Catatan Iptek; Tambora 200 Tahun

- Editor

Rabu, 8 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus hebat. Dunia Barat didera ”tahun tanpa musim panas” setahun setelah itu. Belakangan, mereka mengenal Tambora sebagai, ”…penyebab krisis kemanusiaan terbesar pada era modern” (Clive Oppenheimer, 2003). Tahun-tahun setelah letusan itu juga dikenal di Barat sebagai ”Eighteen Hundred and Froze to Death” (Erik Conway, 2009).

Kegagalan panen dan wabah penyakit menular seperti tipus, disentri, hingga kolera, yang kemudian melanda dunia, menempatkan Tambora sebagai pembunuh global. Di Nusantara, dampak letusan melenyapkan dua kerajaan di lerengnya, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, serta menghancurkan Kerajaan Sanggar. Kehancuran dan kematian massal juga melanda Lombok dan Bali hingga bertahun-tahun kemudian.

Jika kehancuran di sekitar Tambora disebabkan terpaan awan panas, kematian massal berskala global justru disebabkan pendinginan Bumi pasca letusan. Total penurunan suhu Bumi mencapai 0,4–0,7 derajat celsius (Richard B Stother, 1984), tetapi di beberapa tempat lebih tinggi, seperti di New England dan Selat Inggris yang turun hingga 2,5 derajat celsius (Sigurdsson, 2000). Dampaknya adalah kegagalan panen global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemanasan dan pendinginan
Menurut Sigurdsson (2000), Benjamin Franklin kemungkinan adalah orang pertama yang menghubungkan letusan gunung api dengan anomali cuaca, ketika tahun 1784 dia menemukan ”kabut basah” dan musim dingin tak biasa yang melanda Eropa. Franklin berspekulasi bahwa kabut itulah yang mendinginkan musim panas, berasal dari asap tabrakan meteor atau letusan gunung api di Iceland (Gunung Laki meletus pada 1783).

1415539363Hipotesis itu terkonfirmasi ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus tahun 1883 dan menciptakan perubahan cuaca global. Saat itu dunia telah terhubung oleh teknologi telegraf sehingga kabar letusannya mendunia dalam waktu singkat. Orang dengan cepat bisa menghubungkan langit jingga dan anomali cuaca di berbagai belahan dunia dengan letusan Krakatau.

Sebaliknya, letusan Tambora pada 1815 nyaris tak diketahui masyarakat Barat. Selama lebih dari seratus tahun, mereka tidak tahu penyebab ”tahun tanpa musim panas” pada 1816.

Baru pada tahun 1920-an, WJ Humphreys, peneliti di kantor meteorologi AS, menemukan hubungan antara cuaca buruk pada 1816 dan letusan Tambora. Dia berteori, abu yang terlontar telah menghalangi sinar matahari ke Bumi. Teori itu belakangan dibantah ahli lain yang menyatakan bahwa pendinginan bumi tersebut disebabkan aerosol asam sulfat dari Tambora.

Setelah itu, pada 1960-an, ahli meteorologi Hubert Lamb membuat indeks yang membandingkan jumlah semburan partikel gunung api saat meletus sehingga dampak letusan terhadap iklim bisa diukur. Erupsi Krakatau pada 1883 berada di indeks 1.000. Letusan Tambora memiliki skor tertinggi, 4.200.

Kini, para ilmuwan mengetahui, gunung api berpengaruh terhadap perubahan iklim global dalam dua cara; memanaskan sekaligus mendinginkan. Karbon dioksida yang rutin dikeluarkan gunung api dalam aktivitasnya menyumbang gas rumah kaca sehingga berpotensi menyebabkan pemanasan global. Namun, menurut hitungan Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), sumbangan emisi karbon seluruh gunung api dunia relatif kecil, hanya 0,26 giga ton per tahun, dibandingkan dengan emisi dari faktor antropogenik yang 35 giga ton per tahun.

Gunung api lebih signifikan mendinginkan Bumi. Selama letusan besar, sejumlah gas, aerosol, dan abu dilontarkan ke stratosfer. Abu yang dilontarkan akan cepat jatuh sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim. Namun, gas-gas vulkanik, seperti sulfur dioksida, mampu memantulkan sinar matahari sehingga berdampak pada pendinginan Bumi.(AHMAD ARIF)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Tambora 200 Tahun”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Terkubur untuk Hidup
Berita ini 43 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB