Home / Berita / arkeologi-antropologi / Covid-19 Menyingkap Kelemahan Lelaki

Covid-19 Menyingkap Kelemahan Lelaki

Covid-19, penyakit yang disebabkan virus korona baru, menyingkap kelemahan lelaki dibandingkan perempuan. Baik data global maupun di Indonesia menunjukkan, lelaki mengalami tingkat keparahan dan kematian lebih tinggi.

Data di sejumlah negara, termasuk Indonesia, menunjukkan, lelaki lebih berisiko meninggal akibat Covid-19 dibandingkan perempuan. Selain faktor perilaku, secara biologis lelaki lebih rentan jika terpapar virus korona baru ini.

Virus SARS-CoV-2 yang memicu penyakit Covid-19 tidak memilih sasarannya, termasuk jenis kelamin orang. Siapa pun yang ada dalam jangkauannya bisa terinfeksi. Faktanya, tingkat keparahan dan kematian lelaki lebih tinggi dalam pandemi ini.

Analisis terhadap 5.700 pasien Covid-19 di kota New York, Amerika Serikat, menunjukkan, lebih dari 60 persen pasien adalah lelaki. Selain itu, dari 373 pasien yang berakhir di unit perawatan intensif, 66,5 persen di antaranya merupakan lelaki.

Studi oleh Safiya Richardson dan tim di jurnal JAMA pada 22 April 2020 ini menyimpulkan, tingkat kematian lebih tinggi untuk lelaki dibandingkan pasien perempuan. Mengacu pada laporan Dinas Kesehatan Kota New York, tingkat kematian lelaki yang terpapar Covid-19 sebanyak 43 dari 100.000 orang, dibandingkan 23 kematian untuk setiap 100.000 perempuan.

Data serupa dipaparkan Lauren A Walter dan tim dalam editorial di Western Journal of Emergency Medicine pada 3 April lalu. Disebutkan, 51-66,7 persen pasien yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, China, adalah lelaki, sedangkan di Italia komposisinya 58 persen lelaki.

Secara global, 70 persen dari semua korban yang meninggal akibat Covid-19 adalah laki-laki. Riset besar terhadap lebih dari 44.600 orang dengan Covid-19 di China, lelaki yang terinfeksi dan meninggal 2,8 persen versus 1,7 persen perempuan.

Meski dengan data terbatas, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada 26 April 2020 merilis, korban jiwa akibat Covid-19 di Indonesia juga didominasi lelaki. Dari total korban meninggal pada saat itu, perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 394 lelaki dibandingkan 176 perempuan. Data Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur bahkan menunjukkan, tingkat kematian lelaki dibandingkan perempuan di daerah ini 77 persen.

Faktor perilaku
Faktor sosial, khususnya perilaku, dianggap berkontribusi meningkatkan kematian lelaki dalam kasus Covid-19. Faktor perilaku itu berkaitan dengan kebiasaan merokok yang dominan pada lelaki, selain lebih malas mencuci tangan.

”Merokok meningkatkan risiko penyakit komorbid, seperti jantung dan radang paru, sehingga menambah dampak infeksi Covid-19. Rokok juga menyebabkan sel imunitas terganggu,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Agus Dwi Susanto.

Data menunjukkan, perokok lebih rentan terdampak Covid-19. Tingkat merokok di China jauh lebih tinggi pada lelaki daripada perempuan, yaitu 288 juta lelaki dibandingkan 12,6 juta perempuan. Demikian juga di Italia, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Penelitian terhadap lebih dari 1.000 pasien di China, yang diterbitkan di New England Journal of Medicine pada 30 April lalu, menemukan bukti kuat, perokok yang menderita Covid-19 memerlukan intervensi medis intensif atau meninggal, dengan perbandingan 12,3 persen dibandingkan hanya 4,7 persen yang bukan perokok.

Perokok juga lebih rentan terhadap infeksi Covid-19 karena paru-paru mereka mengandung banyak titik rentan yang dapat dimanfaatkan oleh virus. ”Di paru-paru yang terpapar asap rokok menumpuk sejumlah besar reseptor ACE2 yang abnormal, yang dapat membuat organ rentan terhadap kerusakan yang ditimbulkan Covid-19,” kata Agus.

Padahal, infeksi Covid-19 dimulai pada reseptor ACE2, protein yang terletak di permukaan sel di seluruh tubuh, termasuk di paru-paru. Setelah menempel ke reseptor ACE2, virus akan menyuntikkan materi genetiknya ke dalam sel, bereplikasi, dan kemudian menyebar.

Kerentanan biologis
Menurut ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Manchester, Gindo Tampubolon, lebih banyaknya lelaki yang jadi korban Covid-19 tidak melulu karena faktor perilaku. Data menunjukkan, sejumlah negara dengan persentase lelaki perokok tidak lebih banyak dibandingkan perempuan, seperti Belanda, juga mengalami tingkat kematian laki-laki karena Covid-19 lebih tinggi.

”Jadi, selain faktor perilaku, pasti ada faktor biologis pada tubuh lelaki yang menyebabkan lebih rentan jika terpapar Covid-19,” ucapnya.

Dalam kajiannya di British Medical Journal (BMJ) pada tahun 2017, Kyle Sue menunjukkan, lelaki menghasilkan imunologi lebih lemah, selain memiliki banyak morbiditas, sehingga memiliki risiko mortalitas lebih tinggi jika terpapar penyakit pernapasan oleh virus. Akibatnya, lelaki memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan perempuan saat wabah sindrom pernapasan akut parah (SARS) pada tahun 2002-2003, yaitu 21,9 persen dibandingkan 13,2 persen.

Data statistik juga menunjukkan, perempuan rata-rata hidup lebih lama dibandingkan lelaki. Hal ini disebabkan lelaki cenderung mengalami hipertensi dan penyakit jantung pada usia lebih muda dibandingkan perempuan. Penyakit jantung dan hiperensi merupakan komorbid paling berisiko jika terkena Covid-19.

Menurut Gindo, fenomena ini disebabkan tubuh lelaki mengakumulasi allostatic load atau beban alostatik lebih besar dibandingkan perempuan sehingga lelaki lebih cepat meninggal. ”Setiap tekanan terhadap tubuh, baik karena sejarah infeksi penyaki maupun tekanan psikis, akan tersimpan dalam sel tubuh dan itu yang menjadi beban alosatik. Itu mempercepat penurunan fungsi sel, termasuk pada jantung,” tuturnya.

Kekebalan dan kemampuan mengelola beban alostatik perempuan yang lebih baik ini karena mereka memiliki dua kromosom X yang mengandung sebagian besar gen terkait sistem kekebalan tubuh.

Namun, daya tahan perempuan dalam menghadapi penyakit tidak bersifat universal. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2020 menunjukkan, perempuan lebih banyak yang menjadi korban influenza H1N1. Laporan ini juga menyimpulkan, perempuan dewasa yang meninggal selama pandemi flu burung H5N1 tahun 2008 mencapai 1,6 kali lebih banyak dibandingkan lelaki.

Kajian Sabra L Klein yang dipublikasikan di jurnal Leukocyte Biology pada 2012 menyebutkan, selama infeksi virus influenza, perempuan mengalami induksi respons proinflamasi yang lebih besar dibandingkan lelaki. Respons proinflamasi yang meningkat ini dapat mengaktivasi sel-sel inflamasi, protein, dan pada akhirnya meningkatkan risiko imunopatologi pada perempuan dibandingkan lelaki.

Dengan demikian, imunitas yang lebih tinggi pada perempuan ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, hal itu bisa memberikan perlindungan terhadap virus, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan imunopatologi dan autoimunitas. Dalam kasus menghadapi virus influenza, respons ini justru bisa meningkatkan risiko kematian pada perempuan, tetapi terbukti sebaliknya saat menghadapi Covid-19.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 6 Mei 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: