Home / Berita / Dosen Teladan Ditangkap KPK, Dahnil: Kami Para Dosen Malu

Dosen Teladan Ditangkap KPK, Dahnil: Kami Para Dosen Malu

Tertangkap tangannya Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengundang keprihatinan Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia (MPP ADI).
”Penangkapan itu melengkapi stigma buruk tidak ada latarbelakang profesi yang bebas korupsi. Apalagi, ditangkapnya Rudi dibarengi dengan pemberitaan profile beliau sebagai Dosen teladan di ITB, Jelas kasus ini semakin memukul malu kami para dosen di seluruh Indonesia,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak, sekretaris MPP ADI kepada ROL, Rabu (14/8).

Dosen FE Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten itu mrnrgaskan, seharusnya para dosen bisa menjadi benteng moral ketika di kampus mendidik anak negeri, dan menjaga amanah dan jujur ketika memperoleh amanah sebagai pejabat publik.

“Setidaknya, preseden ini menjadi pembelajaran penting bagi kami para dosen untuk selalu menjaga amanah di mana pun berada. Merawat samanya kata dengan perbuatan,” ungkap Dahnil.

Ia juga menegaskan preseden tersebut juga harus menjadi bahan reflektif bagi perguruan tinggi untuk mengedepankan harmonisasi integrasi pendidikan etika moral berdampingan dan akademik bagi semua insan akademik.

“Agaknya kami dosen harus terus merawat perilaku malu apabila tidak jujur.”

Redaktur : Heri Ruslan

Sumber: Republika Online:Rabu, 14 Agustus 2013, 14:32 WIB
———————
Rudi Ditangkap KPK, Pramono Anung: Saya Sebagai Alumni Tercoreng

Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung meminta agar masyarakat menunggu pengumuman resmi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal penangkapan Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas), Rudi Rubiandini.

“Harus ditunggu pengumuman resmi KPK mengenai penetapan apakan memang betul yang bersangkutan menerima suap kemudian ditetapkan jadi tersangka,” kata dia di Jakarta, Rabu, (13/8).

Sebelumnya, KPK menangkap Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini yang diduga menerima suap dari perusahaan minyak PT Kernel Oil. Ia juga diduga menerima suap dari perusahaan minyak Amerika Serikat tersebut sebanyak dua kali.

Jika benar Rudi menerima suap, ujar Pramono, maka wajah birokrasi dan wajah akademisi akan tercoreng. Bagaimanapun Profesor Rudi adalah guru besar dan ahli di bidang perminyakan dan gas.

“Beliau juga dosen terbaik (ITB) tahun 1994 sehingga saya sebagai alumni juga merasa tercoreng,” kata Pramono.,

Latar belakang Rudi, kata Pramono, selama ini dikenal sebagai dosen terbaik. Ia direkrut dari kampus karena kepandaian dan kapasitasnya.

“Namun korupsi itu, bukan orangnya tetapi lebih disebabkan oleh sistemnya yang membuka kecenderungan untuk melakukan tindak pidana korupsi. Kewenangan yang begitu besar menimbulkan godaan yang luar biasa sehingga siapapun yang ditempatkan di posisi Rudi jika sistem pengawasannya tidak baik, bisa berbahaya,” ujar Pramono.

Reporter : Dyah Ratna Meta Novia
Redaktur : Hazliansyah

Sumber: Republika Online: Rabu, 14 Agustus 2013, 14:07 WIB

——————-

Rudi Rubiandini dan Pengkhianatan Kaum Intelektual

Rudi Rubiandini tengah menghadapi proses hukum kasus suap. Mantan Kepala SKK Migas ini mengakui dirinya menerima gratifikasi dari perusahaan migas Kernel Oil. Lepas dari soal jabatan yang pernah diembannya, sosok Rudi yang profesor di perguruan tinggi ternama ITB membuatnya dikecam.

“Penangkapan Rudi ini menegaskan bahwa korupsi tidak saja dilakukan politisi namun akademisi juga. Ini sungguh mengkhawatirkan, Rudi pemilik gelar tertinggi di perguruan tinggi ikut merusak reputasi baiknya kaum intelektual,” jelas aktivis Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) Jamil Mubarok, Kamis (15/8/2013).

“Ini jelas pengkhianatan kaum intelektual,” tambahnya.

Menurut dia, Rudi dipandang selama ini sebagai akademisi, dosen teladan. Berangkat dari jejaknya selaku akademisi, tentu diharapkan sumbangsihnya untuk bangsa.

“Rudi ini telah mencoreng kaum intelektual yang dicirikan penjaga moral dan etika, penyeru kebenaran,” jelasnya.

Apa yang dilakukan Rudi, menerima suap ratusan ribu dolar AS, membuat anggapan kaum inteletual sebagai pemilik integritas dan independen runtuh sekeketika. Karenanya mendesak agar segera dilakukan upaya penyelamatan nama baik dan nama besar kaum intelektual.

“ITB segera mengusulkan kepada Mendikbud untuk mencabut gelar Profesor pada Rudi. Dan mendesak agar Mendikbud segera mencabut gelar profesornya, ini upaya pertama untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat pada akademisi,” urainya.

Jamil juga menyarankan agar Mendikbud memperhitungkan kembali pemberian gelar profesor, jangan dilihat dari sisi kecerdasan dan pengabdian akademik saja, memiliki integritas tinggi dan tidak pernah berbuat tercela harus jadi syarat penting.

“Sekaligus membuka proses penilaian pemberian gelar profesor yang selama ini tertutup, agar akuntabilitasnya juga ada, karena jika ada profesor yang korupsi, Mendikbud harus ikut juga bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara moral setidaknya,” tutupnya.

Indra Subagja – detikNews

Sumber: detik.com, Kamis, 15/08/2013 10:01 WIB

—————–

Soal Gelar Profesor Rudi, Mendikbud Serahkan ke ITB

Rudi Rubiandini ditangkap KPK. Dalam tangkapan yang disebut KPK terbesar untuk jenis operasi tangkap tangan itu, Rudi diduga menerima suap ratusan ribu dolar dari perusahan trader minyak Kernel Oil.

Apa yang terjadi pada Rudi cukup mengejutkan. Rudi, yang juga guru besar ITB merupakan dosen teladan. Dari kasus suap itu, kemudian banyak yang mengkaitkan dengan gelar profesor perminyakan yang disandang Rudi. Pantaskan Rudi tetap memegang gelar terhormat itu?

“Kita serahkan ke ITB karena beliau dosen ITB,” kata Mendikbud M Nuh di Kantornya, Jl Sudirman, Jakarta, Sabtu (17/8/2013).

Menurut Nuh, di ITB ada majelis wali amanah, yang mengawasi soal kode etik. Nah, nanti hasil dari ITB soal pemeriksaan kode etik itu akan diberikan tanggapan.

“Bukan kewenangan Kemendikbud, setiap dosen punya universitas,” tutupnya.

Dhani Irawan – detikNews
Sumber: detik.com, Sabtu, 17/08/2013 11:57 WIB

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: