Home / sosok peneliti / Dwi Listyo Rahayu Meneliti Ragam Kelomang dan Kepiting

Dwi Listyo Rahayu Meneliti Ragam Kelomang dan Kepiting

Dwi Listyo Rahayu selama bertahun-tahun meneliti kelomang dan kepiting.

DOKUMENTASI PRIBADI—-Dwi Listyo selama bertahun-tahun meneliti kelomang dan kepiting.

Selama puluhan tahun, Dwi Listyo Rahayu (64) setia meneliti biota laut. Saat ini, dia memilih mengambil peran meneliti keragaman jenis kelomang dan kepiting. Kelomang (Paguroidea) yang berfungsi menjaga keseimbangan laut dan kepiting (Brachyura) yang membuat lubang-lubang di dasar perairan untuk membantu aerasi (menambah oksigen).

Setengah abad lebih setelah Ekspedisi Snellius I, pemerintah Indonesia dan Belanda bekerja sama meneliti kembali perairan timur Nusantara. Indonesia diwakili Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Belanda melalui Netherlands Council for Oceanic Research yang berada di bawah Netherlands Organization for the Advancement of Science. Kedua negara sepakat melanjutkan penamaan sebelumnya, yakni Snellius II.

Ekspedisi itu terdiri lima tema penelitian, yakni geologi dan geofisika, ventilasi lubuk laut dalam, sistem pelagis, terumbu karang, dan dampak sungai terhadap lingkungan laut. Ekspedisi Snellius II dimulai Juni 1984. Dwi Listyo Rahayu atau akrab disapa Yoyo yang baru dua tahun bekerja sebagai peneliti Stasiun Penelitian Ambon LIPI ikut dalam rombongan itu.

Pengalaman ikut Ekspedisi Snellius II membuat Dwi berkenalan dengan peneliti-peneliti taksonomi senior. Mereka tampak girang ketika menemukan biota laut tak dikenal, lalu berhasil mendeskripsikannya. Dari sanalah, dia mengakui mulai jatuh cinta dengan taksonomi, khususnya taksonomi morfologi.

Usai ekspedisi, dia meraih beasiswa Overseas Fellowship Program (OFP) angkatan pertama yang digagas BJ Habibie. Dengan beasiswa itu, dia kuliah magister Biology Oceanography di Université de Paris 6, Pierre et Marie Curie, di Paris, Perancis.

Awalnya, dia berpikir mau bekerja meneliti udang. Alasannya sederhana yaitu udang bisa dimakan. Lalu, Dwi mencari profesor taksonomi yang meneliti udang, tetapi materi penelitian ada di Kaledonia Baru, Perancis. Untuk itulah, dia memutuskan mencari materi penelitian yang lebih dekat, yakni di Paris, Perancis. Saat itulah, dia ditawari mengerjakan kelomang.

“Reaksi pertama saya ‘apa ini tak bisa dimakan.’ Masih dengan perasaan penasaran itu, saya mencari banyak literatur untuk pendukung riset. Saya kaget karena publikasi mengenai kelomang di Indonesia terakhir kali pada 1937 dan tidak ada lagi setelah itu,” ujar Dwi saat dihubungi Sabtu (24/4/2021) dari Jakarta.

KOMPAS/LASTI KURNIA—Kelomang darat atau pong pongan, sejenis keong yang hidup dengan rumah cangkang diwarnai cangkangnya dan dijual untuk menjadi binatang peliharaan, Rawa Belong, Selasa (2/6/2015). Habitat keong yang aslinya hidup di pinggir pantai ini digantikan dengan rumah rumahan plastik yang dijual antara Rp 500 hingga Rp 15.000,-.

Sejak itu, dia menekuni keragaman kelomang sampai kemudian melanjutkan doktoral di universitas yang sama. Dwi merasa beruntung dengan aturan beasiswa OFP yang mengharuskan S2 lanjut ke S3. Jaringan kerja dengan peneliti taksonomi morfologi dari berbagai negara, seperti kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, membukakan jalan baginya untuk semakin menekuni kelomang.

Jejaring itu juga kelak membuatnya menjadi peneliti tamu berbagai Museum Natural History, antara lain di Singapura (Lee Kong Chian Natural History Museum-NUS); Jepang (National Science Museum, Tokyo; Natural History Museum and Institute, Chiba); Perancis (Museum national d’Histoire naturelle, Paris); Amerika Serikat (National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington DC).

Setelah Snellius II, Dwi terlibat dalam ekspedisi biodiversitas berskala internasional, seperti Karubar, Sjades, Comprehensive Marine Biodiversity Survey (CMBS), Panglao, dan Kumejima. Selain dari perairan laut Indonesia, dia meneliti taksonomi kelomang dan kepiting dari berbagai perairan di Indo-Pacific.

Mencintai laut
Hidup berdampingan dengan laut memang telah menjadi kesehariannya sejak kecil. Dia yang berasal dari Banyuwangi akrab bermain di pantai setiap akhir pekan, diajak oleh ayahnya. Setelah lulus sekolah menengah atas, dia mantap mengambil jurusan perikanan di IPB University. Tugas akhirnya pun berhubungan dengan penelitian ke laut.

Usai studi pascasarjana, Dwi kembali bekerja di Ambon. Ketika Ambon mengalami kerusuhan tahun 1999, semua peneliti LIPI Ambon, termasuk Dwi harus mengungsi. Sempat seminggu di pengungsian, dia dan peneliti lain terpaksa harus keluar dari Ambon karena suasana semakin tak terkendali.

Dalam ingatan Dwi hanya terpikir menyelamatkan spesimen-spesimen kelomang hasil Ekspedisi Siboga (1899-1900), koleksi dari sejumlah museum di Eropa, dan belum selesai dia teliti. Dia kembali ke kantor LIPI Ambon mengambil semua spesimen, memasukkan ke dalam ransel, dan naik kapal keluar dari Ambon ke Jakarta.

Spesimen tersebut berhasil dipublikasikan tahun 2005. “Ada sekitar 20-25 botol spesimen. Saya hanya bawa baju dan keperluan sedikit. Semua literatur tertinggal,” kata dia.

Kesempatan untuk mengekplorasi laut kembali menghampiri Dwi saat ke Jakarta. Saat itu, sang suami mendapat kesempatan menjadi konsultan di Papua, Dwi mendapat tawaran mengeksplorasi dan meneliti kepiting di mangrove Papua.

“Keluar dari Ambon tanpa bawa literatur. Saya tetap ambil kesempatan meneliti kepiting. Saya ke Singapura, semua literatur saya fotokopi guna mendukung penelitian kepiting itu,” kenang Dwi.

Pada penelitian mangrove di Papua, beberapa hasil yang sudah dideskripsikan dan dipublikasikan, yakni Elamenopsis gracilipes, Amarinus pristes, Clistocoeloma amamaparense, Paracleistostoma quadratum, Clibanarius harisi.

Sejak 1988 sampai sekarang, sebanyak 2 genus dan 71 spesies baru kelomang serta 6 genus dan 76 spesies baru kepiting telah ditemukan, dideskripsi, dan dipublikasikan ke dalam 88 artikel ilmiah baik di jurnal nasional dan internasional. Hasil tersebut dia tulis secara mandiri atau bersama peneliti lain.

Ada rasa takjub sekaligus bersyukur kepada Sang Pencipta setiap kali Dwi berhasil mengungkap spesies baru. Apalagi, di perairan Indonesia. Dia yakin Indonesia merupakan negara maha-biodiversitas. Untuk kelomang, khususnya, dia memperkirakan Indonesia punya 200-300 spesies.

Beberapa contoh spesies baru kelomang di Indonesia yang berhasil dia deskripsikan secara mandiri ataupun bersama peneliti lainnya, yaitu Clibanarius rubroviria, Calcinus morgani, dan Pagurusfungiformis.

KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN—Proses pelepasliaran kepiting oleh petugas Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Ambon di pesisir Teluk Ambon, Maluku, pada Jumat (15/2/2019). Kepiting berukuran kecil itu diperjualbelikan oleh pedagang.

Hanya saja, kekayaan biota laut sebanyak itu belum banyak diteliti oleh peneliti Indonesia. Sementara peneliti luar negeri justru menunjukkan minat tinggi, bahkan rela mengeluarkan biaya mandiri datang dan meneliti di Indonesia. Isu klasik yang dia yakini juga digelisahkan peneliti lainnya.

Kegelisahan lainnya yang kini dirasakan oleh Dwi adalah berkurangnya generasi muda mau meneliti taksonomi morfologi seperti dirinya lakukan. Kebanyakan anak muda suka mengerjakan taksonomi genetik. Padahal, tanpa menguasai taksonomi morfologi, penelitian taksonomi genetik akan kesusahan.

Dia kadang menduga barangkali suasana itulah yang membuat generasi muda tidak tertarik dengan taksonomi morfologi karena dunianya para peneliti sepuh. Dwi memang harus mengakui bahwa sejumlah teman ataupun kolega peneliti dia di luar negeri mulai pensiun. Ada pula di antaranya meninggal dunia. Kadang, dia merasa penelitian mengenai taksonomi morfologi tidak lagi menarik.

“Apa yang saya kerjakan sekarang adalah sains dasar. Taksonomi adalah dasarnya ilmu biologi. Kalau taksonominya tidak ketahuan, sainstis juga tidak bisa berbicara dan itu berdampak ke hal lainnya, seperti budidaya dan pelestarian ekologi,” tutur dia.

Dwi tidak pernah menyesali perjalanan hidupnya yang akhirnya berkecimpung dengan kelomang dan kepiting. Padahal, mulanya dia ingin menekuni taksonomi Crustacea yang langsung cepat komersial, seperti udang.

“Saya punya pasangan peneliti yang mengerjakan budidaya biota laut yang bisa dimakan. Klop kan?” ujarnya sambil tertawa.

Kemudian, Dwi kembali menerangkan serius. Kelomang merupakan pemakan segala di laut sehingga berfungsi menjaga keseimbangan ekologi. Sementara kepiting membuat lubang-lubang di dasar laut dan perairan mangrove sehingga membantu aerasi.

“Ternyata, penelitian bermanfaat itu tidak melulu harus komersial kan?” kata dia.

Masih banyak aktivitas penelitian keragaman jenis kelomang dan kepiting yang ingin dia kerjakan, baik melalui ekspedisi maupun menyelesaikan spesimen yang sudah tersedia. Dia juga sedang “membibit” salah seorang mahasiswanya agar bisa meneruskan penelitian taksonomi morfologi.

Di waktu luangnya, Dwi memilih membaca novel berkisah detektif berbahasa Inggris. Novel tersebut dibeli di bandara-bandara asing setiap kali dia jadi peneliti tamu. Menurutnya, selain menghibur, dia bisa melatih kemampuan berbahasa inggris yang bermanfaat untuk penulisan di jurnal ilmiah.

Ketika senja tiba dan dia masih di kantornya, Balai Bioindustri Laut LIPI Lombok, dia memilih menikmati suasana laut. “Sangat bisa sekali melihat padang lamun,” kata dia menutup pembicaraan.

Dwi Listyo Rahayu
Lahir: Mojokerto, 31 juli 1957
Pendidikan:

  • S1 Perikanan, IPB University
  • S2 (1988) dan S3 (1992) Biology Oceanography, Université de Paris 6, Pierre et Marie Curie, Paris, Perancis.
    Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama, Profesor Riset di Balai Bioindustri Laut-LIPI di Lombok, NTB (2005-sekarang)
    Penghargaan: Satyalancana Karya Satya 10, 20 dan 30 tahun, dan Satyalancana Wira Karya Oleh MEDIANA

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 5 Mei 2021

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
Share
%d blogger menyukai ini: