Pencegahan Hanya Bisa Dilakukan dengan Imunisasi

- Editor

Kamis, 14 Desember 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semua orang yang belum menerima imunisasi ataupun yang belum lengkap menerima imunisasi diminta segera menerima imunisasi yang diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Merebaknya kembali penyakit difteri sehingga dinyatakan kejadian luar biasa hanya bisa dicegah dengan menerima imunisasi yang memperkuat daya tahan tubuh.

Spesialis anak dan konsultan penyakit infeksi dan penyakit tropis Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Anggraini Alam, menegaskan, satu-satunya cara mencegah penyebaran dan mencegah tertular difteri hanya dengan imunisasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hidup sehat saja tidak cukup karena difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang hanya bisa ditangkal dengan imunisasi.

”Hidup sehat saja tidak cukup karena difteri ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang hanya bisa ditangkal dengan imunisasi itu,” ujar Anggraini di RSHS, Kota Bandung, Selasa (12/12).

8 juta Anak Sasaran Imunisasi Ulang Difteri
Maka dari itu, Anggraini menegaskan, penting sekali bagi semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, untuk menerima imunisasi itu.

Sebab, bakteri itu bisa menular lewat udara dan tidak memandang usia manusia. Apabila sudah tertular, bakteri itu dapat mengakibatkan gangguan pernapasan yang bisa berujung pada kematian.

Apabila sudah tertular, bakteri itu dapat mengakibatkan gangguan pernapasan yang bisa berujung pada kematian.

Anggraini menjelaskan, anak usia 1-5 tahun bisa menerima vaksin Pentabio atau DTP-HB-Hib, anak usia 5-7 tahun menerima vaksin DT (difteri tetanus), dan anak usia 7-19 tahun menerima vaksin Td (tetanus difteri).

KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA–Spesialis anak dan konsultan penyakit infeksi dan penyakit tropis Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Anggraini Alam (kiri), ditemui di RSHS, Kota Bandung, Selasa (12/12).

Perlindungan Komunitas terhadap Difteri Belum Mantap
Tidak hanya itu, penerima vaksin yang memperkuat daya tahan tubuh itu juga harus melengkapi tahapan pemberian imunisasi, yakni pada nol bulan, satu bulan, dan enam bulan.

Yang dimaksud dengan pemberian imunisasi nol bulan adalah saat pertama dapat imunisasi ulang itu. Penerima imunisasi itu harus menerima imunisasi lagi sebulan kemudian. Kemudian pada saat sudah enam bulan, mereka harus menerimanya lagi.

Penderita difteri memang bisa disembuhkan setelah dirawat selama 2-3 minggu di rumah sakit. Namun, bukan berarti warga bisa mengabaikan imunisasi sebab penyakit ini berisiko membawa kematian.

Ia menjelaskan, bila 72 jam atau tiga hari setelah indikasi serangan terjadi, peluang sembuh menjadi lebih kecil.

Difteri Merebak, Imunisasi Menyeluruh Dilaksanakan di Daerah
”Kami minta dengan segala kerendahan hati demi kebaikan bapak-ibu dan saudara sekalian, yang belum menerima imunisasi agar segera mengupayakan menerima imunisasi itu untuk kesehatan dan keselamatan bersama,” ujar Anggraini.

Pasokan vaksin
Guna mencegah penyebaran lebih lanjut, pemerintah pun menjalankan imunisasi ulang serentak atau outbreak response immunization (ORI) di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta, mulai Senin (11/12). Pasokan imunisasi itu dipasok oleh BUMN penghasil vaksin, yakni PT Bio Farma (Persero).

”Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap mutu vaksin buatan Bio Farma karena produk yang dihasilkan melalui pengawasan kualitas yang ketat dan sistem rantai dingin (cold chain system) dengan teknologi vaccine vial monitor (VVM) untuk menjamin vaksin berkualitas, aman, dan efektif,” ujar Bambang Heriyanto, Corporate Secretary Bio Farma.

Untuk memastikan ketersediaan pasokan vaksin itu, pihaknya bahkan menelaah kembali permintaan ekspor vaksin difteri untuk negara berkembang melalui Unicef.

”Relokasi pasokan vaksin difteri yang sedianya ekspor ke dalam negeri sementara waktu kami lakukan guna memenuhi permintaan vaksin difteri dalam negeri,” ujar Bambang.–BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

Sumber: Kompas, 13 Desember 2017

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB