Home / Berita / Difteri, Mematikan, tetapi Bisa Dicegah

Difteri, Mematikan, tetapi Bisa Dicegah

Beberapa pekan lalu beredar infografis berisi data kasus penyakit difteri di Indonesia. Infografis yang beredar melalui media sosial itu menunjukkan hampir semua wilayah di Nusantara merah, artinya terjangkit penyakit difteri. Publik pun dibuat tercengang sekaligus khawatir.

Masyarakat mengira saat ini ada wabah difteri di banyak tempat, dengan jumlah kasus amat banyak. Masyarakat pun ketakutan. Padahal, itu adalah data kasus difteri secara kumulatif sejak Januari 2017.

Difteri adalah penyakit yang menyerang saluran napas atas dan kulit akibat bakteri Corynebacterium diphtheriae. Kuman difteri menyebar melalui percikan air liur di udara, misalnya bersin dan batuk, sehingga amat mudah menular. Jadi, pasien difteri harus diisolasi. Kontak dengan pasien harus dibatasi karena mereka berisiko tertular. Saat ada penularan di satu komunitas, seharusnya komunitas itu dikarantina demi membatasi kontak dengan orang lain.

Dokter spesialis anak di RSUD Pasar Rebo Jakarta yang juga penulis buku Pro Kontra Imunisasi, Arifianto, Sabtu (9/12), di Jakarta, menjelaskan, kuman difteri masuk lewat saluran napas. Organ yang kerap kena: amandel (tonsil), kerongkongan, dan pita suara (laring).

Infeksi bakteri difteri memicu terbentuknya lapisan putih keabuan tebal di sekitar saluran napas atau disebut pseudomembran. Akibatnya, ada pembengkakan sehingga pasien sulit menelan dan jalan napas tertutup. Pasien harus menjalani trakiostomi atau memakai ventilator agar bisa bernapas. Trakiostomi dilakukan dengan melubangi leher untuk memberi jalan napas.

Kenali gejala
Tanda dan gejala akibat infeksi difteri umumnya muncul 2-5 hari setelah infeksi. Gejala muncul perlahan mulai ringan akhirnya parah, seperti bengkak dan nyeri di kerongkongan, demam, dan nyeri saat menelan.

Bakteri difteri juga berbahaya bagi organ lain, seperti jantung, saraf, dan ginjal. Saat menginfeksi tubuh, bakteri ini akan mengeluarkan racun (toksin). Racun ini bisa menyebar ke semua organ tubuh lewat aliran darah, menyebabkan peradangan. Otot jantung terganggu sehingga detak jantung jadi tak normal. Pada saraf, racun ini bisa menyebabkan kelumpuhan.

Pengobatan bagi pasien difteri ialah dengan memberi antibiotik dan antitoksin (antidifteri serum). Sementara upaya bagi mereka yang sehat atau belum terinfeksi ialah pemberian vaksin difteri dan profilaksis.

Imunisasi
Meski mematikan, difteri bisa dicegah. Imunisasi jadi upaya kesehatan murah dan efektif mencegah penyakit tertentu termasuk difteri. Bayangkan besarnya beban keluarga, masyarakat, dan negara jika ada banyak anak tak diimunisasi lalu kena difteri.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi mengungkapkan, pada 1990-an cakupan imunisasi dasar lengkap bagus sehingga kasus difteri amat jarang terjadi. Satu kasus difteri yang muncul pun dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, pada 2016 ada 7.097 kasus difteri di seluruh dunia. Di Indonesia, Kemenkes mencatat, kasus difteri terus bertambah sejak 2014. Tahun 2014 ada 396 kasus difteri, tahun 2015 menjadi 529, dan 558 kasus pada 2016. Di tahun 2017, hingga pekan ke-44 (pertengahan November), ada 591 kasus difteri tersebar di 95 dari 214 kabupaten atau kota. Sebanyak 32 pasien di antaranya (5,4 persen) meninggal dunia.

Di satu sisi, laporan cakupan imunisasi dasar lengkap nasional diklaim mantap untuk membangun kekebalan komunitas meski pada 2012-2015 cakupan tak sampai 90 persen. Di tingkat desa, angka cakupan tak merata, mulai 100 persen (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Nusa Tenggara Barat) sampai 56,8 persen (Papua Barat), dan 30,7 persen (Kalimantan Utara).

Tak meratanya cakupan imunisasi membuat kekebalan komunitas tak sempurna. Akibatnya, risiko penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi besar. Risiko anak yang belum pernah diimunisasi lebih besar daripada anak diimunisasi belum lengkap. Anak yang diimunisasi dasar lengkap punya risiko terkecil.

Meski imunisasi merupakan hak, tak sepatutnya diartikan sebagai hak menolak imunisasi. Sebab, anak yang tak mendapat vaksin dan tertular penyakit bisa jadi sumber penularan bagi orang di sekitarnya. Mari lengkapi imunisasi dasar anak kita. (ADHITYA RAMADHAN)

Sumber: Kompas, 12 Desember 2017
——————-
Mutu Vaksin Harus Terjamin

Imunisasi ulang difteri dilaksanakan serentak di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, Senin (11/12), sebagai respons atas munculnya kejadian luar biasa di tiga provinsi itu. Namun, sejumlah pihak meminta pemerintah menjamin mutu imunisasi agar tak hanya cakupannya merata, tetapi juga efektif membentuk kekebalan komunitas.

Jaminan kualitas meliputi mutu vaksin dan standar rantai dingin, manajemen program, komunikasi, surveilans, kejadian ikutan pasca-imunisasi, serta pelayanan imunisasi.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia Aman Bhakti Pulungan menegaskan, akibat cakupan imunisasi dasar lengkap tak merata, muncul kesenjangan kekebalan masyarakat. Akibatnya, anak-anak rentan sakit. “Kita terlena data cakupan imunisasi tinggi. Faktanya, kasus difteri dan campak muncul lagi,” ujarnya.

Kita terlena data cakupan imunisasi tinggi. Faktanya, kasus difteri dan campak muncul lagi.

Program imunisasi harus dipastikan mutunya agar kekebalan komunitas pada penyakit terbentuk dan pemerintah tak repot menambal sulam akibat cakupan imunisasi tak merata. Munculnya penyakit dan imunisasi ulang berdampak finansial besar.

Selain difteri, penularan campak terus terjadi. Di Kabupaten Puncak Jaya, Papua, 134 kasus terduga campak merebak sejak November. Menurut Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Papua Togu Sihombing, kasus itu dipicu rendahnya cakupan imunisasi karena kondisi geografis sulit.

Di Indonesia, program imunisasi dasar lengkap terdiri dari 1 dosis vaksin hepatitis B, 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-HIB, 4 dosis polio tetes, dan 1 dosis campak. Itu bisa mencegah tuberkulosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus, dan hepatitis B.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, adanya penolakan terhadap imunisasi menjadi peringatan bagi pemerintah untuk mencari akar soalnya. “Komunikasi pemerintah harus ditingkatkan, berjejaring dengan masyarakat,” ujarnya.

Penolakan sebagian warga terhadap imunisasi menghambat vaksinasi di Jawa Timur, antara lain di Kota Malang dan Kabupaten Blitar. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Asih Tri Rachmi Nuswantari, ada warga menganggap imunisasi tak perlu ataupun terkait keyakinan.

Terkait mutu vaksin, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menjamin sistem penyimpanan dan pengangkutan vaksin diawasi ketat. “Petugas rutin mendapat pelatihan,” kata Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sumbar Ali Akbar.

Imunisasi ulang
Kemarin, imunisasi ulang atas respons kejadian luar biasa (outbreak response immunization/ORI) difteri mulai dilakukan di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Menurut rencana, program itu dilanjutkan di sejumlah daerah lain pada Januari 2018.

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek menyampaikan, ORI akan dilakukan bertahap. Tahap pertama, program ini akan dilakukan di 12 kabupaten atau kota di 3 provinsi dengan sasaran 8 juta anak usia di bawah 19 tahun. “ORI juga dilakukan mandiri oleh daerah lain, seperti Jawa Timur dan Sumatera Selatan,” ujarnya saat imunisasi ulang di SMA Negeri 33 Cengkareng, Jakarta Barat, kemarin.

ORI juga dilakukan mandiri oleh daerah lain, seperti Jawa Timur dan Sumatera Selatan.

Setiap anak mendapat tiga kali penyuntikan vaksin, pada bulan pertama, bulan kedua, dan bulan keenam, agar imunisasi bisa optimal. Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi, vaksin yang diberikan pada suntikan pertama untuk ORI di tiga provinsi ini ialah vaksin persediaan lebih pada 2017.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto mengatakan, sasaran imunisasi difteri, pertusis, tetanus (DPT) Desember 2017 ada 1,23 juta anak. Mulai Januari 2018, semua area akan mendapat vaksinasi lagi. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap warga Jakarta bebas dari difteri dan soal kesehatan lain sebelum Asian Games 2018 digelar di Jakarta.

Di Kota Tangerang Selatan, sejumlah puskesmas belum melakukan imunisasi. Di Puskesmas Rawabuntu, imunisasi DPT akan dimulai pada Rabu setelah mendapat vaksin dari dinas kesehatan. Imunisasi ulang juga dilakukan di Jabar, termasuk Kabupaten Purwakarta. Tahun ini, kasus difteri di Purwakarta tertinggi di Jabar, yakni 27 kasus.

Beban ekonomi
Riset pakar di 73 negara berpendapatan menengah ke bawah, termasuk Indonesia, yang dipublikasikan di buletin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 27 Juni 2017, menunjukkan imunisasi punya dampak ekonomi negara. Program imunisasi dasar lengkap diperkirakan mencegah 20 juta kematian global, 500 juta kasus kesakitan, dan 9 juta kasus kecacatan tahun 2001-2020.

Tahun 2020, implementasi program imunisasi sejak 2001 mencegah kerugian ekonomi 350 juta dollar AS akibat kesakitan. Dari jumlah itu, 240 juta dollar AS disebabkan hilangnya produktivitas akibat kematian dini. Pada 2011-2020, kerugian 4 juta dollar AS untuk biaya perawatan bisa dihindari.
(ADH/DD04/INA/WIN/PIN/UTI/FLO/WER/SEM/ZAK)

Sumber: Kompas, 12 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: