Catatan Iptek; Menghalau Rokok

- Editor

Jumat, 5 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tahun 1987, ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mencanangkan Hari Tanpa Tembakau, masyarakat dunia memang dalam genggaman industri rokok. Kala itu, rokok dengan tembakau sebagai bahan baku utama seakan menjadi simbol utama kekuasaan, kekayaan, dan ketenaran.

Kesadaran akan bahaya rokok muncul ketika berbagai penyakit tidak menular terus meningkat signifikan. Disebut epidemi tembakau, para ahli kesehatan menemukan keterkaitan penyakit yang erat dengan rokok: gangguan paru obstruktif kronik sampai kanker, jantung koroner, pembuluh darah, hingga gangguan kehamilan dan pertumbuhan.

Selain berdampak buruk pada perokok, asap rokok ternyata juga memengaruhi kesehatan orang di sekitarnya. Sebagai perokok pasif, mereka sama rentannya terhadap 400 lebih senyawa kimia beracun—43 di antaranya bersifat karsinogenik—yang menyebar bersama asap rokok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rokok telah menyebabkan kematian sekitar 6.000.000 orang setiap tahunnya, dengan 600.000 di antaranya perokok pasif. Maka, berawal dengan Hari Tanpa Tembakau yang diperingati setiap 31 Mei, WHO terus mengeluarkan berbagai kebijakan yang mengurangi kebebasan industri rokok. Meski sambutan yang antusias sama banyaknya dengan yang melawan, ratifikasi kebijakan anti tembakau terus berlangsung di sejumlah negara.

Sepanjang 1987-2015, berbagai program dan slogan diluncurkan. Mulai dari perempuan tanpa tembakau, membebaskan anak dan remaja dari bahaya, tembakau adalah siklus kemiskinan, hingga Kerangka Konvensi yang Mengontrol Tembakau.

Sepanjang itu pula berbagai upaya untuk menurunkan angka perokok terus bermunculan. Dari melarang penjualan rokok di kawasan dekat sekolah, menghentikan iklan pada jam tayang utama, sampai membatasi perokok di kawasan publik.

Namun, setelah 28 tahun Hari Tanpa Tembakau diperingati, kenyataannya masih saja memprihatinkan, terutama di negara berkembang. Ketika peraturan semakin menjerat di negara maju—terutama Amerika Serikat yang pernah menjadi surga perokok—industri rokok memindahkan produksinya ke negara berkembang yang masih longgar, termasuk Indonesia. Tidaklah mengherankan apabila jumlah perokok nasional ataupun global terus meningkat.

Indonesia peringkat ketiga
Jika sampai tahun 2009 tingkat konsumsi rokok di Indonesia masih menempati peringkat keempat dunia, sejak tahun 2013 Indonesia sudah menempati peringkat ketiga dunia. Hanya kalah dengan Tiongkok dan India yang jumlah penduduknya memang jauh lebih banyak.

Riset Kesehatan Dasar menunjukkan, perokok pemula usia remaja (10-14 tahun) naik dua kali lipat dalam 10 tahun. Jika tahun 2001 hanya 5,9 persen, tahun 2010 menjadi 17,5 persen. Namun, pada perokok pemula dengan usia lebih tua (15-19 tahun) terjadi penurunan dari 58,9 persen menjadi 43,3 persen. Artinya, perokok pemula menjadi semakin muda yang membuat ketergantungan terhadap rokok semakin kuat dan risiko terkena epidemi tembakau semakin tinggi.

Kondisi itu kian diperparah dengan kelas menengah ke bawah yang masih memprioritaskan belanja rokok di atas belanja bahan makanan yang menyehatkan ataupun pendidikan. Menurut penelitian Abdullah Ahsan dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia, porsi belanja rokok hanya kalah dengan belanja beras.

Dampaknya tentu saja adalah membengkaknya biaya kesehatan. Menteri Kesehatan Nila Djuwita Anfasa Moeloek menyebutkan, akibat merokok, kejadian penyakit tidak menular terus meningkat dan menjadi beban ekonomi (Kompas, 28/5/2015). Maka, 30 persen pembiayaan rawat inap dan 10 persen rawat jalan yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terserap untuk mengobati penyakit tidak menular ini. Tanpa intervensi, keuangan negara jelas terbebani.

Namun, selama pemerintah masih terlena dengan cukai puluhan triliun rupiah dari industri rokok, angka kesakitan dan kematian akibat rokok tampaknya hanya statistik belaka.–Agnes Aristiarini
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Menghalau Rokok”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB