat. Apalagi saat Eeng menyebut beberapa jagawana dari Cagar Alam Tangkoko Dua Saudara dekat Bitung di Sulut, penyelamat nyawanya yang hampir tewas gara-gara makan jamur racun. Atau tersenyum lebar mengingat perjumpaannya dengan lelaki kotor berambut gimbal, setengah telanjang, dan menyodorkan tangannya minta makanan. ”Orang gila itu kemudian kita amankan, lalu angkut dia ke Desa Tamanjaya,” kenangnya.

PRESTASI mantan Ketua BScC (Biological Science Club) itu tentu bukan soal petualangannya di alam bebas. Sebagai biolog lapangan, Eeng di mata rekan seprofesinya dianggap memiliki kepiawaian yang diandalkan untuk studi populasi, jalur dan peta sebaran badak soliter di hutan, daya dukung habitat, kelimpahan dan ketersediaan makanan, persaingan dengan mamalia besar, ancaman kehidupan- perburuan liar dan lainnya.

Sebagai orang lapangan dan ”Eeng Badak”, ayah tiga anak dan mantan dosen Biologi Unas (1986-1994) itu gemar menulis laporan ilmiah dan kertas kerja, serta artikel untuk koran, majalah, buletin dan lainnya. Dari hampir 30 tulisannya, semuanya membicarakan soal badak. Dia juga selalu tampil dalam forum konservasi internasional di luar negeri, sebagai orang Indonesia peneliti badak Jawa dan Sumatera.

Eeng yang sudah 20-an tahun galanggulung di dunia itu, memiliki kelas tersendiri. Sebagai orang lapangan yang bukan ”pelat merah”, Eeng memiliki kebebasan tersendiri untuk angkat bicara dan buka pendapat. Juga pergaulannya dengan beberapa peneliti spesialis badak—termasuk pelopor peneliti badak Jawa, Prof Dr Rudolf Schenkel dari Swiss— bikin Eeng tambah terjerumus ke lapangan studi yang bertetangga dengan satwa buas di hutan.

“Tahun 1984 ada program penyelamatan badak sumatera di luar habitatnya untuk ditangkarkan di Inggris, Amerika, Malaysia, dan Indonesia. Saya menganggap proyek itu tak masuk akal. Kalau mau breeding, kenapa tidak di habitat aslinya saja? Saya pun berbeda pendapat dengan pakar-pakar asing. Saya membuat tulisan protes, tetapi tidak ada tanggapan,” katanya.

PENELITI badak ini patah hati. ”Tahun 1987 saya bersama bayi sulung, hidup menemani istri yang meneliti tarsius di Tangkoko,” kata lelaki kelahiran Ciamis di Jawa Barat. Dia kemudian bergabung dengan Yayasan Mitra Rhino (YMR). ”Akhir tahun 1993 ada lokakarya, mengevaluasi kegagalan program penangkaran di kebun binatang luar negeri dan Indonesia. Sekitar 60 persen dari belasan badak Sumatera itu mati sebelum beranak. Maka dirancanglah seperti angan-angan saya, membuat program penangkaran di habitat aslinya,” kata Eeng bersemangat.

Akhirnya terpilih TN Way Kambas sebagai lokasinya. Namun wakil Internattional Rhino Foundation (IRF) maunya program ini ditangani sendiri, alasannya karena Indonesia tidak punya apa-apa, termasuk duit. ”Saya menentang keras pernyataan pakar asing, meski dia yang banyak mengajarkan saya soal badak Sumatera di lapanaan Saya anggap sejelek-jeleknya kita, Indonesia masih punya aset sumber daya manusia, termasuk orang lapangan,” tuturnya.

Eeng yang berani bicara terbuka, lama-lama dianggap berbahaya oleh konsultan dan mitra asing itu. Sebab menurut sumber di kalangan itu, peneliti asing itu seenaknya menunjuk seorang konco-nya yang sarjana muda akuntan, sebagai konsultan teknis penyelamatan badak.

”Bos itu diam-diam mengedarkan surat, supaya semua dana konservasi badak Sumatera harus melalui IRF. Dia juga marah sama saya, karena saya sebagai wakil Indonesia tak mau menandatangani surat permintaan dana,” tuturnya. ”Inti ketidaksukaan itu, soal uang!”

Sebagai tenaga spesialis, Eeng pun membantu program penyelamatan badak Jawa sebagai konsultan teknis paruh waktu. ”Saya dianggap tidak loyal. Konsultan itu mengadu domba dan mengusulkan saya dipecat dari YMR. Untung pengurus YMR Indonesia sudah mengenal saya sejak zaman mahasiswa. Konsultan asing itu juga tak suka, karena saya berani bicara terbuka dan paham soal penelitian lapangan, makanya mau digeser,” katanya. ”Mudah-mudahan kita kompak, tidak mau diadu domba lagi.”

Meski belum tahu akan tergeser atau tidak, Eeng yang lebih dari separuh hidupnya berada di hutan badak, layak diperhatikan.”Badaknya dilindungi, apa manusianya tidak ” kata rekannya. (R Badil)

Sumber: KOMPAS, SENIN, 10 MEI 1999

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Retno Wahyuningsih dan Mimpi Besar Peneliti Penyakit Jamur

Riset yang dilakukan Retno bersama ahli lainnya akan mengubah manajemen penanganan TBC dalam jangka panjang, ...

%d blogger menyukai ini: