Home / Artikel / Dari Antariksa Memantau Bencana

Dari Antariksa Memantau Bencana

Bencana kerap melanda Indonesia hingga menimbulkan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda. Beberapa sistem pemantauan dikembangkan untuk mengantisipasi bencana ini, salah satunya satelit.

Beberapa bulan terakhir gempa melanda Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur. Di Sulawesi Tengah, gempa mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala, diikuti tsunami serta likuefaksi, dan menewaskan lebih dari 2.000 korban jiwa.

Berbagai bencana di Indonesia menimbulkan banyak korban jiwa seiring bertambahnya penduduk dan menurunnya mutu lingkungan. Karena itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati merencanakan pengoperasian satelit kebencanaan secara mandiri melengkapi sistem pemantauan bencana.

Satelit menjadi alternatif saat sistem komunikasi teresterial di darat rusak akibat bencana. ”Saat gempa di Palu, sensor pemantau pasang surut berfungsi, tetapi sistem telemetrinya rusak sehingga tak bisa mengirim data ke stasiun pusat pengamatan. Dampaknya, ada kesalahan peringatan dini tsunami,” ujarnya.

Satelit juga mendeteksi penjalaran gelombang laut untuk merekonfirmasi tsunami pascagempa dan kebenaran peringatan dini. Satelit kebencanaan diperlukan untuk mendukung sistem peringatan dini banjir, tanah longsor, dan bencana lain.

Indonesia harus mandiri merancang satelit kebencanaan agar pantauan sesuai target. Di musim kemarau, pemantauan area rawan kebakaran hutan diintensifkan. ”Itu tak bisa dilakukan dengan satelit milik asing,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo.

Biaya pembuatan satelit kebencanaan hingga ratusan miliar rupiah. Namun, tanpa antisipasi, bencana menelan banyak korban dan harta benda. Andi Eka Sakya, Presiden Meteorologi Dunia Regional V, mencontohkan, saat El Nino pada 2015, Indonesia mengalami kerugian Rp 220 triliun akibat gagal panen padi. Namun pemerintah tak mengimpor beras karena pantauan satelit Himawari menyebut tak semua area kekeringan sehingga pola tanam bisa diatur.

”Adanya satelit amat berarti mengingat kerugian akibat bencana amat besar dalam konteks penyelamatan,” ucap Andi yang juga peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan mantan Kepala BMKG.

Untuk mengatasi kendala dana, menurut Prabowo, pembuatan satelit perlu melibatkan banyak pihak berupa konsorsium. Satelit observasi di laut misalnya untuk perikanan, transportasi laut, dan pemantauan bencana.

Spesifikasi satelit
Dalam memantau kebencanaan, ada dua pilihan satelit, yakni satelit geostasioner dan satelit orbit rendah dengan resolusi tinggi. Satelit geostasioner mengorbit di ketinggian 36.000 kilometer, meliput semua area, tetapi resolusi citranya rendah. Resolusi tajam dihasilkan sensor atau kamera pada satelit orbit rendah, tetapi cakupannya terbatas sehingga perlu beberapa satelit.

Penyediaan citra dalam lima menit. Dengan satelit temporal, perubahan gelombang laut dan pergeseran lereng terpantau. Satelit memantau bumi 24 jam karena bencana terjadi kapan pun. Selain kamera optik untuk memantau saat siang, perlu sensor Radar (Radio Detection and Ranging) untuk mendeteksi obyek saat malam menurut pantulan gelombang elektromagnetik dari obyek itu.

Satelit termasuk sarana strategis memantau area berteknologi canggih sehingga Indonesia bergantung pada pihak asing. Untuk merancang, membuat, dan mengoperasikan satelit mikro berbobot 50-150 kilogram, para peneliti di Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bisa diandalkan. Namun, peluncurannya masih menumpang roket milik India.

Menurut Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, satelit mikro menjadi pilihan banyak negara di Amerika Utara dan Eropa karena biaya pembuatan dan peluncurannya lebih murah dibanding satelit menengah dan besar di orbit geostasioner. Stasiun berbobot 500-1.000 kilogram butuh biaya Rp 1,5 triliun dan satelit mikro Rp 100 miliar-Rp 200 miliar.

Pengembangan teknologi satelit di Lapan semakin maju melalui kerjasama dengan pakar di Jerman dan Jepang, serta didukung ketersediaan suku cadang satelit di pasaran di dalam dan luar negeri, dengan harga terjangkau. Saat ini Lapan telah menghasilkan tiga satelit A1,A2 dan A3 yang diluncurkan antara 2007 hingga 2016.

Sejak LAPAN A2 rancang bangun dan pembuatan satelit serta muatannya berupa sistem kendali, kamera, sistem komunikasi serta navigasi telah dikerjakan oleh tim peneliti di Pusteksat Lapan.

Pengembangan satelit itu akan berlanjut sampai LAPAN A6 yang akan diluncurkan pada tahun 2026. Saat ini satelit A4 dalam tahap penyelesaian. Sementara itu LAPAN A5 akan disiapkan sebagai satelit komunikasi sedangkan LAPAN A6 sebagai satelit radar, urai Wahyudi Hasbi peneliti di Pusteksat LAPAN.
Satelit Kebencanaan

“Satelit-satelit itu sejak awal dirancang untuk mendukung penanganan kebencanaan,” kata Adi Sadewo Salatun, pakar satelit dan mantan Kepala Lapan. Satelit LAPAN A1 atau LAPAN -TUBsat sejak tahun 2007 mengorbit pada ketinggian 630 kilometer dan melintas hingga tiga kali sehari di atas Indonesia.

Satelit tersebut memantau Selat Madura, pantai utara Jawa, perairan Bangka, dan Selat Malaka, yang rawan bencana banjir dan kecelakaan kapal. LAPAN A1 ini juga pernah digunakan untuk memantau perluasan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo dan letusan Gunung Merapi.

Sementara Satelit LAPAN A2 -yang diluncurkan pada 2014 dan mengorbit di ekuator 14 kali sehari. Satelit ini dilengkapi sistem radio komunikasi amatir sebagai alternatif penyambung komunikasi yang terputus di daerah bencana, termasuk di Lombok dan Palu. “Komunikasinya melalui anggota ORARI di lokasi bencana itu untuk menginfokan dampak bencana dan kondisi korban,” kata Mujtahid Kepala Pusat Teknologi Satelit Lapan.

Satelit LAPAN A3 diluncurkan pada 22 juni 2016 berada di orbit polar empat kali dalam sehari. Satelit A3 dapat memantau kondisi laut antara lain akibat efek tsunami, karena memiliki 2 kamera beresolusi 15 meter dan 3,5 meter serta memiliki empat kanal pemantau spektrum cahaya. Satelit itu pernah digunakan untuk memantau sebaran abu Gunung Agung di Bali. Hasil citranya digunakan untuk perencanaan jalur penerbangan yang bebas debu vulkanik dan evakuasi.

Pascagempa Lombok 29 Agustus 2018, satelit LAPAN A2 dan A3 mengamati adanya lengseran di gunung Rinjani. “Dua satelit ini juga diarahkan untuk memotret wilayah Palu setelah gempa,” kata Wahyudi.

Kerja sama dengan BMKG dimungkinkan untuk mengambil data dari alat pemantau tsunami di pantai, via satelit. Jadi data dapat disalurkan langsung ke satelit LAPAN. Sistem komunikasi dapat disiapkan di satelit LAPAN A4 dan bisa juga menggunakan sarana komunikasi di LAPAN A2, namun untuk itu sistem komunikasi di alat pemantau di darat harus disesuaikan.

Satelit A4 yang dilengkapi dengan dua kamera multispektral resolusi menengah dan tinggi serta sensor infra merah, diaplikasikan untuk pengamatan awan petir, terkait cuaca ekstrem. Pengembangan satelit itu bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT serta Universitas Hokkaido Jepang. Peluncurannya direncanakan pada tahun 2020.

Adapun satelit A6 yang dilengkapi sensor radar atau Synthetic Apeture Radar (SAR) dapat memantau daerah tertutup awan dan pada malam hari, juga akan mendukung pemantauan bencana.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 29 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Kunci Atasi Covid-19, Solidaritas Nasional dan Global

Sejarah peradaban hingga masa modern saat ini menunjukkan bahwa umat manusia memenangi perang melawan berbagai ...