Home / Berita / Gempa Susulan Lemah

Gempa Susulan Lemah

Momentum Perbaikan Sistem Pemantauan
Hingga Kamis (3/3), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat setidaknya terjadi 14 gempa susulan, setelah sehari sebelumnya terjadi gempa berkekuatan 7,8 skala Richter di Samudra Hindia. Meski masih ada potensi gempa susulan, kekuatannya diprediksi mengecil.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Daryono, kemarin, di Jakarta, mengatakan, gempa- gempa susulan itu bermagnitudo kurang dari 6 SR. Tren kekuatan gempa pun mengecil. ”Tak ada indikasi kejadian gempa lebih besar,” ucapnya.

Meski tak ada korban, gempa yang melanda Kabupaten Kepulauan Mentawai di Samudra Hindia dan dirasakan sampai ke daratan Sumatera Barat mendapat perhatian Presiden Joko Widodo. Presiden menilai, sikap pemerintah daerah dan masyarakat yang langsung bergerak ke tempat aman dari tsunami menunjukkan warga kian paham pengurangan risiko bencana.

Saat gempa, Rabu (2/3) malam, Presiden berada di Medan, Sumatera Utara, untuk meninjau proyek infrastruktur di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Presiden memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei menggerakkan kekuatan untuk membantu warga di daerah bencana.

258e2c21d93245eaac814ee327c3c2bfKOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Lanskap Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (3/3), difoto sehari setelah diguncang gempa. Gempa berkekuatan 7,8 skala Richter terjadi di Samudra Hindia, sekitar 628 kilometer barat daya Kepulauan Mentawai, Rabu pukul 19.49. Gempa yang berpusat di kedalaman 10 kilometer itu juga dirasakan di wilayah Sumatera Barat, termasuk Padang. Tidak ada korban jiwa, tetapi guncangan gempa membuat warga panik dan mengungsi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gempa- gempa susulan hal yang lumrah setelah gempa utama. Sebab, lempeng tempat gempa terjadi membentuk kestabilan.

Gempa bermagnitudo 7,8 SR, dan kedalaman 10 kilometer, Rabu lalu, berpusat di Samudra Hindia, yakni zona Investigator Fracture Zone, daerah pergeseran lempeng secara mendatar. Karena berupa sesar geser, gempa tak memicu tsunami karena volume air laut tak terangkat. Pusat gempa bukan di sistem zona subduksi barat Sumatera. Meski pusat gempa ada di 682 kilometer barat daya Kepulauan Mentawai, gempa bukan di segmen megathrust Mentawai.

Pelampung rusak
Kejadian gempa kemarin harus jadi momentum perbaikan pemantauan gempa dan tsunami agar peringatan dini lebih akurat. Menurut Sutopo, titik lemah pemantauan ialah tak ada buoy atau pelampung pemantau tsunami yang beroperasi di Indonesia. Peringatan kemarin memakai pemodelan dari BMKG serta buoy milik Thailand dan India.

Buoy diperlukan untuk memastikan tsunami akan terjadi atau tidak dan berapa lama penjalaran tsunami sampai ke daerah tertentu. Jadi, peringatan dini berdasarkan kekuatan gempa, kenaikan volume air laut, dan perhitungan lainnya.

Ada 22 buoy yang pernah dioperasikan di Indonesia. Namun, menurut Wahyu Widodo Pandoe, Direktur Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, sejak 2012, sistem pelampung pemantau tsunami itu tak aktif lagi. Buoy rusak karena vandalisme dan keterbatasan anggaran pemeliharaan.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit memastikan, gempa tak menimbulkan korban jiwa dan kerusakan. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meminta Bupati Mentawai mengeluarkan surat keputusan darurat bencana agar bisa mengakses cadangan beras pemerintah sampai 100 ton. (JOG/YUN/HAM/C07/ZAK/DEN/BAY/CHE)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Maret 2016, di halaman 15 dengan judul “Gempa Susulan Lemah”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: