CEO Grab Anthony Tan; Solusi untuk Asia Tenggara

- Editor

Senin, 15 Februari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aksesibilitas transportasi lokal masih menjadi persoalan bagi sejumlah negara di Asia Tenggara. Grab menawarkan solusi atas problem transportasi melalui layanan berbasis dalam jaringan atau daring. Kini, bisnis itu kian tumbuh dengan 1,5 juta pengguna aplikasi per hari.

Sejak diluncurkan pada 2012, Grab berevolusi dari aplikasi sederhana untuk pemesanan taksi menjadi perusahaan penyedia layanan transportasi darat. Model usaha transportasi berkembang menjadi penyewaan kendaraan pribadi (GrabCar), ojek (GrabBike), carpooling (GrabHitch), dan layanan pemesanan kurir (GrabExpress).

Layanan Grab kini menjangkau 28 kota di Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam dengan lebih dari 200.000 pengemudi dan diunduh pada 11 juta perangkat. Penduduk Asia Tenggara yang berjumlah 620 juta orang, melebihi populasi penduduk Uni Eropa dan Amerika Utara, menjadi fokus pasar Grab. Peluang pasar ditaksir senilai 25 miliar dollar AS untuk layanan transportasi taksi, mobil, dan sepeda motor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Group CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan memaparkan harapan dan targetnya dalam wawancara dengan Kompas dan beberapa media dari Indonesia, akhir Januari lalu, di Singapura. Wawancara dilakukan di sela-sela peluncuran penggantian merek Grab Taxi menjadi Grab.

Anthony (34) meyakini, kemampuan membaca problem lokal telah mendorong bisnis layanan berbasis aplikasi itu tumbuh pesat. Sejak pertengahan 2015, jumlah pengguna Grab di Asia Tenggara rata-rata tumbuh 35 persen per bulan untuk layanan GrabCar dan 75 persen untuk GrabBike. Pertumbuhan pasar di Indonesia tergolong paling pesat.

Bersama koleganya yang juga pendiri Grab, Tan Hooi Ling, Anthony telah mengumpulkan dana pengembangan bisnis 700 juta dollar AS pada periode April 2014 hingga Agustus 2015. Dana investasi itu dihimpun antara lain dari perbankan, China Investment Coporation asal Tiongkok, Vertex Ventures Holdings (Grup Temasek), Tiger Global (Singapura), dan Hillhouse Capital (Hongkong).

Bagi laki-laki kelahiran Malaysia itu, investasi dalam riset, pengembangan, dan teknologi konsisten dilakukan untuk menghasilkan efisiensi. Melalui efisiensi, modal besar, dan teknologi, Grab berkomitmen menghadirkan pilihan transportasi yang mengedepankan keamanan konsumen dan pengemudi.

Grab bahkan membidik target untuk mendominasi pasar Asia Tenggara.

8fe72f3bce184c039a27fce3f2971360KOMPAS/BM LUKITA GRAHADYARINI

Demikian petikan wawancara dengan Anthony Tan.

Mengapa Anda fokus menggarap Asia Tenggara sebagai pasar utama?

Asia Tenggara adalah rumah kami. Saya pernah tinggal di Thailand, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Ini adalah pasar yang kami pahami. Pasar di mana kami bekerja sama dengan pemerintah untuk berinovasi dalam industri. Saya percaya filosofi bahwa berpikir lokal akan menang. Kami mempelajari karakter masyarakat lokal untuk menyelesaikan problem lokal. Kami mengupayakan bisnis ini bisa mempercepat penyelesaian problem transportasi lebih cepat. Kami tidak hanya membantu komunitas, tetapi juga membantu kota. Pada masa depan, yang dibutuhkan hanya perangkat telepon seluler. Lalu, tentukan ke mana mau pergi. Kami selalu ingin berkolaborasi dengan pemerintah untuk dapat memecahkan masalah lokal bersama-sama. Yang terpenting dalam bisnis ini adalah, apakah kami memiliki jejaring, sejauh mana kami memahami persoalan lokal, dan memiliki orang-orang terbaik untuk memecahkan problem lokal di bidang transportasi.

Beberapa negara di Asia Tenggara berbenah dalam hal infrastruktur dan transportasi. Bagaimana Anda melihat problem lokal transportasi?

Kami fokus pada hal yang berbeda di setiap negara. Misalnya, kondisi Indonesia berbeda dengan Singapura. Tingkat pembangunannya berbeda. Di Singapura, semua terkait dengan kecepatan. Semua orang tidak punya waktu, serba tergesa-gesa. Di Indonesia, masyarakat lebih peduli terhadap harga, penggunaan GrabCar lebih banyak. Maka, kami harus mencari solusi untuk transportasi yang lebih murah. Kami berupaya memberi opsi lebih terhadap transportasi masyarakat.

Bisnis ini mengutamakan keamanan. Pengemudi kami semuanya memiliki surat izin mengemudi dan asuransi supaya aman berkendara. Kami juga membantu mereka dalam pembiayaan kendaraan. Kami yakin jika pengemudi bisa meningkatkan kualitas kendaraan menjadi lebih baik, keamanan berkendara juga lebih terjamin. Kualitas kendaraan yang lebih baik berarti keamanan lebih terjaga. Kami percaya jika kami peduli terhadap pengemudi, pengemudi juga akan peduli kepada penumpang.

Ada kalangan yang menyebutkan, Grab melakukan perang harga dengan kompetitor. Apakah ada subsidi tarif?

Saat ini, kami tidak mau berkomentar soal tarif. Buat kami, ini bukan hanya soal subsidi (tarif), melainkan bagaimana meningkatkan pelayanan. Konsumen adalah bos kami. Kami berupaya mengoptimalkan teknologi dan penggunaan data ilmiah untuk membawa kemajuan bisnis. Itu sebabnya kami membangun international engineering center di tiga negara, yakni Seattle (Amerika Serikat), Beijing (Tiongkok), dan Singapura. Kami berupaya menerapkan efisiensi sehingga pengemudi bisa menarik lebih banyak penumpang dan menghasilkan uang meskipun dengan tarif lebih rendah. Jika pengemudi melayani 10 konsumen setiap hari, tidak perlu ada subsidi tarif. Kekuatan teknologi menjadi inti.

Melalui efisiensi, kami memperoleh pendapatan berkali-kali lipat. Kami ingin menyerap lebih banyak tenaga kerja, membentuk komunitas yang hebat, melakukan investasi lebih banyak, dan mempekerjakan orang-orang berbakat. Bagi para investor, mereka tidak berpikir investasi jangka pendek 5-10 tahun, tetapi jangka panjang sampai 30-50 tahun.

Tantangan apa yang dihadapi?

Bisnis kami untuk jangka panjang dan tantangannya bagaimana kami memenuhi itu. Kami berupaya agar sarana kami bisa diakses semua kalangan, termasuk kaum disabilitas, orang berkebutuhan khusus, lansia, dan pengguna kursi roda. Kami berusaha mencari solusi yang tepat untuk mengatasi ini. Kami juga harus memastikan tidak ada pihak yang merasa ditinggalkan, termasuk mitra kami, yaitu pengemudi, penumpang, dan komunitas. Transportasi harus bisa diakses semua orang. Bagaimana membuat Asia Tenggara menjadi kawasan yang lebih baik.

Apakah Anda pernah memanfaatkan Grab saat berkunjung ke Indonesia?

Saat berkunjung ke Jakarta, saya melihat kemacetan luar biasa sampai 3-4 jam. Untuk menuju Bandara Soekarno-Hatta, saya sering naik GrabBike menuju jalan tol. Dari pintu tol, (perjalanan) dilanjutkan dengan GrabCar.

BM LUKITA GRAHADYARINI
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Februari 2016, di halaman 20 dengan judul “Solusi untuk Asia Tenggara”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 31 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB