Home / Berita / Digitalisasi Jadi Magnet Investasi Sektor Pertanian

Digitalisasi Jadi Magnet Investasi Sektor Pertanian

Hasil produksi petani dapat meningkat hingga dua kali lipat dengan teknologi. Paduan sistem teknologi yang melibatkan sensor-sensor indikator kebutuhan tanaman juga membuat petani dapat mengefisiensikan penggunaan air.

Kehadiran teknologi digital dapat menjadi daya tarik untuk mendatangkan investasi sektor pertanian. Melalui digitalisasi tersebut, investor dapat memantau langsung aktivitas pertanian yang berjalan dengan modal yang ditanamnya.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Semakin menyempitnya lahan pertanian di perkotaan disiasati dengan membuat kebun hidroponik seperti yang dilakukan sejumlah petani dengan mendirikan pusat pertanian hidropoik di kawasan Depok, Jawa Barat, Kamis (28/3/2019). Hasil panen sayuran dipasarkan ke restoran dan pasar swalayan di Jabodetabek.

”Teknologi membuat investor merasa aman menanamkan modalnya di sektor pertanian yang mayoritas berada di perdesaan,” tutur CEO dan Co-founder Habibi Garden Irsan Rajamin dalam diskusi media bertajuk ”Strategi dan Kebijakan Pertanian di Indonesia 2019-2024” di Jakarta, Kamis (12/12/2019). Habibi Garden merupakan salah satu perusahaan teknologi yang bergerak di bidang pertanian dan menciptakan daya tarik investasi.

Teknologi pertanian yang diterapkan Habibi Garden mampu menampilkan temperatur, kelembaban, kebutuhan pupuk, dan kebutuhan air tanaman pada lahan pertanian melalui aplikasi ponsel setiap waktu (real time). Dengan demikian, investor dapat turut memantau kondisi lahan pertanian yang memanfaatkan modalnya.

Berkaca pada data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sepanjang 2018, realisasi penanaman modal dalam negeri bidang usaha tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan mencapai Rp 31,18 triliun dengan total 737 proyek. Adapun penanaman modal asing bidang usaha yang sama menyasar 550 proyek dengan total nilai sebesar 1,72 miliar dollar AS (Rp 24,15 triliun).

Dalam struktur pertumbuhan domestik bruto nasional pada triwulan III-2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor pertanian menyumbang kontribusi sebesar 13,45 persen dan menjadi tertinggi kedua setelah industri. Pertumbuhannya mencapai 3,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

KOMPAS/M PASCHALIA JUDITH J–Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Dadang, Chairman of Institute for Food and Agriculture Development Studies Iskandar Andi Nuhung, Head of Business Sustainability PT Syngenta Indonesia Midzon Johannis, serta CEO dan Co-founder Habibi Garden Irsan Rajamin (kiri ke kanan) dalam diskusi media bertajuk ”Strategi dan Kebijakan Pertanian di Indonesia 2019-2024”, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Tak hanya memberikan akses pemantauan, Irsan menyatakan, hasil produksi petani dapat meningkat hingga dua kali lipat dengan teknologi. Paduan sistem teknologi yang melibatkan sensor-sensor indikator kebutuhan tanaman juga membuat petani dapat mengefisiensikan penggunaan air hingga 70 persen.

Riset varietas unggul
Dari sisi pelaku industri yang bergerak di bidang riset pertanian, Head of Business Sustainability PT Syngenta Indonesia Midzon Johannis berpendapat, Indonesia kini membutuhkan penelitian dan pengembangan varietas unggul komoditas pangan. Utamanya, rekayasa genetika yang mampu menciptakan varietas yang tahan pada perubahan iklim, seperti tahan hama atau membutuhkan sedikit air.

Oleh sebab itu, riset di bidang pertanian membutuhkan suntikan dana yang besar. ”Hal ini menunjukkan, pemerintah mesti merangsang investasi berorientasi transfer ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga Indonesia dapat menyerap dan mengembangkan teknologi tersebut di dalam negeri,” kata Midzon dalam kesempatan yang sama.

Menurut Chairman of Institute for Food and Agriculture Development Studies Iskandar Andi Nuhung, tantangan pangan nasional kini mesti dijawab dengan riset dan teknologi. Salah satu tantangannya berupa ketersediaan lahan pangan yang berpotensi berkurang.

Andi menyatakan, riset dan teknologi di bidang pertanian dapat meningkatkan produktivitas lahan dan diversifikasi konsumsi pangan. Kedua langkah ini dapat mengoptimalkan fungsi lahan pangan nasional yang sudah ada.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Anggur yang siap dipanen, Jumat (15/11/2019), di kebun anggur Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Banjarsari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kebun ini berdiri sejak tahun 1955 dan merupakan kebun satu-satunya koleksi plasma nutfah anggur terlengkap di Indonesia seluas 4,76 hektar.

Sementara itu, Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Dadang berpendapat, fungsi transfer teknologi pada investasi dapat digantikan dengan kolaborasi riset dengan pihak-pihak luar negeri. ”Bentuknya berupa publikasi (penelitian) dan pemanfaatan teknologi bersama dengan prinsip fairness,” ujarnnya.

Keterbukaan pemerintah
Agar penerapan teknologi pada pertanian dapat semakin masif, Irsan menyatakan, pelaku usaha membutuhkan keterbukaan pemerintah daerah terhadap inovasi. ”Kami ingin berekspansi dari Aceh hingga Papua. Namun, kami membutuhkan itikad pemerintah daerah sebagai tuan rumah yang sadar dan terbuka terhadap digitalisasi,” katanya.

Keterbukaan itu memudahkan kolaborasi antara pelaku usaha teknologi dan pemerintah dalam mengembangkan digitalisasi pada pertanian. Irsan mencontohkan, Habibi Garden bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengedukasi petani dalam memanfaatkan teknologi digital pada kegitan bertani.

Secara jangka panjang, Irsan berpendapat, digitalisasi dapat menumbuhkan eksosistem pertanian yang kian menyejahterakan petani. Data dan indikator lahan pertanian yang terbuka dan dapat terpantau dapat dimanfaatkan untuk memperoleh jaminan pembiayaan, akses permodalan, hingga asuransi.

Oleh M PASCHALIA JUDITH J

Editor: HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 12 Desember 2019

Share
x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: