Home / Berita / arkeologi-antropologi / Dari Botswana Menjadi Indonesia

Dari Botswana Menjadi Indonesia

Berbagai penelitian terbaru mengukuhkan pengetahuan bahwa seluruh manusia di dunia memiliki leluhur yang sama dari Afrika. Indonesia menjadi salah satu tujuan utama migrasi dan pusat pembauran manusia sejak zaman purba.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Anak-anak Kampung Somnak, Distrik Joutu, Kabupaten Asmat, baru pulang dari mencaei ikan. Masyarakt di kampung ini masih mempertahankan pola hidup sebagai pemburu dan peramu, Kamis (15/10). Orang Papua memiliki DNA Denisovan tertinggi, yaitu sekitar 3-5 persen. Bauran DNA dengan manusia purba ini diperoleh saat nenek moyang mereka bermigrasi dari Afrika menuju Nusantara puluhan ribu tahun lalu. Kompas/Ahmad Arif

Tahun 2019 ditandai sejumlah penemuan penting di bidang genetika populasi dan arkeologi yang mempertegas asal-usul manusia dari Afrika dengan lebih spesifik di sekitar Botswana saat ini. Namun di Indonesia, yang menjadi lokus penting pembauran manusia sejak zaman purba, perdebatan tentang asal-usul yang didominasi konstruksi sosial-politik tentang identitas masih jauh dari usai.

Dengan menganalisis DNA mitokondria 1.200 orang di Afrika dan membandingkannya dengan bank gen manusia di dunia, para peneliti menemukan kampung halaman manusia pertama adalah kawasan subur-paleo Makgadikgadi-Okavango, di Afrika bagian selatan, sekitar Botswana saat ini. Antropolog Vanessa Hayes dari Garvan Institute of Medical Research dan University of Sydney yang memimpin studi itu menyebut, ”Setiap orang saat ini bisa dilacak DNA mitokondria-nya pada manusia di kampung pertama ini.”

–Dengan menganalisis DNA mtKondria, diketahui bahwa setiap orang yang hidup hari ini adalah keturunan wanita “L0” yang hidup di Botswana modern sekitar 200.000 tahun lalu. Daerah asal leluhur ini, yang disebut lahan basah-paleo Makgadikgadi-Okavango, berada di dekat Delta Okavango modern. Sumber: Eva K. F. Chan, Vanessa M . Hayes dkk dalam Nature, 2019

Kajian yang dipublikasikan di jurnal Nature edisi Oktober 2019 ini mengukuhkan teori “Out of Africa”, bahwa seluruh manusia modern (Homo sapiens) yang hidup di Bumi saat ini memiliki moyang dari Afrika. Dengan demikian, teori “multiregional” yang menyebut populasi manusia berasal dari beberapa lokasi berbeda semakin meredup.

DNA mitokondria (mtDNA), yang bisa ditemukan di setiap organisme ibarat kapsul waktu yang menyimpan informasi nenek moyang perempuan kita. Berbeda dengan sistem genetik DNA inti yang mengikuti hukum Mendel, mtDNA hanya diwariskan secara maternal (garis ibu).

Dengan memutar balik jam biologis ini, semua manusia modern diketahui mewarisi gen mtDNA dari grup populasi ”L”. Cabang ”L” itu dibagi jadi dua subkelompok, yakni ”L1” hingga ”L6” dan ”L0”. Dengan membandingkan cabang-cabang L itu, bisa diketahui setiap orang yang hidup hari ini ialah keturunan perempuan ”L0” yang hidup di sekitar Delta Okavango 200.000 tahun lalu.

”Temuan kami memperbaiki pohon evolusi manusia paling awal,” kata Eva Chan dari Garvan Institute of Medical Research yang memimpin analisis filogenetik.

Kajian multidisiplin ini juga mengkonstruksi perubahan ekosistem yang memicu kemunculan dan juga migrasi dan penyebaran nenek moyang kita ke berbagai belahan dunia. Setelah muncul sejak 200.000 tahun lalu dan kemudian berkembang di lingkungan ekologi yang subur, sekitar 130.000 tahun lalu iklim di sekitar Delta Okavango mengering.

Hal ini memicu sebagian nenek moyang kita menyebar dalam tiga kelompok: satu kelompok menyebar ke timur laut 130.000 tahun lalu dan yang lain pergi pada migrasi kedua ke barat daya 110.000 tahun lalu. Populasi ketiga tetap di kampung awal di sampai kini, yang mtDNA-nya ditemukan Hayes dan tim dan dikelompokkan sebagai ”L0” itu.

Berbeda dengan migran timur laut, penjelajah yang ke barat daya lebih berkembang dan populasinya tumbuh pesat. Kelompok yang berjalan ke arah barat itu kemungkinan menjelajah ke berbagai penjuru dunia, hingga tiba di Nusantara.

–Dengan menganalisis DNA mtKondria, diketahui bahwa setiap orang yang hidup hari ini adalah keturunan wanita “L0” yang hidup di Botswana modern sekitar 200.000 tahun lalu. Daerah asal leluhur ini, yang disebut lahan basah-paleo Makgadikgadi-Okavango, berada di dekat Delta Okavango modern. Sumber: Eva K. F. Chan, Vanessa M . Hayes dkk dalam Nature, 2019

Posisi Nusantara
Jejak awal para migran Afrika di Nusantara ini ditemukan para peneliti Puslit Penelitian Arkeologi Nasional dan tim internasional di Leang Bulu’ Sipong 4, satu dari ratusan gua di Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Jejak itu berupa lukisan di dinding gua yang menggambarkan seekor anoa diburu sekelompok figur setengah manusia dan setengah hewan dengan tombak dan tali.

Dengan menganalisa lapisan bebatuan yang disebut ‘popcorn’ yang membentuk pada lukisan di gua, tim peneliti memastikan lukisan ini telah dibuat lebih dari 44.000 tahun lalu. Itu menjadikannya sebagai lukisan gua tertua di dunia. Hasil kajian ini dipublikasikan di jurnal Nature pada 11 Desember 2019.

PINDI SETIAWAN, ADHI AGUS OCTAVIANA, MAXIME AUBERT, DKK, 2018–Peta lokasi temuan lukisan gua di karst Sangkulirang-Mangkalihat.

Sebelumnya, ribuan lukisan prasejarah yang dibuat dalam rentang 40.000 tahun lalu hingga 3.500 tahun lalu juga ditemukan di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature pada November 2018.

Jejak lukisan gua, yang melengkapi temuan fosil dan tinggalan arkeologis lain di berbagai wilayah menunjukkan, ini pentingnya posisi Indonesia dalam sejarah migrasi dan evolusi manusia modern di luar Afrika. Iklim tropis dan keberlimpahan sumber daya pangan, telah menjadikan Nusantara sebagai daya tarik manusia sejak awal.

Bahkan, jauh sebelum kedatangan manusia modern, Nusantara telah dihuni beragam manusia purba. Hasil kajian para peneliti Lembaga Molekuler Eijkman dan tim internasional yang dipublikasikan di jurnal internasional Cell Press pada April 2019 menunjukkan, Nusantara menjadi lokus pembauran leluhur manusia modern dengan manusia purba yang paling intensif.

Kesimpulan ini didapatkan setelah ditemukan data bahwa, orang Papua (dan Papua Niugini) yang hidup saat ini memiliki komposisi gen manusia purba Denisovan yang tertinggi di dunia, yaitu 3-5 persen. Neanderthal, Denisovan, dan Sapiens awalnya berasal dari leluhur yang sama dan tinggal di Afrika hingga sekitar 800.000 tahun lalu, dan masing-masing kemudian terpisah pohon evolusinya. Neanderthal dan Denisovan lebih dulu keluar dari Afrika dan menjelajah ke berbagai belahan dunia.

Studi tim dari University of Adelaide’s Australian Centre for Ancient DNA (ACAD), yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) edisi Juli 2019, menguatkan pentingnya Nusantara sebagai tempat pembauran manusia modern dan manusia purba. Riset berhasil memetakan lokasi ”peristiwa pembauran” dengan menganalisis komposisi gen archaic (purba) ini dalam genom manusia di berbagai belahan dunia.

Teranyar, kajian dari Yan Rizal dari Departemen Geologi, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tim internasional yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 18 Desember 2019 lalu memberi peluang baru tentang kemungkinan pembauran lebih purba lagi.

Kajian itu menemukan, manusia purba pertama yang berjalan tegak, Homo erectus masih bertahan di Ngandong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah hingga 117.000 – 108.000 tahun lalu. Itu menunjukkan Pulau Jawa di masa lalu memiliki daya dukung sangat baik bagi kehidupan Homo erectus yang awalnya berevolusi di Afrika 1,8 juta tahun lalu.

Berbagai temuan ilmiah itu menunjukkan, Nusantara telah menjadi tempat menarik kedatangan manusia sejak jutaan tahun lalu hingga era sejarah modern, sebelum terbentuknya sekat-sekat negara. Sekalipun memiliki bentang alam paling bergolak di Bumi ini, dengan 127 gunung api dan dikepung zona gempa, negeri ini diberkahi kelimpahan sumber daya alam untuk mendukung kehidupan.

Migrasi leluhur yang datang bergelombang dan kemudian saling berbaur itulah yang telah membentuk negeri ini dengan keragaman budaya dan narasi tentang asal-usul. Selain kekayaan megabiodiversitas, keragaman budaya inilah berkah terbesar negeri ini.

Oleh karena itu, kita semestinya tak perlu emosi dengan pernyataan penyanyi Agnes Monica yang mengaku tidak berdarah Indonesia, melainkan melainkan berdarah Jerman, Jepang, dan China. Karena kebangsaan Indonesia tidak bisa dilihat hanya dari darah dan keturunan, namun juga kelahiran dan beragam faktor lain. Toh, pada dasarnya kita semua juga pendatang dan berdarah campuran dengan akar yang sama: dari Afrika.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 31 Desember 2019

Share
x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: