Home / Berita / Difteri, “Jalan Pahit” Buka Mata Warga

Difteri, “Jalan Pahit” Buka Mata Warga

Sebelum tahun 2016, difteri begitu asing bagi warga Desa Sampih, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kematian tiga warga akibat difteri setahun lalu membuka mata mereka. Kini, warga desa itu tak ragu mengimunisasikan anak mereka untuk mencegah penyakit, termasuk difteri.

Ni’amilah (16) masih ingat difteri merenggut tiga adiknya, Januari tahun lalu. Awalnya, mereka batuk, flu, dan demam. Ketiganya juga sulit menelan, sesak napas, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Ni’amilah pernah dirawat setengah bulan di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Cirebon. Ia diduga menderita difteri. “Kini tinggal ada saya, kakak Nurlaela (18), dan adik Imroatul (2),” ucap Ni’amilah saat ditemui di rumahnya di Blok Puhun, Desa Sampih, 22 kilometer dari pusat Kota Cirebon, Selasa (5/12).

“Sejak saudara-saudaranya meninggal, Ni’amilah lebih banyak diam,” ujar Juju Juwariyah (35), kerabat Ni’amilah.

Serangan difteri yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae itu membuat Pemerintah Kabupaten Cirebon menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri tahun lalu. Tiga tahun sebelumnya, kasus difteri ditemukan di Kecamatan Tengahtani, Cirebon, dan mengakibatkan dua warga meninggal.

Peristiwa itu sekaligus menjadi pelajaran bagi warga Sampih tentang pentingnya imunisasi untuk mencegah penularan difteri. “Ternyata penyebab difteri itu karena anak tidak diimunisasi,” kata Juju.

“Memang keponakan saya enggakdiimunisasi. Anak saya juga tidak,” kata Juju. Alasannya, belasan tahun lalu, ia harus berjalan kaki lebih dari 3 kilometer menuju puskesmas terdekat di Susukanlebak atau Lemahabang. Belum ada kendaraan saat itu. Jika ingin bepergian, warga harus menyewa angkutan umum.

Ia juga kerap mendengar isu tentang bahaya imunisasi karena ada anak meninggal setelah diimunisasi, serta terkait keyakinan. Alasan serupa membuat warga lain tak mengimunisasikan anak mereka.

Penyesalan juga diungkapkan Satiyah saat anak pertamanya, Vahrijal (25), dirawat di ruang isolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso Jakarta. karena difteri. “Ini salah saya, kurang perhatian ke anak. Waktu itu saya sibuk kerja. Saya menyesal tak mengimunisasikan anak saya,” ujar perempuan yang sehari-hari menjadi pekerja rumah tangga.

Terbuka
Setelah muncul kasus difteri hingga menelan korban jiwa, pemahaman warga tentang pentingnya imunisasi tumbuh. Di Kabupaten Cirebon, dinas kesehatan setempat menyosialisasikan bahaya difteri dan imunisasi ulang terhadap 18 anak di Blok Puhun, Februari, tahun lalu. Sebanyak 249 warga diberi obat untuk mencegah penyebaran difteri.

Setelah kehilangan tiga keponakannya, Juju dan warga Desa Sampih lainnya tak lagi ragu mengimunisasi anaknya. “Beberapa waktu lalu, tiga anak saya disuntik di sekolah,” ucapnya.

Keinginan warga Desa Sampih itu harus jadi semangat. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, cakupan imunisasi di Kecamatan Susukanlebak belum merata. Desa Sampih, misalnya, cakupan imunisasinya di bawah target 85 persen pada 2015. Bahkan, cakupan imunisasi ulang di usia 18 bulan nihil. Pada 2014, cakupan imunisasi usia itu 20 persen dari 83 anak.

Kepala Desa Sampih Suherman mengatakan, perlahan tetapi pasti, kesadaran warga meningkat. Warga telah merasakan pentingnya imunisasi. “Sebenarnya, warga tak menolak imunisasi. Hanya, belum paham khasiatnya,” ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jabar Dodo Suherman mengatakan, sosialisasi imunisasi digalakkan agar difteri tak menyebar. Berdasarkan data Dinkes Jabar, tahun lalu ada 121 kasus difteri, 10 pasien di antaranya meninggal. Pada 1 Januari-4 Desember, ada 116 kasus, 13 pasien di antaranya meninggal.

Pertumbuhan ekonomi
Penyebaran difteri juga terjadi di daerah yang laju pembangunan ekonominya berkembang. Di Kabupaten Bekasi dan Karawang, kawasan industri nasional, ada 13 kasus dan 12 kasus. Setahun lalu, hanya ada tiga kasus di Bekasi dan lima kasus di Karawang. Di Garut, kasus difteri naik hampir empat kali dari tiga kasus tahun lalu jadi 11 kasus tahun ini. Di Cianjur, dari nol kasus jadi 9 kasus.

“Kesibukan warga membuat mereka tak sempat mengimunisasikan anak-anak mereka. Di beberapa kasus, anak tak diimunisasi karena orangtuanya tak punya waktu ke posyandu. Keguyuban warga yang kendur juga jadi pemicu,” ujarnya.

Desa Sampih membuktikannya. Mereka saling mengingatkan. Kesadaran pentingnya imunisasi perlahan tumbuh. “Kalau jadwal posyandu, ibu-ibu saling panggil dari rumah ke rumah. Posyandu kini lebih ramai,” ujar Nurhayati (35), kader posyandu.

“Kalau dulu yang ikut tak lebih dari 15 anak. Sekarang, lebih dari 20 anak. Kalau tak sempat, warga berkunjung ke bidan. Ada dua bidan di desa ini,” ujarnya. Kegiatan posyandu yang digelar hari Selasa pekan kedua tiap bulan itu antara lain berisi penimbangan berat anak berusia di bawah lima tahun dan layanan imunisasi.

Di Balai Desa Sampih, ada dua posyandu. Kepala Desa Sampih Suherman mengatakan, meski “pahit”, difteri memberi pelajaran berharga bagi warga. “Kami tak ingin hal ini terulang. Kini cakupan imunisasi hampir 100 persen di desa,” ujarnya.

Dari Sampih, mata warga kini terbuka. Tak ingin kehilangan orang terdekat, mereka belajar. Imunisasi merupakan hak setiap anak di Indonesia untuk sehat dan meraih masa depan berkualitas. (CHE/DD04)

ABDULLAH FIKRI ASHRI

Sumber: Kompas, 15 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: