Home / Berita / Dunia Soroti Indonesia karena Ada yang Makan Daging Anjing

Dunia Soroti Indonesia karena Ada yang Makan Daging Anjing

Para pencinta anjing global tanggal 26 Agustus 2020 secara informal memperingati Hari Anjing Internasional. Peringatan ini awalnya berasal dari Amerika Serikat.

Para pencinta anjing global tanggal 26 Agustus 2020 secara informal memperingati Hari Anjing Internasional. Peringatan untuk memuliakan anjing sejagat itu mendapat tantangan berat di Indonesia karena sebagian orang masih menganggapnya sebagai makanan.

Media massa asing banyak menyoroti perdagangan anjing untuk makanan di Indonesia. Bahkan, beberapa situs web dibuat khusus untuk kampanye mengatasi perdagangan daging anjing Indonesia, di antaranya https://www.dogmeatfreeindonesia.org/ atau https://www.changeforanimals.org/ending-the-dog-meat-trade-indonesia.

Kabar terbaru, misalnya, dimuat media massa Malaysia berbahasa Inggris, The New Strait Times. Mengutip berita kantor berita Perancis, Agence France-Presse (AFP), The New Strait Times versi daring edisi 11 Juli 2020 menulis dengan judul ”Anjing Diselamatkan dari Perdagangan Daging Anjing Indonesia”.

Berita tersebut memuat kisah dokter Indonesia, Susana Somali, dan anggota staf Pejaten Animal Shelter di Jakarta menyelamatkan anjing dari tempat penjagalan setelah dijual atau ditinggalkan selama pandemi Covid-19. Ibu dua anak berusia 55 tahun ini sering bernegosiasi dengan tukang jagal yang tidak ramah, terkadang membayar mereka dengan uang tunai, atau memasok daging lain untuk mengamankan pelepasan hewan.

Sosok Susana Somali juga dimuat di harian Kompas edisi 8 Agustus 2020 dengan judul ”Merawat Anjing Telantar”.

Berita lain dimuat dalam media daring berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, https://www.aljazeera.com/ edisi 9 Desember 2019 dengan judul ”Cita Rasa Anjing: Perdagangan Indonesia Tetap Ada meskipun Ada Tindakan Keras”.

Al Jazeera mengutip Lola Webber, juru bicara koalisi Indonesia Bebas Daging Anjing, yang mengatakan, ”Semua orang berbicara tentang perdagangan daging anjing di China dan Vietnam, tidak ada yang membicarakan tentang Indonesia. Dengan perkiraan yang sangat konservatif, kami memperkirakan sekitar satu juta anjing dimakan setiap tahun di Indonesia.”

Berita lebih baru dimuat dalam media massa Amerika Serikat (AS), Los Angeles Times, versi daring edisi 24 Mei 2020 dengan judul ”Mengapa Perdagangan Daging Anjing Tetap Ada di Indonesia meski Konsumsinya Ilegal”.

LA Times menulis, ”Daging anjing tidak diakui sebagai makanan menurut hukum Indonesia, yang membuatnya ilegal untuk dijual di pasar. Pekerja di perdagangan juga melanggar hukum ketika mereka secara teratur mengangkut anjing antarprovinsi di mana rabies endemik. Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya delapan yang dianggap bebas rabies.”

Dalam surat edaran dijelaskan bahwa daging anjing tidak termasuk dalam definisi pangan. Oleh karena itu, tidak diterbitkan sertifikat veteriner atau surat keterangan kesehatan produk hewan khusus daging anjing apabila diketahui untuk konsumsi.

Hukum yang dimaksud oleh LA Times adalah Surat Edaran Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nomor 9874/SE/pk.420/F/09/2018 tentang Peningkatan Pengawasan terhadap Peredaran/Perdagangan Daging Anjing. Surat edaran ditandatangani Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, 25 September 2018.

Surat edaran ditujukan kepada kepala dinas peternakan dan kesehatan hewan di provinsi, kabupaten, dan kota; kepala balai besar veteriner; kepala balai veteriner; serta kepala balai pengujian mutu dan sertifikasi produk hewan.

Dalam surat edaran disebutkan, latar belakang penerbitannya karena belum ada aturan jelas yang mengatur perdagangan daging anjing. Pertimbangan pengaturan itu adalah aspek kesejahteraan hewan dan potensi penyebaran penyakit rabies atau anjing gila.

Dalam surat edaran dijelaskan bahwa daging anjing tidak termasuk dalam definisi pangan. Oleh karena itu, tidak diterbitkan sertifikat veteriner atau surat keterangan kesehatan produk hewan khusus daging anjing apabila diketahui untuk konsumsi.

Karena aturan hukum itu hanya berupa surat edaran, tidak ada sanksi bagi pelaku perdagangan daging anjing. Dinas peternakan dan kesehatan hewan hanya memantau secara aktif dan berkoordinasi dengan polisi, satuan polisi pamong praja, dan petugas karantina setempat.

Selain proses penyembelihan anjing yang sadis sehingga jauh dari prinsip kesejahteraan hewan, penyakit anjing gila yang menular melalui daging anjing juga bukan isapan jempol. Beberapa penelitian telah membuktikan penularannya.

Penelitian, antara lain, dilakukan Heiman Wertheim dan rekan-rekannya dari Institut Nasional Penyakit Menular dan Tropis serta Institut Nasional Kebersihan dan Epidemiologi di Hanoi, Vietnam. Penelitian mereka dimuat dalam jurnal PLOS Medicine edisi 19 Maret 2009 dengan judul ”Anjing Gila yang Mengganas Setelah Paparan Tak Biasa”.

Dalam jurnal yang dapat diakses terbuka itu, mereka meneliti pasien manusia yang diduga tertular penyakit anjing gila. Pasien itu dua bulan sebelum masuk rumah sakit telah menyembelih dan memakan seekor anjing yang terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas jalan raya. Peneliti memperkirakan, penularan virus rabies terjadi ketika proses penyembelihan anjing.

”Kami perlu memperingatkan masyarakat umum dan dokter tentang risiko seputar pemotongan dan penanganan daging. Orang tidak boleh menangani hewan yang mungkin tertular rabies. Sekali terjadi orang menunjukkan gejala, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal,” kata Wertheim, seperti dikutip Science Daily, 16 Maret 2009.

Oleh karena itu, dalam momen peringatan Hari Anjing Internasional ini perlu direnungkan ketika anjing dirayakan setiap tanggal 26 Agustus. Hari Anjing Internasional ini sebenarnya masih informal. Hari Anjing Internasional mulai diberitakan tahun lalu. Media massa Inggris, The Sun, versi daring mulai memberitakannya pada 26 Agustus 2019 dengan judul ”Hari Anjing Internasional adalah Hari Ini, Bagaimana Kita Bisa Merayakannya?”.

Ide membuat Hari Anjing ini berasal dari ahli gaya hidup hewan asal AS, Colleen Paige. Pada 26 Agustus 2004, keluarga Colleen Paige mengadopsi anjing pertamanya bernama Sheltie ketika Colleen Paige baru berusia 10 tahun. Di AS, Hari Anjing 26 Agustus diadopsi ke dalam legislasi Negara Bagian New York pada 2013 menjadi Hari Anjing Nasional AS.

Ini tentang maksud Hari Anjing diperingati, seperti ditulis dalam situsnya, https://www.nationaldogday.com/. ”Misi kami adalah membantu menggembleng publik untuk mengenali sejumlah anjing yang perlu diselamatkan setiap tahun dan mengakui anjing dan anjing keluarga yang bekerja tanpa pamrih setiap hari untuk menyelamatkan nyawa, menjaga kami tetap aman dan membawa kenyamanan”.

Tegakah Anda memakannya?

Oleh SUBUR TJAHJONO

Editor: SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 26 Agustus 2020

Share
%d blogger menyukai ini: